Dinkes Kota Probolinggo Intensifkan Sosialisasi PPIA

BERBAGI ILMU: Dokter Maria Diah Zakiyah, Sp.Og., berbagi ilmu dalam workshop PPIA di gedung Manggala Bhakti Pemkot Probolinggo, Rabu (26/6). (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PROBOLINGGO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Probolinggo terus berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang lahir di Kota Probolinggo. Salah satunya dengan mengintensifkan sosialisasi Pencegahan Penularan Penyakit dari Ibu ke Anak (PPIA).

Rabu (26/6), Dinkes menggelar Workshop tentang PPIA dan Pemeriksaan HIV pada Ibu Hamil dan Suami di Kota Probolinggo. Acara yang diikuti 100 pasangan suami-istri ini digelar di gedung Puri Manggala Bhakti Pemkot Probolinggo.

SAMBUTAN: Kepala Dinkes Kota Probolinggo drg. Ninik Irawibawati memberikan sambutan dalam Workshop tentang PPIA dan Pemeriksaan HIV pada Ibu Hamil dan Suami di Kota Probolinggo. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Ratusan peserta itu, mendapatkan ilmu penting dari dua narasumber. Yakni, dr. Maria Diah Zakiyah, Sp.Og. dari RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo dan dokter umum dari Puskesmas Sukabumi, dr. Asih Apriliya.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Probolinggo dr. Nurul Hasanah Hidayati mengatakan, workshop ini bertujuan meningkatkan pemahaman ibu hamil dan suami tentang pencegahan penularan penyakit dari ibu kepada anak. “Harapannya meningkatkan kualitas ibu dan anak yang terinfeksi HIV serta menurunkan tingkat kematian karena HIV,” ujarnya.

CEGAH PENULARAN PENYAKIT: Dokter Umum Puskesmas Sukabumi Asih Apriliya menyampaikan pentingnya ibu hamil melakukan screening tes. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Probolinggo drg. Ninik Irawibawati mengatakan, workshop ini bertujuan memberikan ilmu tentang pencegahan penularan penyakit dari ibu kepada anak. “Ibu hamil termasuk rentan terinfeksi HIV/AIDS. Seperti telah kita ketahui, pemeriksaan ibu hamil di pelayanan kesehatan sesuai standar minimal 4 kali,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu faktor risiko penularan HIV/AIDS adalah melalui air susu ibu dari ibu pengidap HIV kepada anak selama masa kehamilan, masa persalinan, dan menyusui. salah satu upaya mencegah penularan HIV dari ibu ke anak adalah melaksanakan kegiatan 4 kompenen melalui rekomendasi WHO tahun 2010.

“Semua ibu hamil ditawarkan tes HIV, kemudian pemberian antiretroviral (ARV), pemilihan kontrasepsi bagi perempuan pengidap HIV positif, pemilihan persalinan aman bagi ibu hamil positif HIV,” jelasnya.

SEHAT BERSAMA: Peserta workshop tentang PPIA melakukan peregangan sebelum melanjutkan acara. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Sementara itu, dr Maria Diah Zakiyah, Sp.Og. menjelaskan tentang kebijakan eliminasi penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B. Upaya eliminasi tiga penyakit itu tidak lepas untuk meningkatkan kualitas kesehatan bayi yang lahir. “Setiap anak berhak dilahirkan dalam kondisi sehat. Salah satu faktor pendukung lahirnya bayi sehat adalah ibu yang sehat juga,” ujarnya.

Dokter Diah menjelaskan, ada kebiasaan masyarakat yang takut dengan pemeriksaan kesehatan. Yakni, takut jika ketahuan penyakitnya. “Padahal, sejatinya jika diketahui ada penyakitnya, maka bisa ditangani lebih cepat. Tidak terlambat proses penanganannya,” jelasnya.

Sedangkan, dr. Asih Apriliya menjelaskan, pentingnya dilakukan tripel eliminasi terhadap tiga penyakit. Yakni, HIV, sifilis, dan hepatitis B. Karenanya, penting bagi ibu hamil melakukan screening tes untuk memastikan tidak ada yang mengalami atau positif menderita tiga penyakit tersebut.

“Jangan takut untuk melakukan screening tes. Misalnya takut diketahui tetangganya karena petugas medis wajib menjaga rahasia pasien yang menderita HIV, sifilis, dan hepatitis B. Dengan dilakukan screening tes, maka jika terdeteksi penyakit tertentu, bisa segera tertangani,” jelasnya. (put/*)