Kisah Cinta Ina Ningsih yang Mau Dinikahi Dasuki, Lelaki Penderita Lumpuh Sejak Lahir

Selasa (11/6) malam itu, Desa Gondangrejo, Kecamatan Gondangwetan dibuat heboh. Seorang laki-laki 54 tahun yang lumpuh sejak lahir, mendadak menikah. Warga makin heboh karena yang jadi calon istrinya adalah perempuan yang relatif sehat secara fisik.

———————

Jodoh memang di tangan Tuhan. Tidak ada yang bisa menebak, siapa akan menikah dengan siapa. Dan, itulah yang terjadi pada Dasuki, 54 dan Ina Ningsih, 40, warga Desa Gondangrejo, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan.

BAHAGIA: Dasuki dan Ina yang kini sudah menjadi pasutri. (Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Pasangan yang tidak biasa itu, menikah pada Selasa (11/6) malam di rumah Dasuki. Akad nikah sederhana yang digelar pukul 18.30 itu pun berlangsung di bawah pandangan takjub semua undangan yang hadir.

Bagaimana tidak? Secara fisik, Dasuki mengalami lumpuh sejak lahir. Setiap hari, dia hanya bisa tidur di ranjang. Usianya pun sudah tidak muda lagi. Yaitu, 54 tahun.

Sementara Ina Ningsih adalah perempuan yang relatif sehat secara fisik. Usianya juga ‘baru’ 40 tahun. Terpaut 14 tahun dengan Dasuki.

Di atas kertas, Ina tentu akan memilih laki-laki yang juga sehat secara fisik. Apalagi, dua mantan suaminya adalah lelaki yang juga sehat secara fisik.

Namun, takdir mempersatukan mereka. Perempuan manis yang sudah menjanda dua kali itu, terpikat dengan kebaikan Dasuki. Hingga dia pun menerima lamaran perjaka itu untuk menjadi istrinya.

Wartawan Jawa Pos Radar Bromo pun mengunjungi persiapan akad nikah yang digelar Selasa (11/06) malam. Di depan SPBU Gadingrejo, Jalan Raya Gondangwetan, terdengar keras nyanyian dangdut dari sound system.

Di rumah Dasuki, tempat akad nikah digelar, memang tak tampak terop. Juga tidak ada hiasan selamat datang bagi tamu atau undangan. Satu-satunya penanda bakal ada pesta pernikahan adalah suara sound system yang dinyalakan cukup nyaring.

Namun, kendati tidak ada hiasan yang terlalu mewah, pernikahan itu justru mengundang antusias tinggi dari tetangga dan warga sekitar. Mereka tampak memadati dua rumah di sana. Yaitu, rumah Dasuki dan saudaranya.

Dari luar, dua rumah yang berdekatan itu tampak lebih ramai. Sejumlah warga keluar masuk dari rumah itu. Sebuah rumah yang lebih besar, dialasi karpet dari teras sampai ruang tamu. Sedangkan di rumah yang lebih sederhana, hanya terdapat dipan, lemari, dan satu tv tabung ukuran 14 inchi.

Di atas dipan itu, tampak laki-laki yang sangat kurus terbaring di kasur. Mukanya terlihat ceria, meskipun kaki dan tangannya tak bisa bergerak leluasa. Seorang perempuan setengah baya tampak sibuk menjaga “calon pengantin” yang terbujur di tempat tidur.

“Ya nanti akad nikahnya di sini karena Dasuki memang tak bisa turun dari ranjang,” ujar Zubaidah, 59, kakak perempuan Dasuki.

Zubaidah bercerita, sejak lahir adik bungsunya itu lumpuh. Berbagai upaya pengobatan sudah dilakukan. Baik ke dokter maupun pengobatan alternatif. Namun, semuanya tidak berhasil. Tidak ada yang bisa menyembuhkan kelumpuhan yang dialami Dasuki.

“Ada yang bilang Dasuki ini polio. Ada yang ngomong, tulang tidak berkembang. Macam-macamlah. Tapi, ya sampai usia 54 tahun di ranjang terus,” cerita Zubaidah.

Karena kondisinya itu, seumur hidupnya, Dasuki tidak pernah keluar rumah. Bahkan, dia tidak pernah bersekolah. Satu-satunya ilmu yang didapat hanya dari TV yang berada di dekat tempat tidurnya.

Selama itu, dia dirawat orang tuanya. Sampai akhirnya orang tuanya meninggal puluhan tahun lalu. Dasuki kemudian dirawat oleh keluarga dan tetangga dekat.

Karena kelumpuhan itu juga, keluarga tidak pernah berpikir Dasuki akan menikah. Bahkan, saat akhirnya Dasuki akan menikah, keluarga masih tidak percaya. Terutama Zubaidah, kakaknya yang selama ini ikut merawatnya.

