Pemilik Tempat Persemayanan Jenazah Tepis Berdiri Diatas Lahan Makam

KRAKSAAN – Polemik lahan di Asembakor yang diprotes warga lantaran diduga untuk tempat kremasi, perlahan mulai terkuat. Lokasi yang kini sedang dalam proses pembangunan itu, sempat dituding berdiri diatas lahan kuburan. Namun tudingan itu dibantah pengelola.

Hal itu ditegaskan Samuel, selaku ketua Yayasan Budi Luhur, pemilik bangunan itu angkat bicara mengenai tuduhan tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan kepala desa. Menurutnya, bangunan itu dibangun atas dasar persetujuan warga. Selain itu, tanah yang diatasnya dibangun tempat persemayaman itu bukanlah tanah kuburun atau lahan makam.

Hal itu, diungkapkan Samuel ditemui di lokasi pembangunan ketika Tim Reaksi Cepat (TRC) Satpol PP Kabupaten Probolinggo datang ke lokasi. “Semua itu bohong. Tudingan yang dialamatkan kepada kami tidak benar. Warga yang kami mintai tandatangan melalui kepala desa itu tidak kami bohongi. Kami meminta tandatangan sesuai dengan apa yang ada. Yaitu, untuk persetujuan pembangunan tempat persemayanman sementara bagi mayat Budha, Katolik dan Protestan,

Pria yang akrab disapa Cung itupun juga membantah tudingan adanya iming-iming uang. Ia juga membantah bahwa tanah yang dibangun untuk tempat persemayaman itu bukanlah tanah kuburan. Menurutnya, tanah seluar 1600 meter persegi itu dibelinya dari dua orang warga.

“Itu bohong semua. Tanah ini kami beli dari dua orang warga. Dan bukan kuburan. Sebelum kami bangun tidak ada patok makam. Yang ada itu sebelah tanah yang kami beli atau belakang (utara) bangunan, ” jelasnya.

Iapun bersikukuh untuk melanjutkan bangunan yang hampir jadi itu. Menurutnya, warga sekitar tidak menolak adanya bangunan itu. Itu dibuktikan dengan dirinya berkeliling pemukiman warga. Saat berkeliling itu ia juga menanyai beberapa warga dan tidak ada masalah.

“Kami akan bangun terus. Toh warga tidak menolak. Bahkan mereka akan menerima manfaat dengan adanya bangunan ini. Sebelum jadipun, sebagian warga telah menerima manfaat berupa terbukanya lapangan kerja, ” terangnya.

Ia juga menegaskan, bahwa bangunan tersebut bukanlah bangunan untuk kremasi mayat. Melainkan, bangunan untuk persemayaman sementara mayat. Peruntukannya yaitu bagi warga nonmuslim yang kategori miskin. Paling lama mayat ada di tempat tersebut sekitar dua sampai empat hari.

“Kalau kami kremasi mayat itu ke Lawang, Situbondo, dan juga Jember. Kalau disini bukan. Ini adalah rumah duka bagi warga yang memiliki rumah sempit. Dengan adanya rumah ini bisa menampung dua sampai empat jenazah, ” tandasnya.

Sementara itu Jainulloh, Kepala Desa Asembakor, Kecamatan Kraksaan mengatakan, yang menolak tersebut bukan warganya sekitar bangunan. Melainkan warga lain yang jaraknya jauh dari bangunan itu. Pihaknya pun masih mengupayakan dengan musyawarah, meski ada protes.

“Tadi (Rabu, Red) saya mendatangi kasunnya. Dia mengatakan tidak masalah. Yang menolak itu adalah warga yang jauh. Dia (penolak bangunan) adalah warga yang ada di pesisir, ” ungkapnya. (sid/fun)