Cara Desa Gading di Winongan Pertahankan Kebudayaan dengan Rutin Gelar Selamatan Desa

Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, mempunyai berbagai potensi pertanian yang melimpah. Sebagai rasa syukur kepada Tuhan, saban tahun rutin digelar selamatan desa sekaligus sebagai ikon wisata desa.

—————-

Desa Gading, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, cukup mudah diakses. Desa ini berada di pertigaan Jalan Raya Winongan. Lokasinya terletak di segitiga dari Jalan Raya Rejoso-Gondangwetan ke arah Winongan.

Dari segi geografis desa ini cukup strategis. Sehingga, membuat potensi perekonomian warga makin menggeliat. Sejauh ini, mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Meski di sisi lain, juga tumbuh sejumlah usaha kecil menengah (UKM). Seperti, UKM mebel, paving, makanan-minuman, sampai perikanan dan peternakan. Ini, membuktikan jika potensi perekonomian desa ini cukup banyak.

Kepala Desa Gading Agus Salim mengatakan, dengan meningkatnya perekonomian warga, menjadi kewajiban generasi saat ini untuk mempertahankan kearifan lokal yang sudah rutin dilakukan desa. “Salah satunya dengan rutin mengadakan selamatan desa. Ini merupakan sejarah tradisi dan budaya desa. Sehingga, desa menjaga kegiatan ini agar terus dilestarikan,” terangnya.

Selamatan desa ini biasanya diadakan pada bulan Sura penanggalan Jawa atau Muharam pada penanggalan Hijriah. Setiap tahunnya, dalam kegiatan ini digelar selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Dimulai dari pengajian malam Jumat, khataman Alquran, termasuk pertunjungan Terbang Wedar yang merupakan kesenian khas Desa Gading.

Puncaknya berupa karnaval keliling Desa Gading, drama kolosal dari perwakilan RT untuk meramaikan, sampai lomba tumpeng dari hasil bumi yang ikut diarak keliling desa. Termasuk inti selametan desa adalah pengajian akbar serta santunan kepada anak yatim dan janda dilanjut Ishari dan Habsyi. “Selamatan sendiri pusatnya di pendapa desa. Semua warga desa antusias dan kompak ikut serta,” ujar Agus.

Menurunya, selamatan desa ini menjadi magnet yang menyedot animo masyarakat luar desa ikut menyaksikannya. Karenanya, tradisi ini terus dilestarikan dengan harapan dapat mendongkrak perekonomian warga. “Harapannya, selain sebagai ikon wisata desa, juga bisa memberikan dampak ekonomi. Termasuk melestarikan tradisi desa,” ujarnya. (eka/fun)