Tersangka Pembunuhan di Malam Takbiran Terancam 15 Tahun Penjara

TONGAS – Polres Probolinggo Kota merillis perkara pembunuhan yang terjadi pada saat malam takbir pada Selasa (4/6) malam silam. Dua dari tiga pelaku yang sudah diamankan, dipamerkan ke hadapan media. Para pelaku ini terancam hukuman berat dan bisa dipenjara belasan tahun.

AKIBAT EMOSI: Dua dari tiga pelaku pembunuhan Fahrur Rozi yang mengaku emosi lantaran ditegur korban saat malam takbiran silam. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Rilis yang berlangsung Senin (10/6) itu langsung dipimpin Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal. Dalam pernyataan persnya, kapolresta menyebut, setidaknya, akibat perbuatan yang dilakukan pelaku pembunuhan tersebut terancam pasal 338 Sub 354 Ayat (2) Sub 351 Ayat (3) KUHP, terkait dengan aksi pembunuhan.

“Jadi untuk pembunuhannya memang ada niatan, mengingat ada pelaku yang pulang untuk mengambil sebilah celurit. Namun hal itu dilakukan secara spontan akibat cek-cok. Sasarannya tidak dikenal. Artinya bukan murni direncanakan secara matang dan terorganisir,” terang AKBP Alfian Nurrizal.

Adapun Barang Bukti (BB) yang berhasil diamankan yakni, sebilah celurit jenis bulu ayam sepanjang 39 CM, 1 unit sepeda motor Yamaha Vixion warna merah tanpa nopol serta dua pasang baju yang dikenakan oleh pelaku yakni M Syahriful Munir alias Monyet, 18, warga Dusun kapasan, RT 23/RW 9, Desa Tongas Wetan; dan juga Aik Fauzi Purnamadani alias Dalbo, 20 Dusun tambol, RT 13/RW 5, Desa Tongas Kulon.

Dari hasil pemeriksaan kepolisian, lanjut Alfian, Munir alias Monyet mengatakan bahwa mulanya ia bersama dengan sembilan temanya sedang pesta miras di salah-satu toko di daerah Tongas Wetan. Selanjutnya, kesembilan orang tersebut berkeliling dengan menggunakan empat sepeda motor. “Jadi saya bonceng tiga, yakni dengan Iwan dan Suroso,” terang Munir saat ditanya Alfian.

Sesampainya di Jalan raya Lumbang, Desa Tongas Wetan, Iwan membleyer motor yang digunakannya. Sementara itu, di lokasi yang sama, ada sejumlah pemuda yang sedang bakar ikan. Melihat tingkah pemotor tersebut, sejumlah pemuda itu menegurnya. Tak terima ditegur, akhirnya keduanya cekcok atau adu mulut.

Buntutnya, terjadilah aksi tawuran yang menyebabkan pingsannya Badrul. Badrul merupakan salah satu dari sembilan pemotor yang bleyer tersebut. Selain itu Badrul dengan Munir masih ada hubungan saudara. “Jadi saat mereka mengejar, yang kena itu Badrul. Saat dipukul Badrul sempat pingsan. Kemudian saya balik lagi untuk menolong Badrul, namun mereka hendak mengejar saya. Sehingga saya hanya bawa ceweknya Badrul dan kabur. Soalnya Badrul bawa motor sendiri sama ceweknya dan dia pingsan,” terang Munir.

Melihat Badrul terkapar pingsan di lokasi bentrok, Munir selanjutnya langsung pulang kerumahnya. Ia langsung mengambil sebilah celurit dan pergi kembali. “Jadi, ceweknya Badrul saya taruh di rumah. Ibu saya dan juga ceweknya Badrul sempat melarang saya untuk kembali, Namun saya tetap pergi,” bebernya.

Pada saat perjalanan menuju lokasi awal, Munir bertemu dengan Aik atau Dalbo. Selanjutnya Dalbo diajak untuk ikut denganya. “Awalnya saya hanya bilang ke Dalbo, ayo ikut saya. Dalbo yang nyetir motor saya. Di jalan saya ceritakan kalalu mau mencari orang yang melakukan pemukulan tersebut,” bebernya.

Selanjutnya tak jauh dari lokasi pingsannya Badrul, ia melihat sekelompok pemuda yang sedang bakar ikan. Seketika itu pula, ia langsung putar arah dan turun dari motornya. Tanpa banyak bicara, celuritnya ia langsung tebaskan pada M Fathur Rozi. Celurit langsung mengenai ulu hatinya. “Saya bacok satu kali dan langsung melarikan diri ke Lekok,” terangnya.

Sementara itu Aik membenarkan jika Munir lakukan pembacokan satu kali. “Saya tidak lihat pada saat bacoknya. Yang saya lihat pada saat yang dibacok mau roboh dan saya langsung tancap gas,” ungkap Aik. Selang dua jam setelah kejadian kedua pelaku langsung berhasil ditangkap petugas kepolisian.

“Jadi untuk Aik ini ancamannya tidak sama dengan Munir. Aik terancam pasal 55 KUHP lantaran ikut terlibat di dalamnya. Sebab yang mengemudikan motornya si Munir yakni Aik,” pungkas Alfian Nurrizal.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa berdarah mewarnai malam takbiran, Selasa (4/6) di Dusun Krajan, Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. M. Fahrur Rozi, 24, dibacok dua anggota geng pemuda, saat sedang mayoran dengan teman-temannya.

Korban pun langsung dilarikan ke IGD RSUD Tongas oleh rekan-rekannya, sesaat setelah kejadian. Namun, nyawanya tidak tertolong. Saat sampai di IGD, warga RT 14/RW 06, Kelurahan Tongas Wetan itupun, meninggal dunia dengan luka bacok di dada. Atas insiden itu, polisi sudah mengamankan dua orang yang diduga sebagai pelakunya. Mereka adalah Misbahul Munir, 18, warga Desa Tongas Wetan dan Ayi, 18, warga Desa Tongas Kulon. (rpd/fun)