Petugas BBPJN VIII dan PMI Stand By di Posko hingga Tak Ikut Mudik

Ketika libur Lebaran tiba, semua orang pasti ingin berada di rumah bersama keluarga besar. Tapi, bagi sebagian pekerja, tetap diwajibkan masuk. Alasannya, kehadiran mereka diperlukan. Bagi mereka, libur saat Lebaran adalah sebuah kemewahan.

————–

Sejumlah pria tampak berbincang di sebuah ruangan berukuran 8 x 10 meter itu. Raut wajah mereka tampak serius. Tak lama kemudian, salah seorang mengeluarkan sebuah lembaran kertas putih berukuran persegi panjang.

Di dalam lembaran itu tertera tulisan “Peta Jalan Nasional Pasuruan-Probolinggo”. Dengan cekatan, mereka melingkari ruas jalan yang menjadi simpul rawan kemacetan. Perbincangan itu mengalir begitu hangat selama kurang lebih 30 menit.

DONOR: Petugas PMI Kabupaten Pasuruan saat menggelar donor darah di Alun-alun Bangil pada 26 Mei. (Erri Kartika/Jawa Pos Radar Bromo)

Begitulah pemandangan yang tersaji di Posko Lebaran Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII wilayah Gempol-Pasuruan-Probolinggo yang berlokasi di Desa Tambakrejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Posko yang tak pernah sepi akan petugas yang juga ikut bertanggung jawab penuh pada kelancaran mudik masyarakat selama Lebaran.

Kaur Tata Usaha (TU) BBPJN VIII wilayah Gempol Pasuruan Probolinggo Warso mengungkapkan, Posko Lebaran BBPJN VIII ini didirikan sejak H-7 sampai H+7 Lebaran. Tujuan posko ini untuk memastikan keamanan bagi pemudik. Ada sekitar 20 orang petugas yang siaga di posko tersebut. Mereka dibagi dalam dua kali shift. Yaitu shift pagi mulai pukul 07.00 sampai pukul 19.00 dan shift malam mulai pukul 19.00 sampai pukul 07.00 setiap harinya.

“Ada pembagian piket setiap harinya. Jadi, yang tidak piket, mereka bisa pulang. Namun, begitu mereka mendapatkan giliran piket, maka mereka pun harus stand by di posko,” ungkapnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) BBPJN VIII wilayah Gempol Pasuruan Probolinggo Rudy Napitupulu menjelaskan, BBPJN sudah menyiapkan sejumlah material yang dibutuhkan di posko ini. Di antaranya, crane, baby roller, plat temper, jack hammer, dan material aspal dingin. Alat-alat yang dibutuhkan dan bisa digunakan dalam kondisi darurat.

BBPJN VIII sendiri memiliki kewenangan sepanjang 115 kilometer mulai Gempol sampai Jalur Lingkar Utara (JLU) di Kota Probolinggo. Selama Lebaran, sistem kerjanya berupa perbaikan ruas jalan yang ditemukan berlubang dan membahayakan bagi pengguna jalan.

Agar memudahkan petugas di lapangan, Balai Besar juga sudah menyiapkan enam penilik yang terus bergerak di sejumlah ruas jalan untuk melakukan survei. Sehingga, jika diketahui ada jalan yang membahayakan, dapat langsung menghubungi petugas di Posko Lebaran.

“Karena sifatnya segera dan mendesak, maka penanganan yang kami lakukan sifatnya juga darurat. Makanya, kami menggunakan aspal dingin agar segera kering dan bisa dilewati,” terang Rudy.

Salah seorang petugas di Posko Lebaran BBPJN VIII, Fajar mengaku, dirinya mendapatkan jadwal piket saat malam Idul Fitri. Ini bukanlah yang pertama baginya. Pada 2018 silam, dirinya juga mendapatkan waktu yang serupa dengan tahun ini.

