Ibu dan Dua Anak di Beji Ini Sama-Sama Lolos Jadi Anggota Dewan, Lengkap dari DPR RI-DPR Provinsi dan DPR Daerah

Lolos menjadi anggota dewan, merupakan hal yang membanggakan. Apalagi, bila ibu dan dua anak bisa lolos sekaligus. Itulah yang terjadi pada Hj. Anisah Syakur dan dua putranya, Ahmad Hilmy dan Saad Muafi.

————-

Hj. Anisah Syakur tampak semringah. Senyumnya mengembang ketika Jawa Pos Radar Bromo bertandang ke rumah salah satu anaknya di Sidowayah, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Rasa bahagia terlihat dari wajahnya.

SUKA POLITIK: Anisah Syakur dan Saad Muafi saat berada di kediaman Muafi di Sidowayah, Beji. (Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Ungkapan bahagia itu, diluapkan pula dengan rasa syukur yang berkali-kali diucapkannya. “Alhamdulillah, anak-anak saya sukses,” akunya.

Anisah Syakur memang boleh berbangga. Bukan hanya karena dirinya lolos ke Senayan menjadi anggota DPR RI. Dua anaknya pun lolos berebut kursi anggota dewan di daerah.

Mereka adalah Ahmad Hilmy yang lolos menjadi anggota DPRD Provinsi Jatim dan Saad Muafi yang lolos menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan.

Lolosnya kedua putranya itu, benar-benar tak disangkanya.

Karena semula, ia memperkirakan hanya dia dan Hilmy yang lolos menjadi dewan.

“Tapi ternyata, Muafi juga lolos. Bahkan, lebih awal diketahui perhitungannya ketimbang kami,” ujar Anisah Syakur.

Ia mengaku, rasa optimistis bisa lolos ke Senayan memang ada. Bahkan, perolehan suaranya diyakini tinggi. Hal itu berkaca dari pengalamannya saat Pileg 2014.

Ketika itu, ia ikut kontestasi pileg Provinsi Jatim. Ia maju dari daerah pemilihan (dapil) Jatim II. Yaitu, Pasuruan Kota dan Kabupaten serta Probolinggo Kota dan Kabupaten. Hasilnya, kursi yang diraihnya mencapai 98 ribu. Jumlah itu, menjadi yang terbanyak dari caleg lain di daerah pemilihannya.

Pada Pileg 2019 ini, Anisa naik ke jenjang yang lebih tinggi. Dia nyaleg untuk kursi DPR RI. Tujuannya, memberi kesempatan bagi yang lain untuk maju di DPRD Jawa Timur.

Ia pun yakin bisa lolos dan meraih banyak suara ke Senayan. Walaupun hasilnya memang sedikit mengecewakan. Sebab, dia hanya mampu mendulang 62.246 suara.

“Meski begitu, saya bersyukur masih bisa lolos ke DPR RI,” tambah perempuan 70 tahun yang sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan tiga periode dan dua periode anggota DPRD Provinsi Jatim itu.

Ia mengakui, perebutan suara tahun ini memang ketat. Ia harus bekerja ekstra untuk mendulang pemilih. Maklum, pesaingnya terbilang berat. Beberapa di antaranya merupakan incumbent.

“Kami menggandeng jaringan-jaringan muslimat untuk bisa mendongkrak suara,” sambungnya.

Kesuksesan yang diraihnya, juga didapatkan anaknya, Hilmy dan Muafi. Hilmy berhasil masuk dan lolos menjadi anggota DPRD Provinsi Jatim setelah menjadi bagian dari pengurus PKB.

Padahal sebelumnya, Hilmy tidak berminat untuk terjun di dunia politik. Ia akhirnya memberanikan diri setelah melihat rekan-rekan seangkatannya di PMII banyak yang terjun ke dunia politik. Seperti Thoriq yang menjadi bupati Lumajang, Badru Tamam yang menjadi bupati Pamekasan, dan beberapa teman-temannya yang lain.

Kesuksesan teman-temannya itulah, membuat Hilmy kepincut terjun di dunia politik. Terlebih, ketika itu ia diberi kesempatan untuk menjadi Ketua Barak Bangsa DPW Jatim. Barak Bansa sendiri merupakan sayap NU yang mengakomodasi komunitas-komunitas. Baik komunitas motor, band, dan berbagai komunitas lain di Jatim.

