Pelaku yang Dituding Jadi Otak Utama Pembunuhan Menyerahkan Diri, Tapi Polisi Bilang Tak Terlibat

TONGAS – Dua pelaku kasus pembunuhan yang terjadi di malam takbiran lalu, sudah dibekuk. Dalam insiden itu, ada nama lain yang ikut diseret. Dia adalah Suroso, 20. Nama terakhir yang disebut sempat dituding massa, sebagai otak pelaku utama pembunuhan. Suroso, yang sempat melarikan diri selama dua hari ke Surabaya, akhirnya menyerahkan diri. Warga Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo menyerahkan diri ke Polsek Tongas dan selanjutnya langsung di bawa ke Mapolresta pada Senin (10/6) dini hari.

Hasil dari pemeriksaan, Suroso tidak ikut terlibat dalam aksi pembacokan yang mengakibatkan hilangnya nyawa tersebut. Namun Suroso yang terkenal sering membuat onar atau meresahkan masyarakat saat dijumpai petugas, sedang membawa sebuah senjata tajam berupa celurit.

Kendati demikian, hal tersebut bukan satu rangkaian atas aksi pembacokan yang terjadi pada malam takbir tersebut. Hasil pemeriksaan, menurut AKBP AlfianNurrizal, sebelumnya, memang ada sembilan orang yang lakukan pesta miras disalah satu warung desa setempat. Didalamnya ada Suroso, Munir dan Aik (pelaku pembacokan). Kemudian mereka berkeliling bersama hingga terjadinya bentrok. Selanjutnya semuanya sudah berpencar masing masing.

Kebetulan, Suroso pada saat itu membawa sebilah senjata tajam berupa celurit. Suroso yang terkenal sering meresahkan masyarakat tersebut sering nongkrong di simpang tiga jalan tersebut. Namun pada saat aksi pembacokan itu terjadi, warga langsung menghubungi petugas Polsek. Petugas Polsek langsung melakukan pengejaran terhadap Munir dan Aik (pelaku pembacokan). Ketika melintasi pertigaan tersebut, terlihat ada Suroso dan tiga temanya sedang ebrada di tepi jalan. Sehingga petugas pun menghampirinya.

Melihat ada petugas yang mendekat, Suroso pun langsung melarikan diri. Pasalnya saat itu Suroso membawa celurit. Melihat ketiga pria melarikan diri, timbul kecurigaan dari petugas. Sehingga petugas pun langsung lakukan pengejaran.

“Jadi sebetulnya Suroso tidak terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Lokasi dan peristiwanya berbeda. Hanya saja memang Suroso terkenal sering membuat onar atau meresahkan masyarakat,” terang AKBP Alfian.

Selanjutnya, warga yang salah persepsi langsung menuduh Suroso ikut terlibat. Bahkan dituding menjadi otak dari peristiwa meninggalnya warga sekitar. Warga mendesak Suroso untuk segera ditangkap. Tak hanya itu, Rumah Suroso juga dirusak.

“Memang Suroso terkenal sering meresahkan masyarakat, namun dia tidak terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Suroso datang dan menyerahkan diri salah satunya untuk menepis dan menjelaskan ketidakterlibatannya. Dia kesini (Mapolresta) didampingi oleh Arif, kakak iparnya dan juga Saiful Kakaknya,” tandas AKBP Alfian Nurrizal.

Meski begitu, lantaran aksinya yang membawa celurit, Suroso terancam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Darurat No 12 Tahun 1951. Sampai berita ini ditulis, Suroso masih diamankan di Mapolresta. Selain masih dimintai keterangan oleh penyidik, juga untuk menyelamatkan dirinya jika nantinya ada massa yang masih salah persepsi dan berusaha melakukan tindakan main hakim sendiri.

“Jadi, segala bentuk yang melanggar hukum, biarkanlah kami yang melakukan tindakan. Tentunya sesuai dengan aturan hukum yang ada. Jangan sampai ada tindakan main hakim sendiri,” pungkasnya. (rpd/fun)