Keren! Ada Pesantren Literasi di Pasuruan

Masih rendahnya budaya literasi di Pasuruan, membuat komunitas Abimata dan Sanggar Buana di Purwosari membuat Pesantren Literasi. Kegiatan yang dilaksanakan saat Ramadan ini, tak hanya mengajak anak untuk suka membaca, tapi juga menggali potensi diri dan mengembangkan kepribadian.

ERRI KARTIKA, Purwosari

Puluhan anak tampak asyik membaca buku di sekitar Bendungan Kertosari, Desa Kertosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Kamis (30/5). Dengan santai, anak-anak tersebut menikmati buku bacaaan di alam terbuka dengan sejuknya angin, serta indahnya pepohonan di lokasi. Tak hanya membaca, anak-anak juga tampak sibuk memegang pensil dan buku di depannya.

Kegiatan literasi di alam terbuka ini memang jarang sekali dilakukan. Namun, sejak 29 Mei sampai 31 Mei, Komunitas Abimata dan Sanggar Buana (Budaya Anak Negeri) asal Purwosari mengadakan Ramadan Literasi. Acara camping 3 hari ini diadakan di bangunan sekitar Bendungan Kertosari, Purwosari.

“Ini adalah kali pertama dari komunitas Abimata dan Sanggar Buana yang sama-sama komunitas literasi mengadakan camping literasi seperti ini,” terang Nur Kholis atau dikenal dengan Jodi yang merupakan Pendiri Komunitas Abimata.

Pria 24 tahun yang juga mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan mengatakan, kedua komunitas ini memang sudah lama intens membumikan literasi kepada anak-anak usia dini. Targetnya sejak kecil, anak di sekitar Purwosari sudah suka membaca.

Selain rutin mengajak belajar dan bermain, komunitas ini juga memberikan pengetahuan berbahasa Inggris bagi anak-anak Purwosari. Akhir semester ini, ada sekitar 26 anak asal Desa Kertosari dan Desa Martopuro, Kecamatan Purwosari untuk ikut Ramadan Literasi. “Jadi, anak-anak yang ikut ini, sebelumnya sudah menjadi anak didik kami. Jadi, sudah tahu literasi dan ikut camp ini,” ujarnya.

Karena sudah masuk libur sekolah, ke-26 anak ini ikut serta dalam camp Ramadan Literasi. Orang tua mereka juga mendukung. Anak-anak yang ikut juga menginap ada yang di bangunan dan juga tenda segitiga. “Untuk yang ikut gratis, ada makan sahur dan buka juga. Donatur dari komunitas juga ada dari tokoh masyarakat sekitar,” terangnya.

Dipilihnya waktu Ramadan karena ini menjadi momen bulan penting juga bagi anak-anak untuk belajar. Meskipun tidak bisa membuat acara terlalu berat di siang hari. Namun, kegiatan literasi lebih banyak membaca, menulis, termasuk yang terpenting adalah pendidikan agama, moral, dan kepribadian.

“Selain literasi, kami juga banyak memberikan pendidikan moral. Misalnya disiplin, cara bicara yang sopan, sampai hal-hal yang kecil menata sandal saat masuk ruangan. Dan, hal itu yang kita tekankan,” terangnya. Termasuk dengan kegiatan literasi di alam terbuka, bertujuan untuk lebih peduli lingkungan.

Rata-rata anak yang ikut usia kelas 3 sampai 6 SD. Namun, ada juga yang lebih kecil. Karena berpuasa, panitia mengatakan tak membebankan anak-anak juga ikut bisa berpuasa sampai Magrib. “Karena juga masih tahap pembelajaran. Kalau sudah mentok, ya tidak apa-apa berpuasa setengah hari. Tapi, banyak juga yang kuat berpuasa sampai Magrib,” terangnya.

Dalam camp Ramadan Literasi ini, komunitas juga menggali potensi dan bakat anak. Biasanya anak memang kurang bisa memahami apa yang disukai. Sehingga, dicari kegiatan yang sangat mereka sukai. “Termasuk saat ini juga ada pelajaran membaca puisi. Ternyata ada juga yang bisa membuat puisi. Dan, potensi ini yang ingin kita gali juga,” terangnya.

Kendati hanya 3 hari, namun diharapkan anak bisa suka membaca dan menulis. Bahkan, panitia membuatkan rapor yang bisa ditunjukkan ke orang tua, terkait apa yang didapat selama camp Ramadan ini.

“Targetnya tahun depan kami akan adakan serupa, jadi yang ikut bisa dilihat progresnya,” terangnya. Kendati begitu, Jodi mengatakan, akan mengevaluasi kegiatan Ramadan Literasi ini. Apakah masih diselenggarakan saat Ramadan atau tidak tahun depan.

“Tetapi target tahun depan, kami adakan lagi. Terutama di Purwosari. Namun, waktunya akan kami evaluasi kembali. Apakah tetap Ramadan atau tidak,” terangnya.

Bagi komunitasnya, penting mendidik literasi anak-anak mulai dini. Apalagi di Purwosari yang jauh dari perpustakaan daerah. Lewat komunitas lokal inilah, ia berharap budaya literasi bisa ditumbuhkan sejak dini. (rf)