Ishari Desa Susukanrejo, Seni Tanamkan dan Lestarikan Nilai-Nilai Islam dan Cinta Nabi

Ishari Desa Susukanrejo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, terus konsen berdakwah melalui dunia kesenian. Grup ini senantiasa berusaha menanamkan nilai-nilai keislaman dan cinta Rasulullah SAW.

—————

Belasan pria duduk dalam satu barisan di atas panggung. Tak lama kemudian terdengar bunyi tabuhan rebana yang serempak. Sejumlah pria itu lantas menyenandungkan sejumlah syair berbahasa Arab dengan penuh penghayatan.

Itulah pemandangan yang biasanya tampak saat Grup Ishari Desa Susukanrejo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, tampil. Mereka rutin tampil membawakan seni religi ini setiap ada acara dan kegiatan di Desa Susukanrejo.

Ketua Grup Ishari Desa Susukanrejo Sugiyanto mengatakan, seni Ishari di Desa Susukanrejo ini sudah lama berdiri. Usianya hampir sama dengan usia Desa Susukanrejo. Menurut cerita, grup Ishari ini berdiri sebagai seni dakwah Islam di masyrakat saat itu.

Dari situlah Ishari ini berkembang di masyarakat. Tidak hanya di kalangan usia paro baya, namun juga di kalangan pemuda. Kondisi ini membuat masyarakat Desa Susukanrejo menjadi lebih religius dalam kehidupan sehari-hari.

“Ishari ini berdampak besar di kalangan masyarakat. Dahulunya memang seni ini digunakan untuk mensyiarkan Islam dan nilai-nilai Islam di kalangan masyarakat,” ungkapnya.

Banyak pemuda di desa ini yang tertarik untuk bergabung di grup Ishari. Mereka rata-rata masih berusia belasan tahun dan mengenyam pendidikan sekolah. Kebanyakan mereka bergabung karena menyukai seni.

Sugiyanto mengatakan, syair yang dibawa dalam grup Ishari merupakan salawat. Baik itu memuji Nabi Muhammad SAW maupun sejarah tentang Nabi Muhammad SAW. Sebelum tampil, mereka diberi tahu isinya agar lebih menghayati saat membawakan syair tersebut.

“Dampak Ishari ini sangat baik. Masyarakat bisa lebih mencintai dan mengenal nabinya melalui seni religi. Dari pada menggunakan waktunya untuk yang tidak bermanfaat,” ujar Sugiyanto.

Menurutnya, kesenian Ishari hampir serupa dengan Al Banjari. Namun, dalam Ishari mereka juga membawakan sejumlah gerakan. Misalnya, gerakan kedua tangan saling bersentuhan ataupun gerakan yang menunjukkan asma Nabi Muhammad.

Setiap kali tampil, Ishari ini minimal dibawakan oleh 10 orang yang terdiri atas vokalis, penabuh, dan rodat atau pembawa gerakan. Kelompoknya tampil tidak hanya di kegiatan keagamaan seperti Maulid Nabi, namun juga acara seperti walimah ursy maupun lamaran.

“Kami berharap nilai-nilai Islam berupa kecintaan pada Nabi Muhammad SAW tetap lestari dan ditanamkan dalam sanubari masyarakat Pasuruan. Itu yang terpenting,” ujarnya. (riz/fun)