Dari Januari-Juni, LPA Terima Tujuh Laporan Kekerasan Anak

PASURUAN – Kekerasan pada anak di Kabupaten Pasuruan rupanya masih mengancam. Betapa tidak, sepanjang 2019, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Pasuruan mencatat ada tujuh laporan kekerasan pada anak.

Wakil Ketua LPA Kabupaten Pasuruan Daniel Polozakan mengungkapkan, jumlah kekerasan pada anak di Kabupaten Pasuruan sepanjang 2017 tercatat 34 kali. Jumlah ini, menurun lipat dua pada tahun 2018. Saat itu laporan yang masuk 17 kasus.

Sampai akhir Juni 2019, laporan kekerasan anak di Kabupaten Pasuruan ada tujuh kasus. Kekerasan ini beragam, mulai dari persetubuhan, pencabulan, hingga pemerkosaan. Rata-rata, pelakunya didominasi orang terdekat.

“Mulai dari teman maupun tetangga. Ini, sangat memprihatinkan. Ini, menunjukkan jika Pasuruan sudah masuk kategori darurat kekerasan pada anak,” ungkapnya.

Daniel menjelaskan, kondisi ini tidak terlepas dari lemahnya pengawasan orang tua maupun wali terdekat pada anak. Pihaknya pun berharap agar setiap kecamatan memperhatikan hal ini. Misalnya dengan memberikan pemahaman tentang cara pengawasan yang benar.

Menurutnya, LPA sendiri selalu melakukan pendampingan pada korban kekerasan. Pendampingan ini akan terus dilakukan sampai psikis dan mental korban pulih seperti sediakala. Termasuk, jika diperlukan, LPA melakukan antar-jemput korban ke sekolah.

Pihaknya berharap adanya sosialisasi yang lebih masif pada orang tua. Baik melalui pemerintah daerah maupun kecamatan dan desa. Utamanya terkait tata cara pola asuh pada anak. Tujuannya, untuk mengamankan anak-anak Pasuruan.

“Kami berharap pemerintah pusat ikut turun tangan. Karena kekerasan pada anak itu merupakan kejahatan luar biasa. Harus segera ada langkah dan penanganan yang konkret,” terang Daniel. (riz/fun)