Dia tidak mengira, Dasuki yang lumpuh sejak lahir, bahkan tidak pernah turun dari ranjang, akhirnya menikah di usianya yang 54 tahun. Apalagi, Ina, calon istrinya perempuan yang relatif sehat secara fisik.

Ina mantap menjadi istri Dasuki setelah mengetahui kebaikan anak terakhir dari empat bersaudara itu. Ya, Dasuki yang lumpuh total sejak lahir, memang punya kelebihan.

Sejak tahun 2000-an, Dasuki punya kemampuan menyembuhkan orang sakit. Melalui doa, dia mengobati banyak orang yang datang padanya. Doa-doanya dipercaya cukup manjur menyembuhkan orang sakit.

Sehingga, tak sedikit yang datang untuk berobat. Baik dari Pasuruan sendiri, juga dari daerah lain yang jauh. Seperti dari Kalimantan, Jakarta, dan Malaysia.

“Kalau mengobati, Dasuki ini memberi doa-doa saja. Ibaratnya, dia ini perantara. Yang menyembuhkan tetap Allah,” terang Zubaidah, 59, kakak perempuan Dasuki.

Dasuki sendiri bisa ngobrol, meskipun artikulasinya kurang jelas. Orang sekitar mengatakan, Dasuki orang pintar, bahkan dikatakan bisa mengaji.

Hal inilah yang ternyata mempertemukan Dasuki dengan jodohnya, Ina. Sekitar bulan Mei lalu, Ina sakit perut. Temannya lantas menyarankan Ina berobat ke Dasuki.

Ina sendiri, meskipun satu desa dengan Dasuki, ternyata tidak banyak tahu tentang Dasuki. Termasuk kemampuannya menyembuhkan sakit. Karena itu, Ina awalnya datang untuk berikhtiar saja.

Pada pertemuan pertama, Ina diberi air putih yang sudah didoai oleh Dasuki. “Jadi ya saya datang minta disembuhkan. Saat itu dikasih air putih dan ternyata sembuh,” terangnya malu-malu.

Ternyata, pertemuan pertama itu menumbuhkan benih-benih cinta di hati Dasuki. Nomor handphone Ina pun disimpan oleh anak angkat Dasuki yaitu Mukti, 21.

Setelah pengobatan pertama itu, Dasuki minta Ina datang lagi untuk pengobatan lanjutan. Lewat Mukti, Dasuki menelepon Ina untuk kembali diperiksa.

Ibarat Pedekate, di pertemuan ke dua, Dasuki pun to the point mengutarakan perasaan sukanya pada Ina. “Mau gak sama saya,” begitu ungkapan Dasuki saat itu.

Ina pun menjawab malu-malu. “Ya wes besok-besok saja,” katanya.

Ibarat dapat lampu hijau, setelah Lebaran keluarga Dasuki datang ke rumah Ina untuk melamar. Yang datang yaitu Zubaidah, kakak Dasuki; Pak Mudin; dan dua saudara Dasuki yang lain.

Tak dinyana, Ina ternyata mau menerima pinangan Dasuki. Dia bersedia menjadi istri Dasuki lantaran menganggap lelaki yang tidak pernah bersekolah itu orang yang baik dan manis.

Ina sendiri secara fisik juga tunadaksa. Tangan kanannya tidak berkembang. Namun, selain itu kondisinya normal. Di usianya yang menginjak 40 tahun, dia sudah menjanda dua kali.

Suami pertamanya meninggal. Sementara suami ke duanya pergi begitu saja. Dari kedua pernikahannya, dia belum memiliki momongan.

Dengan asam garam kehidupan yang pernah dilaluinya, Ina pun sreg dan mau menerima Dasuki dengan kondisinya yang lumpuh sejak lahir. Bahkan, dia berjanji akan merawat Dasuki yang tidak pernah turun dari ranjang.

Ina mau menerima karena yakin Dasuki adalah pria yang baik. Bahkan, dia yakin Dasuki bisa memberinya nafkah lahir dan batin. Sebab, selama ini Dasuki bisa menafkahi dirinya sendiri dari memberikan doa dan pengobatan untuk orang lain.

Dasuki sendiri begitu bahagia dengan pernikahannya. Dia pun yakin bisa menafkahi Ina lahir dan batin. Bahkan, dia optimistis mereka bakal segera mendapat momongan.

Sebab, meskipun lumpuh sejak lahir, Dasuki mengatakan dirinya normal secara biologis. Karena itu, dia yakin bisa memberikan nafkah batin kepada Ina.

“Bisa kok, wong bisa berdiri,” kelakar Dasuki yang diikuti tawa keluarga dan tetangga di sekitarnya, sesaat menjelang akad nikah pada pukul 18.30.

Ya pernikahan Dasuki dan Ina menjadi bukti keagungan Tuhan. Bahwa, jodoh benar-benar ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan sudah menggariskan jodoh seseorang. (eka/fun)