Pendapatan dari Bea Masuk di Probolinggo Masih Minim

MAYANGAN – Pendapatan negara yang masuk ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Probolinggo dari bea masuk, masih minim. Bahkan, untuk bea keluar tidak ada pendapatan yang masuk.

Hal ini diungkapkan Bambang Sutejo, kasie Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, KPPBC Probolinggo. “Untuk bea masuk di sini terbilang kecil. Bahkan, sejak adanya larangan impor bahan tambang, sudah tidak ada pendapatan dari bea keluar,” ujarnya.

Bea masuk adalah pungutan yang dikenakan pada barang impor dan tidak mendapatkan fasilitas penangguhan karena ada di kawasan berikat. Sedangkan, bea keluar adalah pungutan atas barang yang dikirim ke luar negeri.

“Bea masuk ini tidak dikenakan pada kawasan berikat. Jadi, barang dari luar negeri masuk ke kawasan berikat untuk diolah, kemudian dikirim lagi ke luar negeri. Jadi, hanya lewat saja, maka tidak dikenakan bea masuk,” ujarnya.

Untuk di wilayah KPPBC Probolinggo hanya ada 2 perusahaan yang masuk kawasan berikat. Yaitu, PT Eratex di Kota Probolinggo dan PT Unggul Makmur Sejahtera (UMS) Lumajang.

“Sedangkan kalau ada barang dari luar negeri masuk ke perusahaan di luar dua perusahaan itu, maka ada bea masuk yang dikenakan,” ujarnya.

Pada tahun 2016, pendapatan bea masuk sebesar Rp 373 juta dari target Rp 373 juta. Sedangkan tahun 2017, target pendapatan bea masuk Rp 296 juta, realisasi Rp 1,376 miliar.

Sedangkan untuk tahun 2018, Target pendapatan bea masuk Rp 1,080 miliar dengan realisasi sebesar Rp 1,201 miliar. “Untuk tahun 2019 kami mentargetkan bea masuk sebesar Rp 900 juta,” ujarnya. (put/hn)