Rumah Buruh Tani di Sumberasih Terbakar, Dua Motornya Ikut Hangus

SUMBERASIH- Ketenangan warga di Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, mendadak berubah Jumat (21/2) sore. Ini setelah rumah warga sekitar, dilalap si jago merah. Meski tak sampai ada korban jiwa, kebakaran itu menimbulkan kerugian materil cukup banyak.

Kebakaran yang diduga akibat korsleting itu terjadi di rumah Sugiyanto, 48, warga RT 10/RW 2, Dusun Melati, desa setempat. Informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Bromo, api melahap sebagian rumah Sugiyanto sekitar pukul 16.00.

Menurut Sugiyanto, rumah berukuran 12 kali 8 meter itu terbakar saat dalam keadaan sepi. Pasalnya, Sugoyanto yang seharinya buruh tani tersebut, sedang berada di sawah bersama dengan istrinya. Sementara anak sungsunya sedang bermain diluar. “Anak saya ada tiga, yang pertama dan kedua sudah menikah dan ikut suami dan istrinya,” terangnya.

Sugiyanto meninggalkan rumahnya sekitar pukul 13.00. Sekitar pukul 16.00 ia melihat dari kejauhan ada asap membumbung dari kejauhan. Saat itu dia sudah menduga, asap itu berasal dari rumahnya. Kecurigaan itu muncul lantaran lokasi sawah yang digarap Sugiayanto, dekat dengan rumahnya yang berada di sebelah utara.

“Dari kejauhan saya sudah melihat api membakar rumah saya. Tak lama kemudian ada keponakan yang menghampiri saya. Dia bilang kalau rumah saya terbakar. Sehingga saya langsung pulang,” terangnya.

SUDAH PADAM: Warga melihat kondisi rumah Sugiyanto. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Sesampainya dirumahnya, rupanya api sudah melumat sebagian samping timur rumahnya. Termasuk dua motor dan satu mesin pompa air yang ada didalamnya. “Yang ikut terbakar selain sebagian rumah. Motor Yamaha Xeon dan juga Honda Astrea Grand serta pompa air milik orang, ikut terbakar” bebernya.

Sugiyanto mengaku, tidak tahu secara pasti penyebab kebakaran. Namun yang jelas, bukan akibat kompor atau tabung gas. “Kemungkinan korsleting listrik. Sebab kalau dari kompor, dua tabung di rumah tidak apa-apa,” katanya menduga.

Api padam sejam kemudian dengan bantuan warga sekitar. Warga berbondong-bondong berupaya mematikan api dengan alat seadanya. “Tidak ada petugas damkar. Kami bersama-sama memadamkan sendiri dengan bantuan warga,” katanya.

Sugiyanto mengaku tidak tahu secara pasti berapa kerugian yang dideritanya. “Saya tidak tahu berapa. Yang penting tidak ada korban sudah, namanya juga musibah,” pungkasnya. (rpd/fun)