Prof Ahli Kesehatan dari Australia Kunjungi RSUD Bangil, Ini Tujuannya

KUNJUNGAN: Prof. Dr Mohammad Afzal Mahmood, senior Lecturer School of Public Health University of Adelaide Australia (pakai jas) saat meninjau pelayanan kesehatan pada ibu hamil di RSUD Bangil, Rabu (26/6).

Related Post

BANGIL – Kasus kematian ibu dan bayi yang masih banyak terjadi di Kabupaten Pasuruan, menjadi perhatian. Rabu (26/6), ahli kesehatan dari Australia meninjau kondisi pelayanan di RSUD Bangil.

Peninjauan itu dilakukan untuk mengetahui penanganan ibu hamil yang mau melahirkan serta bayi yang baru dilahirkan di RS pelat merah itu. Kunjungan yang dilakukan oleh Prof. Dr Mohammad Afzal Mahmood, senior Lecturer School of Public Health University of Adelaide Australia itu, juga untuk sharing dalam menangani pasien yang akan melahirkan.

Direktur RSUD Bangil Loembini Pedjati Lajoeng menyampaikan, kehadiran Prof Afzal merupakan langkah jalinan kerja sama dalam peningkatan kualitas pelayanan ibu hamil dan anak baru lahir di Pasuruan. Selain melakukan riset, Profesor Afzal juga memberikan masukan-masukan dalam penanganan pasien.

Loembini menyebutkan, banyak pasien ibu hamil yang ditangani di RSUD Bangil. Setiap harinya, bisa mencapai 20 orang. Sayangnya, dari jumlah itu, ada sebagian yang akhirnya tak bisa terselamatkan.

Sepanjang Januari hingga Juni 2019, tercatat setidaknya ada tiga ibu hamil meninggal dunia saat proses melahirkan. “Faktornya beragam. Rata-rata karena penyakit bawaan. Seperti jantung, darah tinggi, ataupun lainnya,” sampainya.

Padahal, pemerintah memiliki program agar angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) bisa ditekan. Bahkan, bila dimungkinkan, bisa zero kematian AKB dan AKI.

“Kehadiran beliau, diharapkan bisa memberikan masukan untuk bisa menekan tingkat AKB dan AKI seminimal mungkin. Kalau bisa, bahkan zero AKB dan AKI. Hal ini seperti yang diprogramkan Bupati,” sambungnya.

Sementara itu, Profesor Afzal mengungkapkan, ada tiga kunci yang harus dilakukan dalam optimalisasi pelayanan di RSUD Bangil. Selain komunikasi yang baik, juga adanya kekuatan team work serta menjaga prosedur kesehatan.

“Tidak bisa hanya individu saja. Ada tiga kunci yang harus dilakukan. Selain kolaborasi tim yang baik, juga komunikasi yang baik serta prosedur kesehatan yang harus dijaga,” jelasnya. (one/mie)