Sejak Ulat Buru Serang Desa Capang, Tamu Warga Enggan Datang Karena Geli dan Takut

Sudah hampir dua bulan ini warga di Dusun Semambung, Cesa Capang, dibuat resah. Betapa tidak, lingkungan rumah mereka “kedatangan” ulat bulu. Jumlahnya yang banyak menimbulkan cerita tersendiri bagi warga.

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwodadi

GELI dan takut. Begitulah yang dirasakan seseorang saat berada di Dusun Semambung, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi. Karena dimana-mana dijumpai banyak terdapat ulat bulu.

SEMPROT: Sugik, ketua RT 01 RW 12 Dusun Semambung, Desa Capang, Kecamatan Purwodadi melakukan penyemprotan ulat bulu di dalam rumah warga. (Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Ulat tersebut banyak dijumpai di pelataran rumah hingga pepohonan. Bahkan hingga genting, tembok, teras dan masuk ke dalam rumah warga di dusun setempat.

Bagi warga Semambung, kejadian ini sejatinya bukan pertama kalinya terjadi. Tiap tahunnya ada. Namun paling ekstrem adalah di tahun sekarang, dan sudah berlangsung dua bulan terakhir. Terparah setelah Lebaran ini.

“Awalnya takut dan geli melihatnya, terutama ibu-ibu dan anak perempuan. Kini sudah biasa, karena sudah tidak kaget. Bahkan dibuat mainan bagi anak-anak, karena tak gatal,” cetus Sugik, 33, ketua RT 01 RW 12, Dusun Semambung.

Mengingat jumlah populasinya ulat bulu sangat banyak, maka banyak ulat bulu masuk ke teras dan rumah warga selain menempel di pepohonan. Maka setiap saat, warga harus rutin membersihkan sekaligus mematikan ulat bulu. Baik melalui penyemprotan dengan menggunakan obat pestisida pertanian, atau mematikannya dengan kayu, sapu lidi dan alat manual lain.

“Pasca Lebaran, jumlah populasi ulat bulu yang meningkat dari sebelumnya. Sejak saat itu, warga bersih-bersih ulat bulu sehari minimal dapat satu ember, bahkan lebih. Kemudian dibakar,” ungkapnya.

Kondisi ini, selain dikeluhkan warga di dusun setempat. Warga dari luar, enggan bertamu ke rumah warga di dusun ini. Ini juga dirasakan warga sekitar, seperti saat situasi masih Lebaran.

“Warga dari luar untuk bertamu ke dusun ini enggan datang, karena takut serta geli dengan banyaknya ulat bulu. Kalaupun ada, mampir hanya sebentar saja dan setelah itu langsung pulang,” beber Kasun Semambung Abdul Basir.

Di lapangan, populasi banyaknya ulat bulu, diprediksi berlangsung cukup lama. Tidak cukup dua bulan, tapi lebih. Menginggat saat ini musim pancaroba, peralihan dari penghujan ke kemarau disertai cuaca ekstrem.

Secara terpisah, kondisi ini juga mendapat perhatian dari Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan. Jumat kemarin (21/6) melalui Mantri Pertanian Kecamatan Purwodadi, datang melakukan survei ke lokasi di Dusun Semambung, Desa Capang. Selain mensurvei, pihaknya sekaligus memberikan bantuan obat pembasmi ulat untuk disemprotkan langsung ke sasaran.

“Pekan ini akan kami tambah bantuan obat pembasmi ulatnya 25 liter, sekaligus lihat stok yang ada di kantor. Mudah-mudahan serangan ulat bulunya cepat teratasi dan berakhir,” cetus kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan Ihwan.

Disinggung banyaknya populasi ulat bulu diluar kewajaran terjadi di Dusun Semambung seperti saat ini, kata Ihwan, disebabkan karena dua faktor. Yakni migrasi dan juga pergantian musim.

“Kasus seperti ini pernah terjadi di Nguling, terakhir di Bangil. Sekarang lanjut di Semambung, Capang, Purwodadi. Warga harus tenang dan tak perlu panik, karena proses seperti ini ada tenggang waktunya,” ucap Ihwan. (fun)