Cerita Pasutri M. Romli-Anisah yang Dua anaknya Dilahirkan di Atas Becak dan Mobil Pikap

PUTRA KEEMPAT: M Romli menimang Muhamad Sulton di rumahnya di Desa Kersikan, Gondangwetan. Sulton dilahirkan persis menjelang umat muslim melaksanakan salat Idul Fitri. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Proses kelahiran buah hati memang acapkali dilakukan di tempat medis. Bisa di bidan, dokter atau di rumah sakit. Namun pengalaman Muhammad Romli dan Anisah sungguh unik. Betapa tidak, anak ketiga dan keempat mereka dilahirkan di atas kendaraan.

————–

Raut semringah tampak di wajah pasutri M. Romli dan Anisah. Senyum mengembang tak henti-hentinya ditujukan oleh keduanya. Maklum, keduanya baru saja dikaruniai anak keempat. Lahirnya pun di bulan Syawal, persis saat pasutri asal Desa Kersikan, Kecamatan Gondangwetan ini, hendak berangkat salat Ied.

Ilustrasi

Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke kediaman mereka, suasana Lebaran juga masih terasa. Kue-kue Lebaran masih tersaji diatas meja. Keduanya pun nampak berbahagia Terlebih lagi Muhammad Romli, yang berhenti mengucapkan syukur.

Seraya ramah, Romli terlihat nyaman menimang-nimang Muhamad Sulton. Anak keempatnya yang baru berusia sekitar satu pekan. “Ini anak keempat saya, dan ini anak laki-laki kedua saya,” kata Romli, panggilan akrabnya.

Dari perkenalan itu, Romli pun bercerita, ada kisah unik yang dialami dirinya beserta sang istri, saat proses kelahiran Muhamad Sulton. Betapa tidak, anak keempatnya itu dilahirkan diatas mobil pikap. “Semuanya lahir saat dalam proses menuju tempat medis,” kata Sulton.

Hal ini juga dibenarkan Muthoillah, adik dari M. Romli. Muthoillah pula yang menjadi saksi hidup proses kelahiran keponakannya tersebut. Sebab, dialah yang mengemudikan mobil pikap, saat Anisah merasakan kontraksi hendak melahirkan.

Mutok-panggilan akrab Muthoillah- mengungkapkan, saat kelahiran Muhamad Sulton, sejatinya juga tak ada kendala. “Hanya waktu itu kami memang hendak bersiap untuk salat Ied. Persis 5 Juni lalu,” kata Mutok.

Saat itu, tidak ada tanda-tanda Anisah akan kontraksi. Tiba-tiba perut Anisah terasa sakit seperti orang hendak melahirkan. Pasutri ini lantas segera mencari kendaraan untuk mengantar ke tempat bidan. Dan kebetulan, saat itu kendaraan yang tersedia itu mobil pikap. Dengan menaiki mobil pikap, pasutri ini hendak menuju rumah bersalin Ibu Bertha di Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan.

Mutok yang menjadi driver mobil pikap, awalnya sempat khawatir. Apalagi, Mutok merasa, pikap yang dikemudikannya sejatinya kerap digunakan untuk membawa lele dari hasil ternaknya. “Saya pun nderedeg bercampur was-was. Bagaimana jika nantinya, melahirkan di jalan. Soalnya, kakak saya itu juga pernah melahirkan di jalan. Itu terjadi saat proses kelahiran anak ketiganya,” terang Mutok.

Dugaan Mutok benar. Sebab, saat perjalanan mereka menuju Krampyangan belum sampai, kontraksi perut Anisah kian kuat. Padahal, waktu itu perjalanan baru sampai di Bakalan. Kira-kira kurang 3 kilometer lagi.

Dan, apa yang dikhawatirkan Mutok terjadi. Anisah akhirnya melahirkan di jalan. “Saya tidak bisa apa-apa. Karena saya paling takut dengan darah,” kata Mutok sembari diiyakan M Romli.

Tetapi, Mutok harus tetap fokus mengemudi. Waktu itu di pikirannya, dia harus segera tiba di rumah bersalin Bu Bertha yang ada di Krampyangan. Lantaran tahu ada bayi di bak pikap, cara mengemudinya pun harus hati-hati.

“Dari awal sudah hati-hati. Tetapi saya kan tahu, di belakang ini ada bayi yang baru dilahirkan. Ibunya pun pasti masih merasakan sakit. Wong saya juga pengalaman dengan istri melahirkan,” terang Mutok.

Singkatnya, mereka akhirnya tiba di rumah bersalin. Beruntung, mereka disambut sigapnya petugas di rumah bersalin tersebut. Disana, bayi dan ibunya langsung ditangani dengan baik oleh petugas yang piket saat itu.

“Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat dan sehat. Bayinya berjenis kelamin laki laki. Dan saat tiba dirumah bersalin ibu bertha tepat saat pelaksanaan salat Idul Fitri. Kami sangat senang karena petugas di rumah bersalin bidang Bu Bertha sangat sigap. Padahal sejatinya saat itu hari raya Lebaran, dan waktunya orang-orang salat Ied pula. Tetapi petugas sangat cekatan,” terang M Romli.

Kisah kelahiran diatas kendaraan ini, sejatinya bukan “barang baru” yang dialami M Romli dan Anisah. Putra ketiga mereka yakni Lailatul Izzah Romdoniyah, yang kini sudah berusia 3 tahun, juga dilahirkan diatas kendaraan. Tepatnya diatas becak. Hal inilah yang membuat Romli, lagi-lagi bersyukur.

Dia pun menceritakan pengalaman kelahiran putra ketiganya dahulu. Anak ketiganya tersebut, juga lahir saat hendak pergi ke rumah bidan. Bayinya sudah lahir duluan sebelum sampai di rumah bidan yang di tuju. “Waktu itu lahir saat perjalanan baru melintas di Desa Lajuk, Kecamatan Gondangwetan, yakni ketika magrib,” kenang M Romli.

Romli sendiri tak menyangka, jika istrinya saat melahirkan anak ketiga dan keempat, akan lahir diatas kendaraan. Sebab anak pertama dan kedua mereka yakni Elok Umdatul Hoirot, 7; dan Muhamad Muhibin, 4, dilahirkan sebagaimana orang kebanyakan melalui proses persalinan di tempat medis.

Romli menjelaskan Anisah selalu melahirkan anak yang dikandungnya saat kandungan mencapai usia tua. Rata-rata berkisar antara 10 sampai 11 bulan. Selama mengandung, istrinya selalu beristirahat di rumah.

Saat kelahiran anak ketiga dan keempat, Romli mengaku, selalu di samping Anisah. Ia jugalah yang membantu proses kelahirannya. Kendati demikian, dirinya tetap membawa istri dan anaknya itu ke rumah bersalin untuk mengecek kondisi kesehatan mereka.

“Tidak ada yang berbeda dengan proses kelahiran normal. Cuma, saat dalam perjalanan untuk kelahiran anak ketiga dan keempat, kepala bayi sudah keluar terlebih dahulu. Alhasil saya membantu agar seluruh badan bisa keluar. Sementara untuk pemotongan ari-arinya tetap dilakukan medis,” sebutnya. (riz/fun)