Mudik, Buron Pembobol Rumah Polisi asal Puspo Ini Dibekuk

BANGIL – Pelarian Arto, 26, warga Dusun Lasgung, Desa Janjang Wulung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, akhirnya terhenti. Ia ditangkap lantaran jadi buron polisi terkait kasus pencurian pada 2017 lalu.

Arto sendiri terlibat aksi bobol rumah. Ia tergolong pencuri nekat. Sebab, rumah yang dibobolnya adalah milik seorang anggota polisi.

Arto ditangkap anggota Buser Polres Pasuruan, Selasa (11/6) sore. Ketika itu, ia sedang berada di rumahnya. Ia pulang untuk mudik lantaran merasa kangen setelah merantau untuk menghilangkan jejak dari kejaran polisi.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Dewa Putu Prima menyampaikan, Arto terlibat dalam pembobolan rumah milik anggota Buser Polres Pasuruan, Miftahul Rofik. Aksi itu dilakukannya 19 April 2017.

Ia tidak sendirian karena dalam aksi pencurian tersebut, ia bersama rekannya, Suhan Efendi, 26, warga Tempuran, Kecamatan Pasrepan. Suhan berhasil ditangkap lebih dulu. Keduanya membobol rumah korban yang terletak di Perumahan Gempol Asri, Kecamatan Gempol, dengan cara merusak pagar gembok.

Gembok pagar itu dirusak dengan menggunakan alat berupa kunci T untuk bisa masuk ke dalam rumah. “Tersangka kemudian mengambil sepeda motor Honda Vario yang terparkir di teras rumah korban. Selanjutnya, mendorong motor tersebut keluar rumah,” jelas AKP Dewa.

Keduanya berbagi peran. Tersangka Arto alias Surto ini berperan sebagai joki. Sementara rekannya, berperan sebagai eksekutor.

Aksi pembobolan itu sendiri akhirnya gagal. Itu, setelah istri korban mendengar pagar rumah yang berbunyi. “Setelah dilihat, ada pelaku yang menggondol motor. Saat itulah, istri korban menelpon suaminya yang merupakan anggota polisi,” sambungnya.

Kebetulan, posisi korban tidak jauh dari rumahnya. Segera saja, ia meluncur dan memergoki pelaku. Aksi kejar-kejaran tak terhindarkan.

Hingga akhirnya, keduanya berhasil dihadang. Namun, hanya Suhan yang berhasil ditangkap waktu itu. Sementara, Arto berhasil melarikan diri.

Ia memilih kabur ke Madura dari kejaran polisi. Di sana, ia bekerja sebagai pemanggul gabah. “Namun, karena rindu dengan keluarganya, ia memilih pulang. Saat pulang itulah, kami menangkapnya,” tambah Dewa.

Dalam pemeriksaan petugas, Arto mengaku tak hanya sekali beraksi. Tercatat ada enam TKP lain yang dilakoni. “Selain beraksi di wilayah kota dan Kabupaten Pasuruan, ia juga beraksi di Surabaya maupun Sidoarjo,” urainya.

Karena perbuatannya itulah, tersangka disangkakan melanggar pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan. Ancamannya, 7 tahun penjara. (one/mie)