Dua Kades Diperiksa Lantaran Diduga Terlibat Perusakan Rumah, MUI Menyesali Aksi Main Hakim Sendiri

TONGAS – Kasus penganiayaan yang berujung tewasnya M Fathur Rozi, memang berbuntut panjang. Selang dua hari usai Lebaran, ratusan massa merusak rumah yang dihuni Suroso, lantaran dianggap menjadi otak pelaku pembunuhan. Nah, kasus perusakan rumah ini pun tengah diselidiki kepolisian.

Senin (10/6) siang dua Kepala Desa (Kades) diperiksa di Mapolresta. Keduanya yakni Kades Bayeman Sumarto dan juga Kades Tongas Wetan, Kasan Nurhadi. Pemeriksaan tersebut memang berkaitan dengan perusakan rumah. Pasalnya, dampak dari insiden itu, ada dua rumah yang mengalami kerusakan. Dampak lainnya juga dialami oleh kedua orang tua Suroso. Sehingga sang ayah alami depresi berat.

EMOSI: Ratusan massa berkumpul di jalan sebelum mendatangi rumah Suroso. (Foto: Istimewa)

Hal itu diungkapkan Kapolresta Probolinggo AKBP Alfian Nurrizal. “Kasihan ayahnya, ketika petugas datangi ngomong sendiri dan dijawab sendiri. Terlihat jelas orang tuanya depresi berat akibat aksi salah sasaran yang menyebabkan rumah Suroso dan juga kerabatnya rusak,” terangnya

Oleh sebab itu, maka saat ini pihaknya sedang melakukan pemeriksaan terkait dengan otak di balik perusakan tersebut. “Kami sedang periksa kedua kades tersebut, sebab mereka adalah pemangku jabatan di desanya. Sejauh mana keterlibatannya dalam mencegah aksi melanggar hukum tersebut,” terangnya.

Alfian Nurrizal menerangkan, seyogyanya aksi warga yang merusak dan membakar rumah Suroso dan rumah kakaknya, di Desa Tongas Wetan Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Jumat (7/6) malam lalu, jelas salah sasaran. Sebab, pelaku penganiayaan yang menyebabkan M. Fahrur Rozi, , bukan Suroso.

Tetapi, pelakunya adalah M. Syahriful Munir, 18 warga Dusun Kapasan RT 23/RW 09 Desa Tongas Wetan dan Aik Fauzi Purnamadani, 20 warga Dusun Tombol RT 13/RW 5 Desa Tongas Kulon. Keduanya ditangkap di Desa Lekok, Kabupaten Pasuruan, beberapa saat setelah kejadian dan kini mereka mendekam di sel tahanan.

Kebetulan pada saat petugas melakukan pengejaran, didapati Suroso yang sedang membawa celurit. Selain membawa celurit, Suroso dikenal sering membuat keribun di desanya. Sehingga warga menuding, pelaku pembacokan Fahrur Rozi adalah Suroso.

Memang, lanjut kapolresta, Suroso kabur setelah melihat petugas usai kejadian pembacokan. Terakhir, ia diketahui kabur ke Surabaya sbelum menyerahkan diri. “Suroso diserahkan dan dititipkan disini oleh kakaknya dan kakak iparnya. Katanya demi keamanan. Bukan ditahan, tapi diamankan,” imbuhnya.

Saat ini (10/6) petugas melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi termasuk juga dua kepala desa. Tak hanya itu, Alfian Menepis pernyataan jika dua anggotanya terlibat menyembunyikan Suroso. “Jadi saat saya kumpulkan petinggi (kades) di kecamatan Tongas, saya bilang, jika memang ada bukti dua anggota saya ikut terlibat, maka bukan hanya saya pindah tugaskan. Namun saat itu juga saya langsung lakukan penahanan. Tapi ternyata, mereka tidak ada bukti. Jadi tak benar jika ada anggota saya yang terlibat,” bebernya.

Tak hanya itu, terkait dengan ancaman pemindahan Polsek Tongas, itu tidak akan bsia dilakukan semudah itu. Sebab, tanah yang digunakan oleh Polsek merupakan tanah negara yang diperuntukan untuk kepentingan negara. “Dengan demikian, tidak bisa langsung seenaknya, mau pindah begitu saja karena gunakan tanah kas desa,” tandasnya.

Terakhir, berkaitan dengan rumah yang sudah terlanjur rusak akibat salah sasaran tersebut, AKBP Alfian berniat untuk melakukan sejumlah perbaikan. “Kami kasihan ke mereka. Bukan pelaku pembacokan, malah menjadi korban. Kami akan menyumbang merehab atau membenahi rumahnya,” pungkas Alfian Nurrizal.

Insiden perusakan rumah juga disesalkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo. Pasalnya, kejadian tersebut dianggap mengotori hari besar islam yaitu hari raya idul fitri. Apalagi, kejadian tersebut diakibatkan oleh hal sepele yakni bleyeran motor.

Hal itu diungkapkan Sekretaris MUI setempat Yasin. Menurutnya, kejadian tersebut seharusnya tidak perlu terjadi. Apalagi hingga menyakibatkan nyawa seseorang melayang karena peristiwa di malam takbiran itu. Selain itu, juga rumah terduga pelaku di bakar warga karena pelaku yang tidak kunjung tertangkap oleh pihak kepolisian.

“Kami sangat menyayangkan karena terjadi saat ribuan umat islam merayakan hari kemenangan. Seharusnya hal demikian itu tidak perlu terjadi,” ujarnya.

Menurutnya, dalam menyikapi hal ini semua pihak haris menahan diri. Mereka harus tetap patuh dan tidak keluar dari koridor hukum dan menataati hukum yang berlaku. Pasalnya, jika itu berkelanjutan bukan tidak mungkin akan menambah konflik yang melebar.

“Jika ada ketidakpuasan, bisa disampaikan dengan benar. Jangan sampai anarkis karena masalah,” jelasnya.

Pihaknyapun meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas permasalahan itu. Siapapun yang terlibat, harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. “Serahkan semua kepada pihak kepolisian. Biarkan mereka mengusut tuntas permasalahan itu dan menangkap semua pelaku yang terlibat,” tegasnya.

Ia juga meminta pihak kepolisian untuk menindak tegas para pengendara motor yang menggunakan knalpot brong. Penyebab insiden bacokan di Tongas di malam takbiran, pemicunya adalah knalpot bong. Sehingga, jika dibandingkan dengan kebaikannya, kenalpot tersebut lebih banyak mudharatnya.

“Langsung disita kalau bisa langsung dimusnahkan. Karena kenalpot brong selain mengganggu masyarkat juga gampang menimbulkan perselisihan,” kata Yasin. (rpd/sid/fun)