Izinnya Toko Modern, Ternyata Bangunan di Asembakor Ini untuk Kremasi Jenazah, Akhirnya Diprotes Warga

KRAKSAAN – Warga Desa Asembakor, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo Senin (17/6) mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. Kedatangan, warga tersebut untuk mengadukan masalah pembangunan tempat kremasi mayat yang izinnya berkedok pembangunan toko modern.

DIBAWA KE MUI: Protes bangunan ini bahkan dilakukan warga ke MUI. (Mukhamad Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, beberapa warga terlihat memasuki kantor MUI yang berada di Gedung Islamic Center (GIC) Kraksaan. Setelah masuk, kemudian pintu kantor MUI langsung ditutup. Di dalam sudah ada sejumlah pengurus MUI yang menemui warga.

Pertemuan berlangsung kira-kira sekitar 1 jam. Setelah selesai, baru kemudian Jawa Pos Radar Bromo, bisa berbincang dengan salah seorang warga yang bernama Jamal.

“Awalnya (pembangunan, Red) itu sekitar awal tahun 2019. Untuk mengeluarkan IMB (Izin Mendirikan Bangungan), warga dimintai tandatangan. Itu dilakukan oleh kepala desa dan juga satu perangkat. Tandatangan itu untuk IMB mendirikan toko waralaba,” ujarnya setelah pertemuan.

Namun, selang beberapa bulan berlangsung hingga pembangunan mencapai sekitar 90 persen, warga baru mengetahui kalau bangunan itu bukan untuk toko waralaba. Melainkan, pendirian bangunan guna menampung sementara mayat atau tempat kremasi.

Karena hal itu, ia kemudian bersama dengan warga lainnya, mengadukan kepada MUI.

“Kalau toko modern, kami setuju. Tetapi, kalau itu pembangunan tempat kremasi kami menolak,” ujarnya.

Ia juga mengancam, jika selang sepuluh hari setelah pertemuan tidak ada tindak lanjut, pihaknya bersama warga lain akan melakukan aksi unjuk rasa ke kantor desa. Sebab, pihaknya merasa dibohongi. “Ini kan pembohongan. Kalau dari dulu itu memang bilang tempat kremasi, kami tolak. Tidak sampai membangun,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Hosmania, salah seorang perangkat desa setempat. Meskipun perangkat desa, tetapi ia tidak sependapat dengan kepala desanya. “Kenapa harus berbohong. Itu dulu yang meminta izinnya memang kepala desa dengan salah satu perangkat. Kalau seperti ini, kami meminta untuk dibongkar,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris MUI setempat Yasin mengatakan, saat ini pihaknya hanya melakukan tabayyun. Pihaknya enggan memberikan pendapat lebih jauh. “Hanya tabayyun saja. Nanti semua pihak akan kami panggil,” ujarnya singkat.

Di sisi lain, Kades Sembakor Muhammad Jainulloh mengatakan, pihaknya sama sekali tidak melakukan pembohongan. Menurutnya, saat meminta tandatangan kepada 10 orang sekitar pembangunan itu, ia mengatakan, sedari awal sudah dijelaskan bahwa tujuannya memang untuk tempat kremasi mayat.

“Itu bohong. Awal itu sudah kami katakan kalau itu memang tempat kremasi mayat. Jadi kalau dibilang pendirian toko modern itu bohong. Saya tidak pernah seperti itu,” ungkapnya.

Kades juga tidak merinci, soal protes salah satu perangkat desa. Namun Jainulloh tetap bersitegas, pihaknya tidak pernah membohongi warga saat meminta tandatangan kepada warga di areal sekitar lokasi pembangunan. (sid/fun)