Cek Lab Normal, Ini Kejanggalan Kematian Guru SMAN Leces Versi Keluarga

BERPULANG: Warga dan kerabat saat hendak mengebumikan jenazah Endang Sukeni. Insert, Hendra Agus Wardana anak bungsu Endang saat memberi penjelasan kepada sejumlah wartawan. (Foto: Zainal Arifin-Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

WONOASIH–Dari hasil pemeriksaan, polisi memastikan guru BK SMAN 1 Leces Endang Sukeni meninggal karena sakit. Namun, pihak keluarga menilai ada sejumlah kejanggalan terkait penetapan Endang meninggal karena sakit.

Sejumlah kejanggalan itu, disampaikan Hendra Agus Wardana, 29, anak bungsu Endang, Rabu (19/6). Kejanggalan yang dimaksud Hendra, salah satunya karena ada barang milik ibunya yang hilang.

Yakni, dompet, tas, dan HP. Padahal, semua barang itu disebutkan, sebelumnya ada di kamar ibunya. Namun, saat ibunya ditemukan meninggal di kamar, barang itu tak ada di tempat.

Tidak hanya itu, HP ibunya ternyata sempat aktif. HP itu aktif saat jenazah ibunya dibawa petugas Polres Probolinggo Kota ke kamar mayat RSUD dr. Mohamad Saleh. Namun, kemudian tidak aktif lagi.

“Okelah hasil dari visum tim dokter dari kepolisian menyatakan ibu saya meninggal lantaran menderita penyakit dalam. Namun, yang membuatnya janggal yakni hilangnya barang milik ibu,” terangnya.

TERUS DIDALAMI: Petugas saat mengevakuasi jenazah Endang. Insert Endang semasa masih hidup. (Radar Bromo Photo)

Hendra memastikan, semua barang milik ibunya yang hilang itu ada di kamar saat pagi hari. Tepatnya di meja kamar Endang. Hendra tahu karena istrinya yang menyiapkan sebelum berangkat mengajar ke SMAN 1 Dringu.

Saat itu, menurutnya, istrinya, Hoirul Imami, 29, menyiapkan pakaian dalam yang diminta ibunya. Selanjutnya, Hoirul juga mengambilkan uang Rp 15 ribu di dompet ibunya, sesuai dengan permintaan ibunya.

Tas yang berisi dompet, lantas diletakkan di meja kamar. HP juga ada di kamar, namun Hendra tidak tahu posisinya. Kemudian saat hendak berangkat mengajar, pintu pagar rumah ditutup dengan cara mengaitkan besinya. Namun, tidak digembok. Sebab, korban juga hendak berangkat mengajar ke SMAN 1 Leces.

Tidak lama setelah itu, ia ditelepon Wiwik, rekan kerja ibunya di SMAN 1 Leces. Wiwik menelepon karena HP ibunya tidak aktif. Sementara, ibunya saat itu ditugasi membawa masakan petis telur untuk acara halalbihalal di sekolah.  “Jadi, perasaan saya tidak enak. Saya coba hubungi HP ibu, tapi tidak aktif,” tuturnya.

Hendra lantas minta bantuan Tomy Ramadhani, 25, temannya yang bekerja sebagai TU di SMPN 6. Tomy diminta mengecek ke rumahnya. Sebab, lokasi SMPN 6 dengan rumah korban dekat.

“Jadi yang membuka pintu gerbang pertama Tomy, teman saya. Tapi, dia tidak masuk kamar. Dia hanya mengintip dari pintu kamar dan melihat ibu terbaring ke samping. Selanjutnya, Tomy menghubungi saya,” bebernya.

Setelah Hendra tiba, dia masuk kamar pertama kali. Selanjutnya dia berniat membawa ibu ke rumah sakit. “Jadi, mulanya posisinya miring, saya yang menggesernya. Soalnya saya berniat untuk membawa ibu ke rumah sakit. Namun, tubuhnya sudah kaku,” katanya.

Sampai kemudian, ibunya dipastikan meninggal. Begitu polisi datang dan membawa ibunya ke kamar mayat RSUD dr. Mohamad Saleh, keluarga kemudian ingat lagi dengan HP korban.

Karena itu, keluarga menelepon lagi HP korban. Saat itu, yang menelepon adalah Nunung, sepupunya. Dan ternyata, HP korban aktif. Namun, tidak ada yang mengangkat.

Ini aneh menurut Hendra. Sebab, HP ibunya itu sempat tidak aktif saat pagi hari, sebelum ibunya ditemukan meninggal. Namun, kemudian HP aktif lagi setelah jenazah ibunya dibawa petugas.

“Jadi HP itu sempat aktif, tapi tidak ada yang mengangkat. Artinya missed call. Kemudian, ditelepon lagi kan. Saat ditelepon kedua kalinya itu, HP tidak aktif lagi,” tambahnya.

Soal hasil visum bahwa ibunya sakit, menurut Hendra, ibunya memang pernah mengeluh nyeri di kaki. Itu, terjadi sebelum Ramadan. Karena itu, dia membawa ibunya periksa ke dr Farida. Selanjutnya, tes laboraturium di dr Habibi. Tapi, hasilnya semuanya normal. “Jadi, ketika saya baca hasil labnya, semuanya normal. Mulai tekanan darah, gula, dan lainnya,” bebernya.

Kendati demikian, pihaknya menyerahkan sepenuhnya pada pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini. “Kami ikhlas sebenarnya. Namun, yang bikin janggal itu hilangnya barang ibu,” bebernya.

BERI KETERANGAN: Kasatreksrim Polres Probolinggo Kota, AKP Nanang Fendy Dwi Susanto saat memberikan keterangan hasil otopsi terkait jenazah Endang S. (Dok. Radar Bromo)

 

Menyikapi hal tersebut, Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Nanang Fendy Dwi Susanto mengatakan, wajar jika keluarga merasa ada kejanggalan. Namun, pihaknya berpatokan pada hasil otopsi dan visum dari kedokteran Polda Jatim.

Mengenai barang yang hilang, AKP Nanang mengaku masih terus melakukan penyelidikan. “Jika memang keluarga merasa ada kejanggalan, tidak apa-apa. Yang jelas patokan kami kan hasil otopsi. Selain itu, kasus ini belum berakhir. Kami masih selidiki hilangnya barang tersebut,” terang perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu.

Diketahui, guru SMAN 1 Leces ditemukan tewas di rumahnya, Senin lalu (17/6). Melihat jenazahnya ada lebam-lebam, hidung mengeluarkan darah dan lidah menjulur, Kapolsek Wonoasih sempat menyatakan, Endang diduga jadi korban pembunuhan. Apalagi, HP dan tas milikkorban juga tak ditemukan.

Namun, Polres Probolinggo Kota memastikan, korban meninggal karena sakit yang dideritanya. Hal itu didasarkan pada hasil visum dan anatomi dari Identifikasi Polres Probolinggo Kota (Polresta) dan Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim, Senin (17/6) malam di RSUD dr. Mohamad Saleh. (rpd/hn)