Sukses Santri Dalwa Raih Juara Lomba Tilawatil Quran Nasional

Olimpiade Quran Jilid 3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membawa rasa bangga bagi Ahmad Syauqi, 17. Santri Ponpes Darullughoh Wadda’wah (Dalwa) Raci, Kecamatan Bangil, ini menjuarai lomba kategori Tilawatil Quran Putra tingkat nasional. Padahal, performanya di babak penyisihan kurang gereget.

IWAN ANDRIK, Bangil

Hari itu seharusnya Ahmad Syauqi bisa tampil dengan sempurna, seperti saat latihan. Sebab, hari itu merupakan babak penyisihan lomba Tilawatil Quran Putra tingkat nasional. Dia harus tampil maksimal. Jika tidak, posisinya akan tersingkir.

Namun, yang terjadi justru sebaiknya. Napas Ahmad Syauqi mendadak tak teratur. Suara yang dikeluarkannya pun tak seperti yang diharapkan. Ia benar-benar merasa hilang “kesempurnaan” seperti saat latihan.

Gara-gara itu semua, ia merasa tak akan bertahan. Bakal tereleminiasi untuk bisa masuk babak lanjutan. Namun, ternyata takdir berkata lain. Dia lolos ke babak lanjutan. Meskipun tampil kurang gereget di babak penyisihan.

“Saya masih bisa bertengger di posisi empat saat babak penyisihan,” kata Syauqi -sapaan remaja 17 tahun itu- menceritakan detik-detik lomba Tilawatil Quran yang diikutinya.

Ya, santri Ponpes Darullughoh Wadda’wah (Dalwa) Raci, Kecamatan Bangil, ini memang menjadi salah satu peserta dalam ajang Olimpiade Quran Jilid 3. Lomba itu digelar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Meski kurang gereget di babak penyisihan, Syauqi akhirnya bisa lolos ke babak final dengan bertengger di ranking empat. Ia bahkan membalikkan keadaan. Karena di babak final, ia berhasil menyabet juara pertama dan menyisihkan peserta lainnya.

Hal itulah yang membuatnya bahagia. Senyumnya mengembang ketika Jawa Pos Radar Bromo memintanya bercerita pengalaman lomba yang dilaluinya. Ia mengaku bangga bisa membawa harum nama Ponpes Dalwa.

“Tentunya bangga, bisa ikut mengangkat nama pondok dan membanggakan orang tua,” ungkap putra ke tiga dari pasangan Syahrudin dan Nur Syamsiah ini.

Kesuksesan Syauqi itu bermula saat di pondoknya ada penjaringan untuk mengikuti Olimpiade Quran Jilid 3 se-Indonesia. Lomba itu sendiri digelar 19-21 April 2019 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Saat itu ia ditunjuk pembimbingnya untuk mengikuti lomba Tilawatil Quran. “Di Pondok Dalwa, memang ada ekstra tilawah. Alhamdulillah, saya diberi kepercayaan untuk mewakili pondok,” tambah pelajar yang kini duduk di kelas XI MA Dalwa tersebut.

Ia ditunjuk seminggu sebelum lomba digelar. Memanfaatkan waktu yang ada, Syauqi pun latihan ekstra. Latihan tersebut tak lain untuk menjaga performa dan mentalnya.

Hingga hari perlombaan tiba, ia malah kelelahan. Syauqi kelelahan karena perjalanan jauh dari Bangil ke Jakarta menggunakan kereta api. Ia sempat beristirahat, setelah melewati perjalanan sekitar 14 jam. Meski istirahat tersebut, belum mampu membayar semua rasa lelahnya.

Karena rasa lelah itu pula, penampilannya kurang maksimal di babak penyisihan. Suaranya kurang powerfull dengan napas yang kurang teratur. Namun, ia bisa melewatinya. Buktinya, ia berhasil lolos untuk tahap selanjutnya.

“Ada 25 perserta dari seluruh Indonesia yang berlomba. Lombanya sendiri digelar tingkat SMA/MA. Dari 25 peserta itu, diambil enam orang. Dan, Alhamdulillah saya masuk meski berada di peringkat empat,” kisah pelajar asal Tegalbadeng Timur, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali itu.

Hasil kurang memuaskan di babak penyisihan, ia balas di babak final. Beberapa kekurangan yang dirasakan ketika babak penyisihan, diperbaikinya. Baik pengaturan napas maupun penekanan suara.

Feeling untuk bisa menang pun muncul. Terlebih saat dirinya ditunjuk untuk membaca Alquran saat penutupan. “Biasanya, yang membaca Alquran saat penutupan itulah juaranya. Tapi, saya tidak mau keburu GR (gede rasa, Red),” kelakarnya.

Rupanya, feeling itu benar. Terbukti, ketika hasil diumumkan. Namanya disebut sebagai pemenang. Bukan juara dua atau juara tiga. Melainkan juara pertama.

“Pengumumannya, dilakukan hari terakhir, yakni 21 April. Saya langsung bersyukur begitu nama saya disebutkan sebagai juara pertama,” kenangnya. (hn)