Eks Wawali Suhadak Dituntut 6,5 Tahun di Kasus Proyek Gedung Islamic Center

SURABAYA – Suhadak, Mantan Wakil Wali Kota Probolinggo dituntut berat 6,5 tahun, Senin (17/6). Dia juga harus mengganti rugi uang kerugian negara senilai Rp 775 juta. Pria 47 tahun itu, dinyatakan jaksa telah memenuhi unsur merugikan negara dalam pengerjaan proyek Gedung Multi Guna Islamic Center tahun 2012 lalu.

DITUNTUT TINGGI: Suhadak, Mantan Wawali Kota Probolinggo berjalan memasuki ruang sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya di Sidoarjo, Senin (17/6). (Denny Mahardika/Jawa Pos)

Usai mendengar tuntutan tersebut, wajah Suhadak mendadak tegang. Dia tampak tak percaya tuntutannya bakal tinggi. Apalagi, selama sidang, banyak hal yang tidak terbukti. Namun, jaksa dari Kejaksaan Negeri Kota Probolinggo tetap, menuntut enam tahun enam bulan.

Menurut Kasipidsus Kejari Kota Probolinggo, Ciprian Caesar, terdakwa memang terbukti memenuhi unsur pasal 2 undang-undang Tindak Pidana Korupsi. Apalagi, kerugian yang ditimbulkan telah sesuai dengan fakta yang ada dalam sidang.

Dia menerangkan, selain vonis hukuman penjara, Suhadak juga harus membayar denda senilai Rp 200 juta. Apabila tidak bayar, maka dia harus menggantinya selama tiga bulan penjara.

”Terdakwa juga harus mengganti kerugian negara. Jika tidak mampu membayar, harta bendanya bakal dilelang. Jika tidak mencukupi hukumannya bakal ditambah menjadi tiga tahun,” katanya saat membacakan tuntutan di Pengadilan Tipikor Surabaya di Sidoarjo. Ciprian menambahkan, ganti rugi itu dilakukan setelah adanya penghitungan dari tim ahli dari Brawijaya.

Sementara itu, penasihat hukum Suhadak, Nurkholik dan M Hasyim, mengaku keberatan terhadap tuntutan jaksa yang tinggi. Apalagi, tuntutan tersebut tidak sesuai fakta. Terutama soal kerugian negara. Bagi Nurkholik, saksi ahli dihadirkan oleh jaksa tidak dapat menghitung secara tepat kerugian dari pembangunan itu.

Dia juga menilai bahwa ahli dari tim Universitas Brawijaya tersebut, telah salah hitung. Sebab, dari hasil pengerjaan dan fakta dari saksi-saksi, proyek yang dikerjakan Suhadak telah sesuai.”Lalu apanya yang harus dikoreksi. Dan kerugian apa? Orang ahli hanya menilai dari luar saja. Bukan dari berkas seharusnya,” katanya.

Menurut Kholik, tuntutan itu berlebihan. Dia telah menyiapkan pledoi. Pembelaan tersebut memuat soal penghitungan ahli yang kurang tepat.”Kami akan memasukannya,” imbuhnya usai persidangan.

Kasus yang menjerat Suhadak bukan kali pertama. Sebelumnya, dia telah menjalani vonis lima tahun penjara atas kasus korupsi DAK tahun 2009. Dalam perkara ini, Suhadak sejatinya divonis dua tahun penjara. Suhadak lalu melakukan upaya kasasi, hingga akhirnya dia divonis Mahkamah Agung (MA) lebih beat, yakni 5 tahun penjara.

Terkait kasus kedua, Suhadak diduga telah merugikan negara Rp 775 juta. Uang itu atas pembangunan Gedung Islamic Center tahun 2012 yang dianggap tidak tepat sasaran. (den/JPG/fun)