Merasakan Berlebaran di Sudan dan Australia yang Suasananya Berbeda dengan Nusantara

Lebaran merupakan momen untuk berkumpul dengan keluarga. Namun, tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang membahagiakan itu. Jarak yang jauh, hanya bisa membuat mereka mengobati kangen melalui seluler. Seperti warga asal Pasuruan yang tengah berada di negeri orang ini.

———————–

Tidak ada pawai keliling kampung sembari menabuh bedug. Tidak ada pula karnaval atau arak-arakan obor. Yang ada, hanya seruan takbir yang dikumandangkan di setiap-setiap masjid.

Suasana itulah, yang dirasakan M. Farhad Haidarullah, 21, saat berada di Sudan. Sudah tiga tahun terakhir, ia tinggal di Sya’biyah, Sudan. Selama itupula, ia merasakan hal yang jauh berbeda, ketika Lebaran tiba.

Farhad (baju putih kopyah warna-warni) saat makan bersama dengan teman-temannya di Sudan. (Istimewa)

“Banyak perbedaan yang saya dapatkan, ketika berlebaran di Sudan. Karena di Sudan, perayaan Lebaran lebih minimalis jika dibandingkan dengan Indonesia. Dan saya sangat rindu, untuk menikmati suasana Lebaran di kampung halaman,” ungkap pemuda asal Besuk, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan tersebut.

Farhad-sapaannya menceritakan, malam Lebaran banyak diisi masyarakat muslim dengan menggemakan takbir. Mereka melantukan takbir di setiap masjid, sejak selesainya jamaah salat maghrib hingga rampungnya jamaah Isya.

Gema takbir itu dilanjutkan, selepas subuh sampai menjelang salat Ied. “Kami kemudian berbondong-bondong untuk melaksanakan salat Ied,” tambahnya.

Hal ini berbeda dengan tradisi malam takbiran di kampung-kampung Indonesia, seperti di tempatnya. Di mana, banyak kegiatan unik dan kreatif yang digelar menyambut hari kemenangan tersebut.

Seperti pawai keliling kampung sembari menggemakan takbir. Atau kegiatan pawai menggunakan obor maupun lampion, serta kegiatan-kegiatan unik lainnya yang banyak ditemui di Indonesia.

“Selain gema takbir yang dilakukan di masjid-masjid, banyak hal-hal unik yang dilakukan warga Indonesia. Itu yang membuat suasana lebaran di Indonesia terasa meriah dan berbeda dengan Sudan,” kisahnya.

Farhad menambahkan, salat Ied, tidak hanya dilakukan di masjid-masjid. Menurut Farhad, kebanyakan warga Sudan, merupakan muslim penganut madzhab Malikiyyah. Sehingga mereka melaksanakan salat Ied, kebanyakan di lapangan besar yang dialasi karpet dan tikar.

Tradisi bermaaf-maafan dengan kegiatan salam-salaman juga ada di Sudan. Meski kegiatan tersebut, tidak semeriah dengan yang ada di kampung halamannya, seperti kegiatan kunjungan ke rumah-rumah kerabat ataupun tetangga. Di Sudan, tradisi salaman-salaman itu digelar, seusai kegiatan salat ied tanpa berkunjung ke rumah-rumah.

Hal inilah, yang membuatnya kerap merasakan rindu untuk bisa menikmati momen Lebaran di kampung halamannya. Selain banyak tradisi seperti kupatan, juga momen kebersamaan bersama keluarga yang sungguh menyenangkan.

“Kami hanya bisa video call untuk melepas rindu bersama keluarga di kampung halaman,” ungkap pemuda yang menjalani studi di Universitas Al-Quran Karim Omdurman Sudan ini.

Terkadang, ia merasa sedih ketika tidak bisa menikmati momen bahagia itu bersama keluarga. Namun, ada obat lain selain komunikasi via udara. Kegiatan halal-bihalal atau open house di Wisma KBRI Sudan, menjadi salah satu “penyembuh” rasa rindunya dengan keluarga.

Banyak teman dari Indonesia. Serta bisa mencicipi makanan khas Indonesia, setidaknya mampu mengurangi rasa sedih yang dirasakannya.

“Sudah tiga tahun ini, saya menikmati Lebaran di negeri orang. Selama itu pula, teman-teman yang ada di sini, menjadi salah satu pengobat rasa rindu itu, akan kampung halaman,” pungkasnya.

Lain Farhad, lain pula cerita Nurul Hikmah, 42. Perempuan yang menjabat Executive Asistant In Of Australian Department itu mengungkapkan, nuansa Lebaran di Indonesia sangat berbeda dengan di Australia, khususnya di Canberra. Saat malam takbiran tiba, jangankan pawai atuapun kembang api terlihat. Karena, gema takbir pun nyaris tak terdengar dari rumahnya.

Karena, masjid di Canberra sangat minim jumlahnya. “Lokasinya pun jauh dari rumah,” ungkap Nurul.

Ibu dua anak yang menetap di Australia lebih dari 18 tahun itu, kerap merasa rindu dengan kampung halamannya. Baik di kampung kelahirannya, yang ada di Banjarmasin, Kalimantan ataupun tempat ia besar di Pasuruan, Jawa Timur.

Namun, tidak banyak yang bisa dilakukan, ketika momen Lebaran tiba. Karena saat Lebaran, di Australia masuk hari kerja. “Jadi, kalau mau libur, ambil cuti. Itupun susah untuk pulang kampung halaman. Karena, anak-anak dan suami, tidak libur,” imbuhnya.

Menurut Nurul, hanya jaringan komunikasi yang bisa menghubungkan dia dengan keluarganya yang ada di Indonesia, ketika Lebaran tiba. Karena untuk mudik, tidak memungkinkan. Karena momen Lebaran, tidak berbarengan dengan libur sekolah.

“Menitipkan anak di tempat penitipan, sangat mahal di sini. Jadi, tidak memungkinkan untuk mudik pas Lebaran,” akunya.

Selain jaringan seluler, obat pelepas rindu dengan kampung halaman, adalah bertemu ataupun bersilaturahmi dengan warga Indonesia yang ada di Australia. Karena KBRI Australia, menggelar hajatan halal-bihalal di sana.

“Paling tidak, kegiatan tersebut bisa mengurangi rasa kangen akan Indonesia. Sebab, kami bisa bercengkrama dengan teman-teman dari Indonesia di Australia,” ulasnya. (one/fun)