TK Semestinya Tak Mengajarkan Calistung, Tapi Hanya Bermain dan Pembelajaran Motorik

PASURUAN – Tes calistung saat pendaftaran SD, memang membuat orang tua kelabakan. Pun demikian dengan lembaga pendidikan anak usia dini maupun taman kanak-kanak. Tak sedikit orang tua yang meminta sekolah agar anaknya diajarkan membaca saat TK. Tapi, tak sedikit pula yang bersikukuh bahwa di TK, seorang anak semestinya hanya bermain.

Ilustrasi

Hal itu diungkapkan Abdul Rahman, kepala TK Al Uswah, Bangil, yang juga Ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu Kota dan Kabupaten Pasuruan. Dia mengatakan bahwa kurikulum TK sebenarnya hanya menekankan pada bermain dan pembelajaran motorik.

“Seperti motorik kasar dan halus. Untuk motorik kasar seperti berlari dan motorik halus seperti mengancing baju ataupun menali sepatu,” terangnya.

Bagi anak yang motorik kasar dan halusnya belum tuntas, maka nantinya akan kesulitan untuk memegang pensil dan ke depan bakal sulit untuk menulis. Di TK Al Uswah sendiri semua kegiatan adalah bermain. Adapun kegiatan mengenalkan abjad ataupun angka adalah dalam rangka bermain. Sehingga, siswa tidak terasa bahwa mereka sejatinya tengah belajar.

“Seperti angka, kami terapkan di permainan petak umpet dan abjad. Kami juga mengenalkan lewat permainan,” terangnya.

Abdul Rahman mengakui, memang sering kali ada wali murid yang ingin anaknya lulus TK sudah bisa calistung. Namun, sekolah biasanya memberikan pengertian lewat parenting yang dilakukan sebulan sekali. Sekolah menjelaskan bahwa setiap anak mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda. Sehingga, memang ada yang bisa membaca menulis setelah lulus TK, tetapi ada juga yang belum.

Bahkan, tekanan anak yang masih usia TK harus bisa calistung, kata Abdul Rahman, bisa membuat anak sering tertekan. Imbasnya, saat masuk SD dan ada pelajaran calistung, anak sudah bosan dan malah enggan ke sekolah karena trauma di masa bermain TK malah ditekan untuk bisa calistung.

“Ini juga sudah menjadi rahasia umum. Banyak orang tua yang ingin lulus TK sudah bisa calistung. Padahal dari pengamatan saya, tak sedikit anak yang akhirnya tertekan untuk ditekan belajar dan les padahal belum waktunya,” terangnya.

Karena itu, Rahman pun mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan yang melarang keras agar SD tidak lagi mensyaratkan calistung untuk masuk ke SD. (eka/put/fun)