Kesiapan Terminal Bayuangga dan Pandaan selama Arus Mudik-Balik Lebaran

Setiap tahun, Terminal Pandaan dan Bayuangga Kota Probolinggo, rutin menyambut arus mudik dan balik Lebaran. Sama-sama berstatus sebagai Terminal Tipe A, kedua terminal ini pun melakukan sejumlah persiapan. Seperti menyiapkan ruang laktasi dan melarang petugas libur selama arus mudik dan balik.

—————-

Sejak tahun 2017, Terminal Pandaan berubah status menjadi terminal Tipe A. Perubahan status itu membuat wewenang pengelolaannya juga berubah. Jika dulu dikelola Pemkab Pasuruan, kini dikelola Kemenhub RI. Tepatnya di bawah naungan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) wilayah XI Jatim.

Sebagai terminal Tipe A, Terminal Pandaan pun melakukan persiapan khusus untuk beroperasi selama arus mudik dan balik Lebaran. Beberapa fasilitas yang sebelumnya tidak ada, disiapkan tahun ini.

FASILITAS: Ruang laktasi yang disiapkan terminal tipe A Pandaan. (Rizal F. Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)

Seperti, mendirikan posko angkutan Lebaran, termasuk pos pelayanan pengaduan. Lalu, juga disediakan ruang laktasi untuk ibu menyusui. Lokasinya ada di sebelah timur pos siaran.

Tidak hanya itu. Terminal Tipe A Pandaan juga menyiapkan ruang tunggu khusus untuk kaum difabel.

Dua fasilitas tambahan tersebut, tahun lalu tidak ada. Tahun ini, keduanya sengaja dibuat untuk meningkatkan kenyamanan para penumpang bus yang naik dari Terminal Pandaan ataupun sebaliknya.

Kepala Terminal Tipe A Pandaan Kriswantoro menegaskan, ruang laktasi dan ruang tunggu khusus untuk kaum difabel tahun lalu memang tidak ada. Namun, di musim Lebaran tahun ini fasilitas itu sengaja dibuat.

“Dua sarpras tambahan tersebut untuk pertama kalinya kami sediakan di musim Lebaran tahun ini. Ini merupakan bagian dari peningkatan pelayanan untuk para penumpang bus. Namun, sifatnya memang tentatif,” ungkap Kriswantoro.

Tidak hanya menambah dua fasilitas baru. Jam kerja petugas terminal pun ditambah. Ada 12 petugas yang stand by selama 24 jam di terminal. Meskipun jam operasional terminal mulai pukul 05.00 hingga 20.00.

“Pagi dan sore dibagi dua shift dengan jumlah petugas masing-masing empat orang. Malam hari ada tiga orang yang berjaga. Dan satu orang lagi tiap harinya libur bergantian. Sedangkan kepala terminal ngantor pagi sampai sore,” cetusnya.

Selama arus mudik dan balik Lebaran, petugas juga menyiapkan kondisi bebas pungli dan bebas calo penumpang. Karena setiap detik, menit, dan jam, terus diawasi petugas yang piket di lapangan.

Selain itu, diberlakukan bebas tarikan retribusi atau peron untuk kendaraan angkutan Lebaran yang masuk atau melintas di terminal Tipe A Pandaan. Baik bus AKAP dan AKDP, juga mobil penumpang umum (MPU).

“Terminal ini bebas pungli dan calo. Jika ada, kami tertibkan dan usir dari terminal ini. Juga tidak ada retribusi karena difungsikan secara maksimal untuk pelayanan. Termasuk saat Lebaran di tahun sekarang,” tegasnya.

Kriswantoro pun memprediksi, akan ada peningkatan penumpang yang berangkat maupun yang datang ke terminal. Diperkirakan, puncaknya akan terjadi pada H-1 atau sehari sebelum Lebaran.

Meskipun lahan yang dimiliki tak terlalu luas dan fasilitas terbatas, pihaknya akan memaksimalkan potensi terminal. Tentu saja didukung oleh SDM yang ada.

“Terminal ini sifatnya hanya transit, bukan terminal induk pemberangkatan. Menurut kami, sudah lumayan fasilitas yang ada,” katanya.

Sementara itu, di Terminal Bayuangga Kota Probolinggo, situasi arus mudik tidak jauh berbeda dengan kondisi di hari biasa. Tidak ada lonjakan penumpang yang berarti di Terminal Tipe A di wilayah timur ini.

Beberapa penumpang sedang duduk di ruang tunggu. Jumlahnya tidak sampai 20 orang. Situasi selasar terminal pun lengang.

Meski kondisi terminal sepi, namun persiapan maksimal tetap dilakukan selama arus mudik dan balik Lebaran. Petugas disiagakan penuh untuk memantau arus mudik dan balik. Total yang disiagakan ada 47 petugas.

Mereka semua harus masuk selama arus mudik dan balik Lebaran. Tidak boleh ada yang libur. Kecuali sakit, baru boleh izin tidak masuk.

Selama arus mudik dan balik Lebaran, mereka berjaga dalam 2 shift. Masing-masing shift 12 jam. Mulai pukul 06.00 – 18.00 dan 18.00 – 06.00. Semua petugas pun punya fungsi masing-masing. Tidak ada yang menganggur.

“Mereka punya tugas masing-masing. Ada yang bertugas memantau di depan terminal, di dalam terminal, juga ada yang memantau arus mudik,” ujarnya.

Semua dilakukan maksimal, demi kenyamanan pemudik. Terutama penumpang bus yang naik atau turun di terminal Banyuangga.

“Kami memang tidak boleh libur dulu selama arus mudik dan arus balik Lebaran. Mengingat tugas kami ini di bidang pelayanan ke masyarakat. Khususnya bagi pemudik,” ujarnya.

Selain itu, terminal juga menyiapkan pemeriksaan kesehatan untuk kru bus, menyambut arus mudik dan balik Lebaran. Pemeriksaan bahkan telah dilakukan sejak 2 minggu sebelum arus mudik Lebaran. Saat itu bersamaan dengan pemeriksaan armada bus oleh petugas dari Dishub Kota Probolinggo serta Polresta.

“Ada dua yang mengadakan pemeriksaan kesehatan bagi kru bus. Pertama dari Dinas Kesehatan Kota probolinggo, kemudian dilanjutkan dari Jasa Marga,” ujar Budi Harjo, koordinator Terminal Tipe A Bayuangga.

“Pemeriksaan ini untuk memastikan kondisi kesehatan sopir. Seperti tekanan darahnya dan kondisi fisiknya. Jika sakit, kami bisa merekomendasikan agar diganti sopirnya,” tambahnya.

Tidak hanya itu. Terminal juga menyiapkan layanan khusus untuk pemudik yang sakit. Jika saat arus mudik ini diketahui ada pemudik yang sakit, maka petugas terminal akan berkomunikasi dengan pos pantau di terminal.

“Selanjutnya, pos pantau ini akan menghubungi keluarga pemudik untuk menjemput pemudik yang sakit,” jelasnya. (zal/put/fun)