Agar nuansa Lebaran tetap dirasakan, maka pihaknya pun selalu berupaya menjalin komunikasi yang intens dengan keluarganya. Beruntung ada fasilitas yang tersedia di posko, hingga membuatnya cukup kerasan. Mulai dari kue Lebaran sampai wifi.

“Seperti tahun lalu, saya biasanya menjalin komunikasi dengan keluarga menggunakan video call. Teman-teman di sini juga sangat mendukung dan sudah seperti saudara sendiri,” sebutnya.

Hal yang sama juga dilakukan petugas dari Palang Merah Indonesia (PMI).

Untuk menjaga pasokan kantong darah bagi rumah sakit dan puskesmas saat Lebaran, petugas PMI harus tetap berjaga dan siaga 24 jam. Mereka rela tak mudik bahkan harus rela tak kumpul keluarga besar di hari H Lebaran.

Bahkan, saat Ramadan, petugas dari PMI juga bekerja sampai malam hari. Seperti yang terpantau di Pos Lantas di depan Alun-alun Bangil, Minggu (26/5). Saat itu adalah hari terakhir kegiatan donor masal yang dilakukan PMI Kabupaten Pasuruan selama Ramadan. Namun, PMI tetap membuka pelayanan donor darah 24 jam bagi pendonor yang ingin berdonor di kantornya di Kompleks RSUD Bangil.

Kesibukan PMI memang tampak saat akhir pekan beberapa minggu akhir Ramadan ini. Maklum, saat Ramadan pasokan donor daerah memang menurun jauh. “Sehingga, harus rutin digelar. Tiap akhir pekan PMI buat posko di Alun-alun Bangil, sehingga mereka yang baru Tarawih bisa sekalian donor darah,” terang Sony Sumarsono, humas PMI Kabupaten Pasuruan.

Sony sendiri sudah 28 tahun di PMI Kabupaten Pasuruan. Warga Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang ini mengatakan, selalu mendapatkan jatah piket selama Lebaran. Termasuk Lebaran tahun ini, dari 17 petugas, semua akan mendapatkan shift selama Lebaran.

“Untuk PMI tetap buka 24 jam, gak ada yang berubah. Setiap shift tetap ada 2 petugas sehingga ada yang butuh darah tetap bisa kami layani,” terangnya.

Setiap hari, ada 3 shift yang berjaga untuk pagi, siang, dan malam. Setiap shift akan berganti hari ke empat. Saat itulah mereka selanjutnya baru bisa mendapatkan libur. Sony mengatakan, hal ini sudah rutin dilakukan setiap tahun. Sehingga, petugas PMI memang tidak bisa full berlebaran bersama keluarga.

Agung Eko Permana, 21, warga Surabaya yang sudah setahun ini di PMI Kabupaten Pasuruan menambahkan, Lebaran tahun lalu dia tak bisa kumpul sama keluarga di Surabaya. “Waktu itu hari H pas dapat piket jaga juga. Jadi ya gak bisa mudik ke Surabaya, termasuk gak bisa kumpul dengan keluarga besar,” terangnya.

Awalnya, dia memang merasa berat karena momen berkumpul dan salat Id biasanya menjadi momentum yang rutin dilakukan setiap Lebaran. “Tapi, melihat teman-teman PMI lain juga begitu, akhirnya ya biasa juga. Namanya juga sedang bertugas ya dinikmati,” ujarnya.

Kantor PMI memang tetap harus siaga buka 24 jam. Karena rumah sakit dan puskesmas tetap buka dan kebutuhan darah harus siaga. “Permintaan kantong darah saat Lebaran memang turun karena pasien biasanya sudah berusaha untuk sehat dan pulih sehingga sebelum Lebaran sudah bisa pulang dan berlebaran bersama keluarga,” terangnya.

Namun, biasanya tetap ada 5-10 permintaan kantong darah per hari dari Kabupaten Pasuruan saja. (riz/eka/fun)