“Mulanya ia tak tertarik untuk terjun di politik. Baru setelah banyak temannya yang sukses, ia tergerak,” sambung Anisah Syakur yang menyebut Hilmy berkarir sebagai pengajar di wilayah Pasuruan.

Hingga kemudian, Hilmy didapuk menjadi Wakil Ketua DPW PKB Jatim. Dari situlah, ia mulai meniti karir untuk menjadi anggota dewan.

Hal itu diwujudkan pada Pileg 2019. Di mana, ia maju sebagai calon anggota DPRD Provinsi Jatim, Dapil 3. Yaitu, Kota dan Kabupaten Pasuruan serta Kota dan Kabupaten Probolinggo.

Hasilnya, anak kedua dari enam bersaudara itu mendulang 49.068 suara. Perolehan itu, mengantarkannya menjadi caleg yang lolos untuk menduduki kursi DPRD Provinsi Jatim.

“Tahun ini merupakan kali pertama ia mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Alhamdulillah, ia langsung lolos,” syukurnya.

Cerita berbeda dirasakan Saad Muafi. Muafi –sapaannya- mengaku, sempat dua kali gagal menjadi anggota dewan. Muafi yang tercatat aktif sebagai ketua DPC Asor Bangil itu mengaku, pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada tahun 2009.

Ketika itu, ia ikut kontestasi untuk pemilihan di dapil tiga, dengan wilayah Beji, Gempol, Prigen. Wilayah tersebut diakuinya bukanlah dapil “rumah”. Sehingga, ia hanya medapatkan suara minim. Hanya 1.750 suara yang membuatnya gagal duduk di kursi dewan.

Kegagalan itu, tak lantas membuatnya patah arang. Pemilihan berikutnya, tahun 2014, ia kembali maju sebagai anggota dewan. Ia maju untuk daerah pemilihan yang jauh dari wilayahnya. Yakni, Kejayan, Pasrepan, Puspo, Tosari, Lumbang, serta Tutur. “Bisa dikatakan, itu dapil gunung. Padahal, wilayah saya di Bangil,” kisahnya.

Hasilnya, ia kembali dibuat kecewa. Karena meski memperoleh suara banyak, namun hal itu tak cukup untuk membuatnya duduk di kursi dewan. “Saya hanya mendapatkan 4.990 suara. Bisa dikatakan, saya merupakan caleg gagal dengan perolehan suara terbanyak,” kelakarnya.

Sempat ragu untuk maju kembali ke medan “pertarungan” karena dua kali gagal, Muafi kembali memperoleh semangatnya. Itu, setelah nasihat dari orang tuanya. Di mana, ibunya pernah bilang, jangan menyerah pada posisi tidak nyaman. Kalau menyerah, berarti tidak ikhlas berjuang.

“Di situ, saya termotivasi. Mau kondisi enak atau tidak, tetap harus berjuang,” beber pemuda 37 tahun tersebut.

Ia pun menyusun strategi untuk bisa menang. Langkahnya dengan membentuk komunitas-komunitas bagi berbagai kalangan. Mulai dari tukang becak hingga PKL dan berbagai komunitas lainnya.

Nama besar ibunya pun turut memberi andil padanya. Terbukti, suaranya menanjak pada Pileg 2019 ini. Ia berhasil meraih lebih dari 7 ribu suara dari dapil yang menjadi rumahnya, Bangil, Beji, dan Gempol.

Hasil itu pula yang mengantarkannya menjadi anggota legislatif. “Ibu saya berdoa setiap malam agar saya jadi dewan. Bahkan, sampai menangis tiap malam. Alhamdulillah, sekarang kesampaian,” tandasnya.

Dengan pencapaian tersebut, kata Muafi, tentunya akan ada kolaborasi antara ia, ibunya, dan kakaknya. Tentunya, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengakomodasi masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya.

Bila tidak tertampung di tingkat Kabupaten Pasuruan, nantinya bisa diakomodasi provinsi atau bahkan pusat. “Tentunya akan ada sinergitas. Sehingga, bisa saling meng-cover,” pungkasnya. (one/fun)