Pajak Air Bawah Tanah Capai Rp 9,6 Miliar di Kuartal Pertama

PASURUAN – Tingginya perusahaan yang menggunakan air bawah tanah (ABT) membuat perolehan pajak ABT cukup tinggi. Sampai kuartal pertama tahun ini, pajak mencapai Rp 9,6 miliar atau 34,55 persen dari target setahun.

Mokhammad Syafi’i, kabid Pendataan, Penetapan, dan Pelaporan Pendapatan di Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Pasuruan mengatakan, perolehan pajak ABT setahun ini ditargetkan Rp 28 miliar. Dan, sampai kuartal pertama, pajak yang masuk sudah mencapai Rp 9,6 miliar atau 34,55 persen. Persentase ini lebih tinggi dari target per kuartal yang rata-rata 33 persen.

Pajak ABT sendiri adalah pajak yang dikenakan pada pabrik atau perusahaan untuk penggunaan air tanah yang dibor lebih dari 100 meter. Biasanya air tanah yang dibor ini diperuntukkan kebutuhan proses produksi.

“Mayoritas pemakai ABT adalah Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Termasuk perusahaan pengolahan lain yang membutuhkan air untuk produksi,” terangnya.

Dengan capaian 34,55 persen di kuartal pertama, Syafi’i pun optimistis target pajak ABT bisa tercapai. Apalagi pada bulan Mei mulai ada penyesuaian Nilai Perolehan Air (NPA) terhadap penggunaan ABT. Artinya, ada penyesuaian tarif. Sebab, sejak 2017 belum ada penyesuaian tarif.

“Di daerah lain sudah naik NPA-nya. Dan, kami mulai Mei 2019 ini ada penyesuaian kembali. Sehingga kami optimis bisa meningkatkan penerimaan Pajak ABT sampai akhir tahun nanti,” terangnya.

Bahkan, jika dirasa perolehan cukup baik, semester pertama nanti akan dievaluasi kembali. Jika berpotensi ada kenaikan, target pajak bisa dinaikkan pada Perubahan APBD 2019 mendatang. (eka/fun)