Pemilik Akun Kontroversi di Sumberasih Punya Jamaah Pengajian

MAYANGAN-Tidak hanya posting-an akun facebook (FB) atas nama Ponco Suro yang jadi kontroversi dan disorot anggota dewan kehormatan PC NU Kabupaten Probolinggo. Kegiatan Ormat, 47, sebagai pemilik akun juga disorot.

Kegiatan yang dimaksud yaitu pengajian. Ormat sendiri mengaku, dirinya punya kelompok pengajian Jamiyah.  Pengajian ini rutin menggelar kegiatan pada malam Rabu, setiap minggunya. Namun, sebenarnya pengajian ini menurutnya hanya untuk mengakomodasi kegiatan arisan.

Pengajian itu sendiri sudah berjalan sejak setahun lalu. Pembentukannya dibuat atas inisiatif dirinya dan saat ini anggotanya ada 40 orang.

Awalnya, menurut Ormat, tiap malam banyak warga yang datang ke rumahnya. Mereka datang karena tertarik dengan apa yang dibicarakannya.

“Jadi, banyak warga yang sering datang ke sini lantaran tertarik dengan apa yang saya omongkan,” terang pria yang mengaku pernah jadi santri di sejumlah pondok pesantren itu.

Daripada sebatas kumpul dan tidak ada kegiatan, Ormat berinisiatif membuat kelompok pengajian. Di dalamnya juga terdapat arisan.

Sejak saat itu, digelar pengajian rutin tiap malam Rabu. Tempat pengajian dilakukan bergilir atau berpindah-pindah, sesuai dengan hasil undian arisan.

“Jadi pengajiannya berpindah-pindah, sesuai dengan hasil undian arisan. Siapa yang dapat undian arisan, di situ pengajian digelar,” terang bapak enam anak ini.

Arisan itu sendiri digelar dengan cara seperti urunan. Besarnya arisan tidak ditentukan, tergantung anggota mau membayar berapa. Karena itu, hasil arisan tidak sama di tiap tempat.

“Hasil arisannya dak mesti. Pernah sampai Rp 1,8 juta. Tergantung banyaknya jumlah anggota yang datang,” terang bapak enam anak ini.

Saat ini, menurutnya, ada 40 anggota yang ikut dalam pengajian tersebut. Mereka berasal dari Kota dan Kabupaten Probolinggo.

Selain arisan, digelar pengajian internal yang diisi oleh Ormat sendiri. Isi pengajian beragam. Mulai membahas keagamaan dan ketuhanan, kemanusiaan, serta tentang kehidupan.

“Jadi, kami tidak mengajarkan hal yang aneh-aneh. Biasa saja,” aku Ormat.

Karena hanya pengajian internal, kelompok pengajian ini menurutnya memang tidak pernah mengundang kiai dari luar. Sebab, mulanya pengajian memang mengakomodasi arisan.

“Jadi, kami bukan seperti pengajian pada umumnya. Apalagi, kegiatan ini sebetulnya untuk mengisi kegiatan yang lebih bermanfaat,” bebernya.

Karena itu, Ormat membantah bahwa kelompok yang ia buat mengajarkan aliran sesat atau sejenisnya. Lebih lagi tidak ada bukti yang kuat mengenai hal tersebut.

“Kami seperti pengajian Yasinan rutin itu. Jadi, memang kegiatanya sebatas orang-orang itu saja,” pungkasnya. (rpd/hn)