Selama Ramadan, Perceraian di Kota Probolinggo Menurun

KADEMANGAN – Datangnya bulan Ramadan membuat angka perceraian di Kota Probolinggo menurun. Setidaknya, sampai akhir Mei, hanya ada 62 perceraian. Sementara biasanya, sampai 85 perceraian.

Kepala Pengadilan Agama Kota Probolinggo M Edy Afan menjelaskan, mulai April hingga Mei 2019, angka perceraian mencapai 62. Selain itu, perkara yang masuk juga menurun. Yakni, 25 perkara. Sementara biasanya ada 85 perkara yang masuk.

“Angka perceraian menjelang dan selama Ramadan menurun drastis. Kemungkinan karena pengaruh rasa religiusitas umat dengan hadirnya Ramadan,” terang Edy.

Namun, biasanya pascalebaran, perkara baru mulai banyak. Sebab, banyak warga Kota Probolinggo yang jelang Idul Fitri sengaja pulang untuk mendaftarkan perkara ke PA.

“Jadi, biasanya orang yang pergi lama keluar daerah, saat pulang Lebaran, sekalian mengurus perkara perceraian,” tambahnya.

Disinggung mengenai faktor utama perceraian, menurutnya karena masalah ekonomi. Suami tidak memberikan kecukupan, sehingga dampaknya beraneka macam. Mulai adanya pria lain yang lebih bisa mencukupi, timbul kekerasan dalam rumah tangga, timbulnya ketidakpedulian pada pasanganya, dan sebagainya.

“Jadi, istri berselingkuh bisa jadi diakibatkan faktor ekonomi. Lelaki selingkuhan istri dianggap lebih mapan dan memberikan kecukupan secara ekonomi. Sehingga, istri rela meninggalkan suaminya. Bahkan, akibat ekonomi bisa muncul kerenggangan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga,” tandasnya. (rpd/hn)