Ternyata Banyak Orang Tua Calon Siswa yang Protes Lantaran Bingung Sistem Zonasi

PASURUAN – Sistem zonasi yang diberlakukan dalam PPDB tahun ini, menimbulkan protes di Pasuruan. Protes terjadi karena masih ada orang tua calon siswa yang tidak memahami sistem ini.

Kondisi ini terlihat saat beberapa calon siswa didampingi orang tua mengambil PIN pendaftaran di SMAN 3 Kota Pasuruan. SMAN 3 Kota Pasuruan sendiri merupakan salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah zonasi di Kota Pasuruan.

Salah satu orang tua calon siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, dirinya sengaja mendaftarkan anaknya ke SMAN 3. Sebab, dekat dengan tempat tinggal. Karena itu, dirinya berharap agar anaknya bisa diterima di SMAN 3.

“Saya memang sengaja memilih mendaftarkan anak saya di tempat ini karena kebetulan lokasinya berdekatan dengan rumah. Sekolah ini kan menggunakan sistem zonasi. Jadi, agar anak saya bisa diterima di sekolah ini,” ungkapnya.

Ketua Panitia PPDB SMAN 3 Kota Pasuruan Syaiful mengungkapkan, pihaknya sempat menerima protes dari orang tua calon siswa. Pasalnya, mereka berasumsi jika penerapan sistem zonasi ini hanya merujuk pada zonasi kedekatan. Yaitu, berupa jarak tempat tinggal dengan sekolah.

Padahal, sejatinya ada persentase yang sudah ditetapkan dalam PPDB Jatim. Yaitu, jalur online sebanyak 70 persen. Terdiri atas 50 persen zonasi dan 20 persen hasil ujian nasional (UN). Lalu, jalur offline 30 persen. Terdiri atas jalur prestasi 5 persen, 20 persen untuk siswa tidak mampu, dan 5 persen untuk mutasi kerja orang tua.

Menurutnya, ketidakpahaman di kalangan masyarakat ini terjadi lantaran kurang maksimalnya sosialisasi atas aturan sistem zonasi ini. Apalagi sistem zonasi ini pertama kali diterapkan secara serentak di seluruh SMA negeri secara nasional.

“Kami maklum dengan kebingungan yang dialami orang tua calon siswa. Sebab, sistem zonasi ini merupakan tahun pertama. Namun, harapannya masyarakat khususnya orang tua lebih proaktif untuk menggali informasi terkait sistem pendaftaran agar tidak terjadi kesalahpahaman,”sebutnya.

Jawa Pos Radar Bromo sudah berupaya meminta komentar Kepala SMAN 3 Kota Pasuruan Tri Saguh Noto Bawono. Namun, yang bersangkutan sedang mengikuti workshop pendidikan provinsi di Kota Batu.

“Agar saya tidak salah dalam menjawab, ketemu saja langsung dengan saya agar jawaban yang saya berikan tepat sesuai petunjuk teknis (juknis). Nanti kalau saya sudah di Kota Pasuruan, saya kabari,” terang Saguh -sapaan akrabnya- dalam pesan pendek, Selasa (18/6). (riz/fun)