Ketika Relawan Unicef Takjub Melihat Penerapan Pendidikan Olahraga Inklusi di SD Al Kaustar

TAKJUB: Andrew Brown (dua dari kanan) bersama siswa inklusi Zahran Barigh Rabbani yang alami hiperaktif. Andrew yang merupakan relawan Unicef, begitu takjub melihat pembelajaran di SD Al-Kautsar yang tak membedakan siswa reguler dan inklusi. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

20

ADA pemandangan yang berbeda di SD Al Kautsar, Jalan Ir Juanda, Kelurahan Tapaan, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan Rabu pagi (19/6). Suasana sekolah menjadi lebih riuh dan ramai. Maklum saja, sekolah setempat kedatangan perwakilan dari UNICEF, Andrew Brown.

Kedatangan pria asal Inggris yang sudah bermukim di Thailand selama lima tahun ini bertujuan untuk melihat penerapan pendidikan olahraga adaptif di SD Al Kautsar. Pendidikan olahraga adaptif ini membuat siswa inklusi dan non inklusi dapat mengikuti pelajaran olahraga tanpa dibedakan.

Andrew Brown tiba di SD Al Kautsar sekitar pukul 07.00. Pihak sekolah lantas mengajak Andrew menuju ruang sumber. Di tempat ini, Andrew diperkenalkan dengan sejumlah siswa inklusi yang berprestasi, mulai dari

Selanjutnya, pihak sekolah lantas menunjukkan Andrew penerapan pendidikan olahraga adaptif melalui olahraga basket. Dimana sejumlah siswa inklusi dan non inklusi bermain bola basket di lapangan secara bersama-sama.

“Wow menakjubkan. Siswa dapat berbaur satu sama lain tanpa merasa ada perbedaan. Penerapan sekolah inklusi di sini sangat luar biasa,”sebut Andrew.

Guru olahraga, Mukhammat Syaikhu menjelaskan pendidikan olahraga adaptif ini membuat siswa inklusi dapat mengikuti materi yang diberikan oleh siswa non inklusi. Agar tidak menyulitkan siswa inklusi, materi sudah dilakukan penyesuaian.

Ia lantas mencontohkan permainan bola basket. Dalam permainan ini, siswa inklusi diberikan pilihan menggunakan bola voli. Selain itu, jarak lempar bagi siswa inklusi lebih pendek dan saat dribble, siswa inklusi hanya perlu membawanya dengan menggunakan tangan.

Di awal materi, ia sempat menawarkan pada siswa untuk yang tidak bisa bahwa mereka boleh menggunakan bola voli, tapi adapula siswa inklusi yang tetap memilih bola basket. Kalau sudah begitu, maka dirinya membolehkannya.

“Kami selalu memulai dengan bertanya siapa yang merasa tidak bisa. Mereka boleh menggunakan bola voli. Jadi siswa merasa tidak dibedakan,” jelasnya.

Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Pasuruan, Supriyadi menerangkan pendidikan inklusi di Kota Pasuruan sudah dicanangkan sejak 2017 lalu. Sekolah pun tidak diperbolehkan menolak jika ada ABK ingin bersekolah di tempat itu.

Namun, SD Al Kautsar ini termasuk sekolah yang paling awal menerapkan pendidikan inklusi. Karena itulah, pihaknya mengarahkan pada UNICEF untuk menjadikan SD Al Kautsar sebagai tujuan untuk melihat penerapan inklusi ini.

“Kami sangat mengapresiasi kedatangan UNICEF di SD Al Kautsar ini. Semoga ini membawa hal yang positif pada pendidikan di Kota Pasuruan,”terang Supriyadi.

Andrew mengaku kunjungannya ke Kota Pasuruan untuk melihat penerapan pendidikan inklusi, utamanya pendidikan olahraga adaptif. Seperti, cara guru merangkul siswa inklusi dan non inklusi secara bersama-sama dan cara mereka bersikap adil tanpa membedakan satu sama lain.

Menurutnya, banyak hal yang didapatkannya dari kunjungan ini. Mulai dari keramahan pemkot, guru yang saling mendukung, dan siswa yang begitu pandai. Pihaknya berharap agar kesetaraan pendidikan bisa terwujud dan setiap anak memiliki hak yang sama.

“Unicef membawa misi agar pendidikan bisa dirasakan setiap orang, bukannya golongan. Entah siswa itu inklusi atau bukan maupun siswa mampu atau tidak mampu,” tutupnya. (riz/fun)