Asyiknya Wisata Panen Madu di Kecamatan Lumbang

Sejumlah desa di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, memiliki potensi sebagai penghasil madu. Bahkan, aktivitas panen madu oleh peternak lebah, kini menjadi wisata menarik bagi pengunjung. Mereka bisa menyaksikan proses panen madu dan mencicipi langsung madu dari sarangnya.

ARIF MASHUDI, Lumbang

Kecamatan Lumbang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil madu di Kabupaten Probolinggo. Setidaknya, ada 200 peternak lebah di Kecamatan Lumbang. Walaupun, jumlah itu berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Wartawan Jawa Pos Radar Bromo pun berkesempatan ikut Supendik, salah satu peternak lebah asal Desa Wonogoro, Kecamatan Lumbang, untuk panen madu. Rabu (19/6) itu, Supendik bersama tujuh temannya panen madu di dua tempat. Yaitu di Desa Branggah dan Desa Lambang Kuning, Kecamatan Lumbang.

Mereka memanen puluhan kotak rumah lebah yang ada di bawah pohon randu. Delapan peternak itu pun mulai panen dengan berbagi tugas.

Ada yang mengambil sarang lebah dan di angkat ke tempat penggilingan untuk diambil madunya. Supendik sendiri, kebagian membersihkan sarang lebah dan membuka lapisan bungkus luar madunya.

Nah, aktivitas panen madu itu, kini bisa diikuti pengunjung atau wisatawan yang datang ke Lumbang. Dengan mengikuti para peternak lebah saat panen, pengunjung jadi mengerti proses panen madu. Mereka juga bisa mencicipi madu langsung dari sarangnya.

Tentu saja, wisatawan tidak perlu takut tersengat lebah. Selama panen, wisatawan bisa menggunakan pelindung kepala

”Kalau berhadapan dengan lebah, jangan dilawan. Bersikap tenang dan jangan diusir. Karena lebah itu semakin dilawan, akan balik melawan,” ujar Pendik -sapaan akrabnya-.

Choirul Umam, 28, wisatawan asal Kota Probolinggo, hari Rabu itu ikut panen lebah yang dilakukan Pendik dan tujuh temannya. Umam –panggilannya- pun mengaku sangat bersemangat.

Sebab, sudah lama dirinya ingin tahu cara panen madu. Apalagi, saat panen wisatawan seperti dirinya bisa mencicipi madu langsung dari sarangnya. Bukan dari kemasan botol yang biasanya dijual para petenak atau pedagang madu.

Umam pun mengaku sangat suka. Sebab, menurutnya rasa madu yang diambil langsung sarangnya sangat berbeda dengan madu yang sudah dikemas di botol. Umam bahkan mengaku ingin lagi ikut panen madu.

”Ingin ikut lagi pas panen madu. Karena rasa madu saat panen itu ternyata berbeda dengan setelah panen,” kata bapak satu anak itu.

Selain mengikuti panen madu, menurut Pendik, wisatawan kini bisa datang ke Rumah Madu di Kecamatan Lumbang. Rumah Madu ini menurutnya, menyajikan wisata edukasi memproses madu setelah panen. Salah satunya, proses pengentalan madu.

”Kalau wisatawan ingin merasakan panen madu di tengah hutan, bisa ikut petenak saat panen. Tapi bisanya kan hanya saat ada jadwal panen. Kalau ingin lihat cara memproses madu setelah panen, bisa datang ke rumah madu,” tuturnya.

Namun, wisatawan memang harus lebih dulu mengonfirmasi pada pengelola wisata Rumah Madu. Sehingga, pengelola bisa berkoordinasi dengan peternak untuk menyiapkan rumah lebahnya.

”Kotak rumah lebah ini diangkat pas malam hari. Jadi, kalau ada rombongan mau datang, malam hari sebelumnya saya angkut ke tempat wisata Rumah Madu,” terangnya.

Pendik menceritakan, menjadi peternak lebah ada suka-dukanya. Saat musim kemarau, peternak bisa panen madu dengan lancar. Dalam sehari, panen pun bisa dilakukan di dua tempat.

Jumlah yang dipanen cukup banyak. Yaitu, sekitar 150 kotak rumah lebah. Dari jumlah itu, bisa dihasilkan sekitar 6 – 7 kuintal madu.

”Biasanya, saya tidak langsung jual madu hasil panen. Tapi saya diamkan dulu untuk menjaga harga. Apalagi madu ini tidak ada kedaluwarsanya. Malah makin lama disimpan, makin kental,” ungkapnya.

Harga madu sendiri, kalau langsung dijual per 1 kg sekitar Rp 65 ribu. Namun, jika cara menyimpan dan mengolahnya tepat, harga madu randu bisa lebih mahal. Yaitu, Rp 80 ribu – Rp 90 ribu per kg.

”Saya di Lumbang itu ada empat tempat ternak lebah madu. Kamis (20/6, Red.) rencana panen di dua desa. Yaitu, di Wonogoro dan Lumbang,” ujarnya.

Selama ini dikatakan Pendik, madu yang dia panen banyak dipesan oleh pembeli dari luar daerah. Terutama Jawa Tengah (Jateng).

”Biasanya panen madu itu tiap sepuluh hari. Tapi untuk hasil madu maksimal, saya panen tiap dua belas hari,” katanya.

Di balik suka duka sebagai peternak lebah, menurut Pendik, para peternak harus pintar-pintar menabung. Tiap hasil panen, harus ada yang disisihkan untuk ditabung.

Sebab, saat musim hujan, peternak lebah tidak bisa lagi panen madu. Musim hujan adalah waktu peternak lebah merawat dan memelihara lebah di kotak rumah lebah. Caranya, dengan memberikan gula sebagai makanan lebah itu.

”Selama musim hujan kemarin misalnya, saya habiskan 6 sampai 7 ton gula untuk memelihara lebah. Jika tidak, lebah akan mati atau tidak bisa memproduksi madu,” ungkapnya.

Pendik juga mengaku pernah mengalami musim paceklik. Saat itu, setahun penuh terjadi hujan abu akibat erupsi Gunung Bromo di Lumbang. Akibatnya, selama itu pula peternak tidak bisa panen madu. Namun, mereka harus tetap memelihara lebah-lebah di dalam rumah. Karena itu, dia pun berharap tidak ada lagi masa paceklik. (hn)