Rumah Jauh dan Tersisih sejak Awal, Ini Kekecewaan yang Dirasakan Orang Tua Siswa

PROBOLINGGO – Pendaftaran PPDB SMA/SMK membuat tak sedikit orang tua kecewa. Salah satu sebabnya, lantaran anak mereka tak bisa bersekolah di sekolah favorit.

Di Kabupaten Pasuruan misalnya, seorang wali murid mengaku, anaknya tersisih sejak awal pendaftaran. Sebabnya, karena penerapan sistem zonasi ini.

Rodi’yah mengaku, anaknya mendaftar di SMAN 1 Bangil. Namun, rumah mereka ada di Gununggangsir, Kecamatan Beji. Jaraknya dengan SMAN 1 Bangil sekitar 6,5 kilometer. Karena jarak yang jauh itu, anaknya sudah tersisih sejak hari Selasa pagi atau hari kedua pendaftaran.

“Kami daftar hari Senin, tapi Selasa pagi sudah hilang dari daftar. Sebab, siswa yang dekat-dekat lebih diutamakan diterima,” tuturnya.

Di sisi lain, nilai UN anaknya hanya 28. Karena itu, anaknya juga tidak bisa masuk lewat kuota 20 persen untuk jalur prestasi. “Anak saya nilai UN hanya 28. Jadi, juga terlempar dari persentase jalur prestasi yang 20 persen itu,” terangnya.

Rodi’yah pun mengaku kecewa dengan penerapan sistem ini. Menurutnya, sistem zonasi hanya menguntungkan anak yang rumahnya dekat dengan sekolah yang dituju.

Di sisi lain, jumlah SMA di Kabupaten Pasuruan menurutnya terbatas. Cuma ada delapan buah. Bahkan, di Beji tidak ada SMA negeri.

“Di Beji kan tidak ada SMA. Karena itu, kami daftar ke Bangil. Tapi, karena jarak sekolah dengan rumah jauh, akhirnya tidak diterima,” lanjutnya.

Hal yang sama terjadi di Kabupaten Probolinggo. Di SMAN 1 Kraksaan misalnya, beberapa wali murid kecewa karena anaknya tidak diterima di tempat itu.

“Ada beberapa orang tua murid yang komplain ke sini (SMAN 1 Kraksaan, Red.). Komplainnya mengenai jarak. Sekolahnya dekat di Kraksaan, tapi jarak sekolah dengan rumah jauh, akhirnya anaknya tidak diterima. Dan, harus sekolah dekat rumah atau sekolah yang sesuai zona,” terang Kepala SMA Negeri 1 Kraksaan Bambang Sudiarto.

Pihaknya, menurut Bambang, mengarahkan para wali murid untuk masuk melalui jalur pemeringkatan ujian nasional (UN). Sebab, dengan jalur pemeringkatan UN, siswa yang jarak rumah dengan sekolah jauh, masih punya kesempatan sekolah di tempat yang diinginkan.

“Tetapi, persaingan lewat jalur pemeringkatan atau prestasi ini lumayan tinggi. Jika tidak diterima, maka siswa akan ditaruh di sekolah yang dekat,” tandasnya.

Selain masalah jarak, menurutnya, proses pendaftaran PPDB di tempatnya relatif tidak ada masalah yang signifikan. Prosesnya berjalan lancar. Bahkan, hingga hari terakhir pendaftaran, tidak ada komplain dari wali murid.

“Tidak ada masalah. Sejauh ini berjalan lancar. Cuma memang ada keluhan dari beberapa wali murid,” tandasnya.

SMAN 1 Kraksaan sendiri dalam PPDB tahun ini, menetapkan 360 pagu. Jumlah tersebut nantinya dibagi dalam 10 kelas.

“Kalau yang tidak diterima di sini karena zona, maka akan ditaruh di sekolah pilihan ke dua,” tandasnya.

Bambang menegaskan, setiap kebaruan pasti menimbulkan pro dan kontra. Namun, di Kraksaan menurutnya gejolak tidak begitu terasa.

“Sebetulnya bergejolak juga. Tapi karena tidak banyak, bisa diantisipasi,” terangnya. (eka/sid/fun)