Bupati: Kami Tunggu Keseriusan BBWS Brantas untuk Kalimati

BANGIL – Rencana pemerintah untuk memfungsikan Bangiltak atau Kalimati, di wilayah Kedungringin, Kecamatan Beji tidak akan mudah. Karena dibutuhkan dana besar untuk merealisasikannya.

Bukan hanya untuk dana pengerukan sungai yang penuh dengan sedimentasi itu. Tetapi juga untuk merelokasi warga, yang ada di tepian sungai.

Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf mengaku, banyak hal yang harus dilakukan, jika ingin memanfaatkan kalimati. Selain pendekatan kepada warga yang terdampak, juga dukungan sarana dan prasarana penunjang bagi warga.

Seperti pembangunan rusunawa bagi mereka yang terdampak. Biaya untuk itu semua, tentu tidak akan murah. Karena bisa menelan miliaran rupiah. “Karena itulah, kami menunggu keseriusan BBWS Brantas untuk mewujudkannya,” jelas Irsyad.

Ia menambahkan, dampak pengerukan Kalimati, bukan hanya dirasakan warga Kedungringin, Kecamatan Beji dan sekitarnya. Tetapi juga, akan dirasakan warga Sidoarjo.

Sebab, selain berada di wilayah Kabupaten Pasuruan, jalur sungai setempat, juga masuk wilayah Sidoarjo.

“Kalimati itu berada di perbatasan Kabupaten Pasuruan dengan Sidoarjo. Khususnya, wilayah Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan dengan Jabon, Kabupaten Sidoarjo,” sambung dia.

Kepala Dinas PU Sumberdaya Air dan Tata Ruang Kabupaten Pasuruan, Hanung Widya Sasangka mengaku, panjang Kalimati mencapai 12 kilometer. Lebar sungai itu sendiri bisa mencapai 80 meter.

Pengerukan Kalimati bisa menekan ancaman banjir yang kerap terjadi di wilayah Beji dan Bangil. Karena air yang mengalir dari Sungai Wrati bisa dipecah ke sungai setempat.

Hanya memang, biaya yang dikeluarkan tidaklah murah. Bisa mencapai ratusan juta. “Sosialisasi-sosialisasi sedang kami lakukan,” pungkasnya. (one/fun)