Lima Sekolah di Kab Pasuruan Masih Kurang Siswa, di Kota Daftar Ulang Diserbu

PASURUAN – Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Pasuruan untuk jenjang SMA, masih menyisakan persoalan. Ini lantaran, masih ada sekolah yang belum memenuhi pagu.

Di Kabupaten Pasuruan misalnya, ada lima SMA negeri belum memenuhi pagu di hari daftar ulang, Senin (24/6). Ketua MKKS SMAN Kabupaten Pasuruan Dwi Cahyosetiyono menyebut, ada empat SMA negeri yang belum memenuhi pagu di Kabupaten Pasuruan. Yaitu, SMAN 1 Gondangwetan, SMAN 1 Kejayan, SMAN 1 Lumbang, dan SMAN 1 Tosari.

Dari halaman ppdbjatim.net, diketahui SMAN 1 Gondangwetan baru terisi 198 calon siswa, SMAN 1 Kejayan terisi 98 calon siswa. Lalu, SMAN 1 Lumbang sebanyak 59 calon siswa, dan SMAN 1 Tosari sebanyak 62 calon siswa.

Menurutnya, kondisi itu disebabkan oleh sejumlah faktor. Seperti sekolah tersebut berada di daerah irisan atau perbatasan antara Kota dan Kabupaten Pasuruan. Lalu, lembaga SMP dan MTs di lokasi tersebut jumlahnya minim. Misalnya, di Tosari dan Lumbang. Lalu, di Gondangwetan dan Kejayan, banyak tersedia pondok pesantren.

“Ada siswa memilih untuk mondok. Namun, ini analisis kami. MKKS sudah memperbolehkan sekolah untuk mengambil siswa kendati di luar zonasi sampai terpenuhi,” sebut Kepala SMAN 1 Bangil ini.

Sementara, untuk SMK negeri di Kabupaten Pasuruan yang belum memenuhi pagu sampai Senin (24/6) diketahui adalah SMKN Puspo. Dari halaman ppdbjatim.net, diketahui SMKN Puspo baru terisi 54 calon siswa.

Kondisi ini diamini oleh Ketua MKKS SMK negeri Kabupaten Pasuruan Indra Jaya. Ia menjelaskan, hal ini disebabkan karena jumlah SMP di wilayah Puspo terbatas.

“Kalau di Kabupaten Pasuruan, setahu MKKS, lembaga yang belum sesuai pagu itu hanya SMKN Puspo,” tutur Kepala SMKN 1 Bangil ini.

Di sisi lain, daftar ulang siswa di SMA/SMK negeri, berlangsung sejak Senin. Salah satunya di SMAN 2 Kota Pasuruan. Calon siswa sudah tiba di lokasi sejak pukul 06.30, padahal daftar ulang baru dibuka pukul 09.00.

Kepala SMAN 2 Kota Pasuruan Gathot Suyono mengungkapkan, lembaganya menerima 288 calon siswa tahun ini. Rinciannya, 78 dari jalur offline dan 210 dari jalur online. Dan, sebagian sudah melaksanakan daftar ulang di hari pertama.

“Sesuai aturan, daftar ulang dilaksanakan dua hari. Senin (24/6) dan Selasa (25/6). Jadi, calon siswa yang tidak bisa hadir hari ini, bisa ikut di hari ke dua,” ungkapnya.

Gathot menjelaskan, sistem zonasi ini membuat jumlah siswa dari luar Kota Pasuruan menjadi terbatas. Sesuai aturan, SMAN 2 Kota Pasuruan hanya menerima enam calon siswa yang berasal dari irisan sebanyak dua persen. Baik itu dari jalur ujian nasional (UN) dan zonasi.

Khusus di SMAN 2 Kota Pasuruan, calon siswa bakal mengikuti tes psikologi dan minat pada Rabu (26/6) dan Kamis (27/6). Tes ini sebagai dasar untuk mengetahui kemampuan dan minat calon siswa saat penjurusan nanti.

“Ini murni di SMAN 2 saja. nanti kami bandingkan dengan angket pengisian orang tua. Kalau keinginan dan minat calon siswa dan orang tua berbeda, bakal dikoordinasikan,”sebutnya.

Pria yang menjabat sebagai Ketua MKKS SMA Negeri Kota Pasuruan ini memastikan 4 lembaga SMA negeri di Kota Pasuruan sudah sesuai pagu. Bahkan, MKKS meminta maaf jika ada calon siswa yang tidak diterima di SMA negeri karena jumlah pendaftar lebih banyak dibandingkan pagu.

Menurutnya, sistem zonasi ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Di antaranya, siswa Kota Pasuruan yang tertampung lebih banyak. Sementara tahun lalu, banyak siswa dari luar Kota Pasuruan bersekolah di tempat ini. Di sisi lain, bisa berdampak pada menurunkan semangat belajar di tahun berikutnya.

“Kalau siswa nilai UN-nya jelek, asalkan dia memiliki rumah yang dekat dengan SMA yang diharapkan, mereka ya bisa masuk. Mudah-mudahan ada evaluasi,” jelas Gathot. (riz/fun)