Karyawan Warung-Restoran Ketar-ketir Tak Diperkerjakan Lagi saat Tempat Usaha Sepi Imbas Tol (3-Habis)

Adanya tol Trans Jawa ibarat 2 sisi yang saling berlawanan. Ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Tak hanya pemilik rumah makan di Pasuruan. Di Probolinggo, sejumlah restoran di jalur pantura juga mengalami omzet menurun.

————

Situasi rumah makan di jalur Pantura Probolinggo tidak seramai tahun-tahun lalu. Tidak ada lagi kendaraan pengunjung yang terparkir untuk sekedar makan siang sebelum melanjutkan perjalanan. Jalur Pantura tidak lagi menjadi satu-satunya akses jalan menuju kota-kota di Jawa Timur.

TAK SEPERTI DULU: Warung makan Elok di Desa Pesisir yang nampak sepi. (Ridhowati Saputri/Jawa Pos Radar Bromo)

Dibukanya Tol Trans Jawa yang melintasi Leces, Sumberasih dan Tongas, telah mengalihkan sebagian pengguna angkutan yang merupakan konsumen dari warung-warung dan rumah makan di jalur pantura. Akibatnya, sudah terlihat saat ini situasi sepi menghinggapi warung-warung makan di sepanjang jalan Kecamatan Sumberasih.

Salah satu yang terdampak adalah Warung Elok di Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Kian terasa saat Tol Paspro mulai operasional

“Kalau tahun 2018, situasinya masih ramai. Tol Paspro belum digunakan, warung ini masih ramai,” ujar Kani, salah satu karyawan warung Elok saat ditemui harian Jawa Pos Radar Bromo Senin (17/6).

Tahun lalu saat situasi normal dalam 1 hari bisa mendapatkan omzet minimal Rp 1 juta. Namun saat ini 1 hari maksimal hanya sampai Rp 200 ribu. “Turun lebih dari 50 persen. Selama ini kami tidak mengandalkan dari travel, tapi dari pengguna jalan secara umum,” ujarnya.

Kani yang merupakan warga Desa Pesisir melihat, situasi di jalan Pantura jauh lebih lengang dibandingkan tahun-tahun sebelum tol Paspro dibuka untuk umum. “Jalan pantura ini sekarang sepi. Kendaraan mobil-mobil yang bisanya melintas beralih ke Tol. Kebanyakan yang lewat truk dan bus,” ungkapnya.

Kani dan 2 rekan lainnya mengaku pasrah dengan situasi seperti ini. Ketiga karyawan ini mengaku was-was bila nantinya, pemilik mengurangi tenaga kerja. “Dengan situasi konsumen yang sepi seperti ini, mungkin akan dikurangi karyawannya,” ujarnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Warung Sari Rawon, yang berada di Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Turunnya konsumen yang datang terasa sejak tol Paspro dibuka.

“Terasa sekali turunnya sampai 50 persen ke omzet,” ujar Ponari, kasir Warung Sari Rawon saat ditemui harian ini. Kondisi ini juga banyak dirasakan oleh pemilik warung lainnya,” tambahnya.

Ponari menjelaskan bahwa warung Sari rawon memiliki pelanggan terutama dari Lumajang dan Jember. Biasanya pelanggan ini ketika akan ke arah Surabaya mampir ke warung yang dikelolnya. “Tapi sekarang ini kan sudah ada tol. Jadi, pelanggan kalau mau ke Barat cukup masuk Tol. Tidak lewat sini lagi. Kecuali mereka memang kangen dengan rawon disini, mereka turun lewat tol Muneng,” ujarnya.

Namun pemilik warung Sari Rawon yang juga saudara Ponari, telah mempertimbangkan untuk memindahkan lokasi warungnya. Hal ini bertujuan untuk mendekatkan dengan pelanggan lama yang kerap melintas melalui Tol Leces.

“Rencananya tahun depan akan dipindah ke Leces. Ini juga atas usulan dari pelanggan kami juga,” ujarnya.

Ponari mengakui, keberadaan tol memang berimbas pada pelaku usaha di jalur pantura. Untuk mengatasi ini maka pelaku usaha harus mencari cara supaya bisa tetap eksis. “Salah satunya adalah dengan memindahkan lokasi usaha,” jelasnya. (put/fun)