Majelis Anjal, Wadahi Kelompok Jalanan-Masyarakat untuk Bersalawat

Gesekan antar kelompok yang kerap terjadi sekitar tahun 2005 silam, memantik perhatian Muhammad Bagus Irawan, 33. Warga Bendosulung, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil yang akrab disapa Gus Anker ini kemudian membentuk wadah, untuk mencegah bentrokan terjadi. Diberi nama Majelis Anjallur Lailahaillallah atau disingkat Anjal.

—————–

Hujan deras mengguyur kawasan Bang Kodir, Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan pada 24 Januari 2019 silam. Meski begitu, derasnya hujan tak melunturkan semangat jamaah untuk mengikuti acara yang digelar di kawasan yang kini juga disebut sentra bordir itu.

Meski tak sedikit jamaah yang basah kuyup. Mereka sangat antusias untuk mengikuti jalannya acara. Dalam kegiatan rutin yang hampir digelar tiap tahun. Yakni, Anjal Bershalawat bersama Habib Syekh.

Jamaah datang tidak hanya dari wilayah Bangil dan Pasuruan. Tetapi tak sedikit juga dari sejumlah daerah lain. Baik Surabaya, Situbondo dan beberapa daerah lainnya.

Pengasuh Anjallur Lailahaillallah, Gus Anker menguraikan, salawat bersama Al Habib Syekh, memang menjadi agenda rutin keluarga besar anjal. Kegiatan itu pun selalu dinantikan masyarakat umum. Tak heran, walau hujan deras melanda, masyarakat tetap antusias untuk hadir mengikuti jalannya acara.

Dengan diiringi tabuan rebana, salawat bersama itu terasa lebih indah. Semangat bersalawat pun semakin membara. Terlebih dengan sapaan salam dari Al Habib Syekh, menjadi tambahan motivasi bagi para jamaah.

Menurut Gus Anker, majelis Anjal mulai berdiri pada 2005 silam. Perselisihan antar kelompok, menjadi pelecutnya. “Para tokoh jalanan yang menginginkan hidup damai dan bekerja dengan baik, ingin menyudahi pertengkaran yang ada. Jalan yang dipilih, dengan mengajak mengaji, bersalawat bersama para Habaib dan Kiai, serta kegiatan lainnya,” kisah lelaki yang cukup disegani di kalangan keras ini.

Kegiatan pertemuan dengan ngaji bareng, digelar rutin. Minimal seminggu sekali. Tempatnya, bisa bergiliran di setiap wilayah yang ada di Kabupaten Pasuruan.

Salawatan yang digelar, semula hanya biasa. Tanpa ada iringan rebana ataupun yang lainnya. Namun, lambat laun, rebana dan alat-alat islami lain, seolah menjadi pendamping yang tak terlewatkan.

Upaya untuk menciptakan rasa damai itu, akhirnya membuahkan hasil. Perselisihan antar kelompok di wilayah Pasuruan, yang kerap terjadi, mulai diminimalisir. Seiring dengan itu semua, turut membuat majelis Anjal kian berkembang. Tidak hanya dikenal di wilayah Pasuruan.

Tetapi juga merambah luar daerah. Bahkan, luar pulau Jawa, seperti Kalimantan. “Saya tidak punya anggota. Siapa pun yang dekat dengan kami, merupakan bagian dari keluarga Anjal. Bahkan, tidak sedikit pula, yang hatinya merasa menjadi bagian dari keluarga majelis Anjal,” tambahnya.

Gus Anker juga mendirikan grup gambus. Grup ini menjadi wadah bagi Anjal, untuk mengasah bakat dan minatnya. Dalam berbagai kegiatan, grup gambus Anjal, kerap diundang untuk mengisi acara.

Diuraikannya, grup-grup sosial juga akhirnya terbentuk. Termasuk pembinaan anak narkoba. Ia pun berharap, syiar yang ditempuh itu, bisa bermanfaat dan memberi barokah.

“Kami sadar, kami banyak kekurangan, kesalahan dan dosa. Maka melalui langkah ini, setidaknya kami bisa sama-sama untuk memperbaiki diri. Serta mendapatkan ridho dari Yang Maha Kuasa,” harapnya. (one/mie)