Sebelum Lurug Pendapa, Warga Minta Polisi Tilang Truk yang Lewat di Jalan Kelas III

PROTES: Warga ikut menyetop sejumlah kendaraan dan meminta polisi untuk menilang sopir-sopir yang diduga melanggar rambu kelas jalan di kawasan jalan Rangge, Gondangwetan, Rabu (26/6) pagi. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PASURUAN – Kerusakan jalan yang ada di Kabupaten Pasuruan membuat jengah masyarakat. Alhasil, Rabu (26/6) sejumlah aktivis menggelar aksi unjuk rasa di pendapa Kabupaten Pasuruan. Mereka menuntut agar pemkab segera memperbaiki jalan rusak dan menindak tegas penambangan liar.

Uniknya, sebelum menuju ke pendapa, massa yang jumlahnya ada ratusan orang tersebut sempat beraksi di tiga titik. Yakni di kawasan Desa Kedawungkulon, Kecamatan Grati; di jalur Gondangwetan-Winongan, yaitu di Desa Mendalan, Winongan dan simpang tiga Rangge, Gondangwetan.. Disana, massa menyetop kendaraan besar di tiga titik ruas jalan. Yakni, jalan Ngopak-Winongan tepatnya di

BERGESER PENDAPA: Setelah aksi di Gondangwetan, warga lalu bergerak ke Pendopo Bupati Pasuruan. Aksi itu mendapat pengawalan ketat petugas kepolisian. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, aksi protes warga tersebut sempat menutup jalan. Kendaraan jenis truk besar mereka hentikan. Penghentian paksa ini dilakukan hanya bagi truk-truk besar over kapasitas yang melintas. Ada enam truk yang sempat dihentikan paksa, tersebut terdiri dari lima truk bermuatan air mineral dan satu mengangkut sirtu hasil penambangan. Kepada petugas polisi yang berjaga di lokasi, mereka juga memaksa petugas menilang kendaraan-kendaraan tersebut.

Setelah tuntutan penilangan dipenuhi, massa lalu bergerak melakukan aksi berikutnya. Sambil mengendarai kendaraan bermotor, mereka beramai-ramai menuju ke Pendopo Bupati Pasuruan di Jalan alun-alun Timur Pasuruan. Perjalanan mereka pun dikawal sejumlah aparat kepolisian.

Tepat di depan gerbang masuk pendapa, pengunjuk rasa langsung menggelar tahlilan lalu berorasi. Dalam orasinya, mereka menagih janji pemerintah untuk segera melakukan perbaikan jalan. Terdapat sejumlah titik ruas jalan yang kondisinya memprihatikan. Mulai kawasan Gondangwetan, Winongan dan juga Kedawungwetan, Grati.

Di ruas ini banyak dijumpai jalan berlubang yang membahayakan para pengguna jalan.

Tak hanya itu, pengunjuk rasa juga meminta Bupati Pasuruan untuk bertindak tegas menertibkan tambang-tambang liar yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan. Khususnya penambangan di kawasan sumber mata air Umbulan, Winongan.

“Sedikitnya terdapat sembilan kawasan penambangan sirtu di Winongan yang berdekatan dengan sumber mata air Umbulan. Dari sembilan itu hanya dua saja yang mengantongi izin. Ini kalau dibiarkan tentu akan sangat membahayakan kelangsungan sumber mata air Umbulan,” terang Hanan, perwakilan pengunjuk rasa.

Massa berharap agar pemerintah setempat melakukan upaya untuk menginventarisir seluruh tambang. Pemkab juga diminta tidak gampang memberikan rekomendasi penambangan di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Sayang, aksi tersebut tak mendapatkan tanggapan. Tidak satupun dari pihak pemkab menemui mereka. Disaat bersamaan, di dalam pendopo juga berlangsung kegiatan halal-bihalal para pensiunan yang tergabung dalam persatuan wredatama republik Indonesia (PWRI) Pasuruan.

Lantaran kecewa tak ditemui, para pengunjuk rasa ini mengancam akan melakukan penutupan jalan selama 24 jam jika tuntutan mereka tidak segera ditindak lanjuti. Mereka bahkan akan menagih ketegasan kelanjutan penutupan penambangan liar lepada pihak kepolisian Polres dan Polresta Pasuruan.

“Bila ini tidak segera ditindak lanjuti, kami juga tak segan-segan akan mendatangi Polres Pasuruan dan Polresta Pasuruan untuk menanyakan kelanjutan penutupan tambang yang sudah di-police line beberapa waktu lalu,” imbuh Hanan.

Para pengunjukj rasa juga menuntut kepolisian dan Dishub Kabupaten Pasuruan agar tidak tebang pilih dalam menindak angkutan umum atau barang yang jelas-jelas melanggar rambu kelas III jalan yang melintas khususnya di kawasan Jalan Winongan.

Aksi protes warga tersebut mendapat pengawalan ketat dari sejumlah satuan pengamanan. Mulai dari satpol PP dan DLLAJ Pemkab Pasuruan hingga satuan kepolisian.

Kasat Sabhara Polresta Pasuruan AKP Tatuk Slamet Irianto mengungkapkan, sedikitnya ada 60 personel diterjunkan untuk melakukan pengamanan tersebut. (ube/fun)