Pengidap HIV-AIDS di Kota Pasuruan Terbanyak Kedua adalah Ibu Rumah Tangga

PASURUAN – Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kota Pasuruan masih cukup tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat sepanjang 2019, mereka menemukan 10 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) baru di Kota Pasuruan. Paling banyak menimpa kaum heteroseksual.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan dr. Shierly Marlena mengungkapkan, penemuan ODHA baru cukup tinggi di Kota Pasuruan. Jika pada 2017 Dinkes menemukan delapan penderita, sementara pada 2018 ditemukan 40 penderita.

“Sampai akhir Maret atau triwulan pertama tahun 2019, kami menemukan 10 penderita baru. Namun, selama ini kami belum menemukan penderita HIV/AIDS yang tewas selama tiga tahun terakhir,” ungkapnya.

Shierly menjelaskan, penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan tertinggi adalah kaum heteroseksual atau mereka yang suka berganti-ganti pasangan. Pasalnya, ketika melakukan hubungan seks bersama lawan jenis, mereka tidak mengetahui jika pasangannya terjangkit HIV.

Tertinggi ke dua adalah ibu rumah tangga (IRT). Kondisi ini biasanya diakibatkan virus HIV/AIDS menular dari suaminya. Rata-rata penderita HIV/AIDS ini merupakan usia produktif yaitu rentang usia antara 25 tahun sampai 40 tahun.

“Tertinggi ketiga terjadi pada prenatal akibat penularan ibu kepada anak yang dikandungnya. Untuk itu, jabang bayi dalam kandungan itu harus dilahirkan di rumah sakit untuk segera ditangani,” jelas Shierly.

Ia mengaku, semakin banyak ditemukan ODHA baru semakin baik. Sehingga, ODHA bisa diobati dan virus HIV/AIDS tidak semakin menyebar. Menurutnya, penyebaran HIV/ AIDS dapat melalui hubungan seksual atau pemakaian jarum narkoba suntik secara bergantian.

Ia mengaku stigma negatif pada ODHA di Kota Pasuruan masih tetap ada. Karena itu, Dinkes bersama komisi pemberantasan AIDS (KPA) di Kota Pasuruan rutin melakukan sosialisasi ke sekolah atau kelurahan dengan membentuk kader.

Sehingga, saat ditemukan ODHA, langsung dapat dilaporkan ke puskesmas terdekat. Selain itu, Dinkes terus meningkatkan pelayanan pada masyarakat dengan membentuk klinik infeksi menular seksual di delapan puskesmas dan care support therapy (CST) di RSUD dr R Soedarsono.

“Kami terus berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan di masyarakat. Termasuk, terus melakukan sosialisasi pada masyarakat agar ODHA tidak dijauhi dan segera berobat,” terang Shierly. (riz/fun)