Pendapatan PKL Kue Lebaran Turun, Kalah Bersaing dengan Pasar Online

PANGGUNGREJO – Suasana di sekitar Alun-alun Kota Pasuruan, semakin semarak. Sejumlah pedagang yang menjajakan dagangannya di tepi trotoar jalan tidak lelah menawarkan barang dagangannya. Namun, sejumlah pedagang mengaku dagangannya kalah dengan pasar online.

BERSAING: Para pedagang kue Lebaran itu mengaku bersaing dengan penjualan online. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Salah seorang pedagang jajanan asal Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Sinnih, 50, mengaku, hanya berjualan ketika memasuki pekan akhir Ramadan. Ada beragam kue yang dijualnya. Seperti nastar, kuping gajah, stik, dan biskuit. “Untuk makan sehari-hari,” ujarnya.

Kue yang dijual bukan buatannya sendiri. Melainkan hasil kulak dari agen. Harganya beragam. Mulai Rp 15 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. Modal yang harus dikeluarkan untuk kulakan nilainya bisa mencapai puluhan juta. “Untungnya sekitar Rp 1 sampai 2 juta,” ujarnya.

Namun, itu jika iklim perdagangan lancar. Berbeda jika sepi pembeli. Barang dagangan terkadang menumpuk di rumah dan harus mengembalikannya ke agen. Merugi? Tentu saja. Sinnih harus kehilangan modal sekitar 5 persen jika barang dikembalikan. “Misalnya harga Rp 50 ribu, kalau kembali harganya turun jadi Rp 40 ribu,” ujarnya.

Kondisi itu dialami Sinnih selama dua tahun terakhir. Tahun lalu, ia masih tetap berjualan kue Lebaran di tempat yang sama mulai pukul 17.00 hingga 24.00. Selama sepekan berjualan, kala itu Sinnih rugi. Ia mengaku kehilangan modal sekitar Rp 5 juta. “Karena barangnya tidak laku dan dikembalikan,” ujarnya.

Meski sudah merugi tahun lalu, Sinnih tetap berjualan kue Lebaran. “Karena dari dulu sudah dagang, mau ndak mau. Saya pikir tahun ini dapat, ternyata makin parah. Saya pikir-pikir memang lebih enak zaman dulu. Dagangan saya laris terus. Sekarang ramai orang kalau mau hari raya, tapi yang beli sepi. Sekarang orang keluar cuma jalan-jalan, beli kue lebaran sudah lewat handphone semua, apa-apa sudah online,” ujarnya.

Apa yang dialami Sinnih juga dirasakan sesama pedagang kue Lebaran lainnya. Salah satunya Abdul Manaf, 46, warga Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. “Kadang sisa jualannya dipakai sendiri di rumah. Sudah untung,” ujar pria yang berjualan di sekitar Pasar Wonorejo itu.

Kini, Manaf mulai menyiasati pangsa pasar yang mulai sepi. Ia tak lagi kulak kue Lebaran dalam jumlah besar. “Kalau sekarang meski sedikit yang penting laku, dapat hasil. Mungkin saking banyaknya kue, jadi orang belinya kadang satu macam. Dulu pembeli itu belinya sekaligus, hampir semua kue yang saya jual,” ujarnya. (tom/fun)