Omzet Rumah Makan di Jalur Pantura Turun setelah Beroperasinya Tol Trans Jawa (1-Bersambung)

Tak hanya UMKM yang mengeluhkan sepinya pembeli pada Lebaran tahun ini. Sejumlah rumah makan yang ada di jalur pantura Pasuruan-Probolinggo, mengeluhkan hal serupa. Beroperasinya tol Trans Jawa yang melewati jalur pantura, dituding sebagai salah satu penyebabnya.

——————

Arus lalu lintas setelah mudik Lebaran mulai normal di jalur Pantura di Pasuruan. Jumlah kendaraan yang melintas pun masih banyak. Namun, tahun ini arus mudik dan balik Lebaran tidak lagi seramai dulu. Setidaknya, itulah yang dirasakan sejumlah rumah makan yang berada di jalur Pantura Pasuruan.

Seperti Rumah Makan BL di Jalan Veteran, Kelurahan/Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Seminggu setelah Lebaran, tiga mobil dan dua motor terparkir di halaman Rumah Makan BL. Kendati sudah masuk jam makan siang pukul 12.30, namun pengunjung tidak penuh. Hanya 4-5 meja yang terisi.

Aini Aprilia, bagian administrasi di Rumah Makan BL mengatakan, kondisi rumah makan memang kembali normal setelah arus mudik dan balik Lebaran. Namun, selama arus mudik dan balik, pengunjung rumah makan cenderung menurun. Bahkan, penurunannya sampai 20 persen.

Menurutnya, arus mudik dan balik Lebaran selalu memberikan pemasukan lebih pada rumah makan. Selama Lebaran itu, biasanya pengunjung bisa meningkat hingga lipat dua. Namun, tahun ini kondisinya berbeda. Pengunjung menurun sampai 20 persen dari biasanya.

Salah satu faktornya, menurut Aini, beroperasinya tol Trans Jawa yang melewati jalur pantura Pasuruan – Proboilinggo. Mulai Gempol Pasuruan (Gempas) hingga Pasuruan Probolinggo (Paspro).

“Memang ada imbas dari pembukaan Tol Gempol – Probolinggo. Sekarang ada penurunan rata-rata hingga 20 persen dari biasanya,” terangnya.

Penurunan terjadi karena pengendara yang biasanya melintas di jalur Pantura, kini banyak beralih ke jalan tol. Padahal, mereka inilah salah satu konsumen utama rumah makan.

“Ya, orang mudik inginnya kan cepet sampai. Jadi wajar kalau memilih jalur tol. Dan, rumah makan di jalur pantura kena imbas. Biasanya makan di rumah makan, jadi tidak karena lewat tol,” terangnya.

Untuk mencegah agar tidak makin terpuruk, BL akan meningkatkan pelayanan dan menambah menu-menu baru. “Kalau pelanggan lama masih kemungkinan balik, termasuk masyarakat sekitar yang sudah biasa ke sini,” terangnya.

Selain rumah makan di Kota Pasuruan, di Rejoso, Rumah Makan Tengger juga mengalami penurunan omzet cukup drastis. Setelah beroperasinya Tol Pasuruan – Probolinggo, omzet per hari rata-rata anjlok 60-70 persen.

“Sangat terasa sekali penurunannya. Sebab, pengunjung Rumah Makan Tengger ini dominasi adalah pelancong. Sehingga, sejak beroperasinya tol penurunan cukup tajam,” keluh Lembah Setyorini, pengelola Rumah Makan Tengger.

Menurutnya, penurunan mulai terasa sejak tol Paspro beroperasi dan digratiskan pada Februari 2019. Pengendara banyak yang mencoba tol baru. Dilanjutkan dengan arus mudik dan balik Lebaran, banyak masyarakat yang mencoba tol baru.

Akibatnya, pengendara di jalur Pantura berkurang. Dan ini berimbas kepada pengunjung rumah makan. Pengunjung rumah makan pun jadi berkurang.

Lembah memang masih meyakini, efek hype ini terjadi di awal pembukaan jalan tol saja. Dia berharap, setelah agak lama dan tarif tol makin mahal, pengendara kembali lewat jalur Pantura.

“Harapannya sih ini tidak berlangsung lama. Mungkin ini lagi hype dan banyak yang ingin mencoba jalan tol. Jadi semua lewat tol,” terangnya.

Sepinya Rumah Makan Tengger selama beberapa bulan terakhir, membuat sejumlah karyawannya mundur. “Ini murni inisiatif karyawan sendiri ya. Mereka memilih mundur. Kami sendiri melihat kondisi sekarang. Jadi, tidak menambah karyawan lagi kendati ada beberapa yang mundur,” terangnya.

Namun, memang tak semua rumah makan mengalami penurunan omzet yang drastis. Di Rumah Makan Kebon Pring, Kota Pasuruan, dampak hanya terasa saat awal dibukanya tol Bangil – Pasuruan.

“Sempat memang ada penurunan saat tol dibuka. Kebetulan di depan rumah makan memang ada pembenahan jalan. Sempat turun hingga 50 persen saat itu,” terang Arifin, manager operasional Rumah Makan Kebon Pring.

Namun, setelah pengerjaan jalan selesai di akhir tahun 2018, kondisinya normal lagi. Bahkan, pembukaan Tol Pasuruan-Probolinggo tak membuat omzet menurun.

Penyebabnya, menurut Arifin, pelanggan rumah makan tetap memilih keluar jalan tol dan makan di jalur Pantura. Seperti travel, instansi pemerintah atau swasta, dan masyarakat sekitar.

“Untuk pelanggan-pelanggan yang sejak lama terutama travel, banyak yang keluar dari tol. Baik di Bangil ataupun Kota Pasuruan. Mereka makan di sini, kemudian lanjut lagi masuk tol,” terangnya.

Saat ini, bahkan omzet Rumah Makan Kebon Pring tetap stabil. Termasuk saat arus mudik dan balik Lebaran, justru naik 50 persen dibanding Lebaran tahun lalu.

Arifin mengatakan, kendati jalan tol sudah beroperasi, namun wisata-wisata kuliner masih menjadi pilihan. Terutama wisata kuliner yang ikonik dan punya banyak pelanggan di jalur Pantura.

“Kami optimistis kendati tol sudah beroperasi, tapi wisata kuliner yang ikonik tetap menjadi pilihan. Jadi, pengendara jalur pantura yang rutin melintas pasti mencari makanan-makanan khas lokal sehingga tetap ramai dikunjungi,” ujarnya. (eka/fun)