Waduh, Ratusan Nelayan di Kab Pasuruan Masih Pakai Mini Trawl

BANGIL – Sosialisasi pergantian alat tangkap ramah lingkungan sudah lama dan gencar dilakukan. Namun, sejauh ini masih banyak nelayan di Kabupaten Pasuruan yang menggunakannya. Sampai awal tahun ini, tercatat masih ada sekitar 800 nelayan.

Kepala Bidang Kenelayanan Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Alamsyah Supriadi mengatakan, alat tangkap ikan yang digunakan ratusan nelayan itu bukan termasuk yang dilarang pemerintah. Namun, masih berbahaya pada ekosistem laut. “Alat tangkap yang masih tidak aman dipakai saat ini mini trawl. Kalau yang dilarang pukat hela (trawl) dan pukat tarik. Kalau yang dilarang ini sudah dari dulu tidak ada,” ujarnya.

Namun, menurutnya, karena mini trawl bentuk jaringnya masih rapat, membuat banyak ikan kecil banyak yang ikut tertangkap. Sehingga, untuk ekosistem dan populasi sumber daya alam di laut bisa berkurang. Karenanya, pihaknya terus melakukan sosialiasi agar nelayan tidak menggunakan mini trawl.

“Tapi, selama ini masih mengeluhkan kendala biaya untuk ganti alat tangkap. Selain itu, juga merasa nyaman dengan alat tangkap yang sudah rutin dan lama mereka pakai,” jelasnya.

Dalam dua tahun ini, jumlah pemakai alat tangkap tidak ramah lingkungan tidak berubah. Alamsyah mengatakan, meski masih tersisa 8 persen dari total jumlah nelayan di Kabupaten Pasuruan yang mencapai 9.900, sejatinya sudah ada tren penurunan sejak beberapa tahun terakhir.

Ia mengaku, pihaknya juga mencoba mengajukan bantuan alat tangkap bubu dan jaring. Harapannya, dengan adanya hibah alat tangkap bisa mengubah kebiasaan nelayan. Yakni, bersedia menggunakan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan. (eka/fun)