Aliansi Mahasiswa Lurug Pemkot, Pertanyakan 99 Hari Kinerja Wali Kota

PROBOLINGGO-Aliansi mahasiswa yang terdiri atas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Probolinggo melakukan aksi di depan kantor Pemkot Probolinggo, kemarin. Mereka mempertanyakan program 99 hari kerja Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin dan Wakil Wali Kota Mochamad Soufis Subri.

Abu Hanif, koordinator aksi mengatakan, ada 3 isu yang mereka usung dalam aksi tersebut. di antaranya keseriusan pemkot dalam menjalankan program pendidikan gratis, pengentasan kesenjangan sosial, serta wacana pembangunan rumah sakit rujukan.

Menurut Abu Hanif, 3 poin itu masih belum dirasakan secara masif. “Harusnya sudah ada progresnya,” katanya. Sejatinya, aspirasi yang mereka usung ini akan disampaikan melalui forum audiensi. Sayangnya, surat yang mereka kirim untuk permohonan audiensi belum direspons.

LURUG: Mahasiswa dari HMI, IMM dan PMII Probolinggo saat melurug kantor Pemkot Probolinggo, Rabu (29/5). (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

Karena itulah, mereka sepakat menggelar aksi. Kegiatan itu dilaksanakan sekitar pukul 13.55 oleh 25 mahasiswa. Sebelumnya, mereka melakukan longmarch dari rumah dinas menuju kantor wali kota. Sementara di sepanjang jalan termasuk kantor wali kota, sudah berjaga puluhan petugas dari Satpol PP, kepolisian, dan anggota Kodim 0820.

Tak berselang lama, Habib Hadi Zainal Abidin keluar untuk menemui massa. Ia mengapresiasi aksi tersebut. “Kenapa saya temui langsung, karena saya masih menghargai kalian,” terangnya.

Wali Kota mengatakan, mahasiswa harusnya paham dan belajar pemerintahan. Hal itu merujuk perbedaan pandangan antara wali kota dan peserta aksi. Wali Kota menyebut, 99 hari yang ia dengungkan tidak termasuk hari libur. Karena itu, hingga kemarin masih menjalani 80 hari kerja.

Sementara para mahasiswa menghitung bulan dimana Hadi dan Subri menjabat. Yakni, bulan Januari. “Kita tidak bisa mengubah sesuatu sesuai kemauan kita. Jadi, apa yang sudah sisahkan pada tahun 2018 hingga 2020. Saya hanya meneruskan saja. Baru pada tahun 2020 itu nol lagi. Sehingga, saya bisa memasukan program saya sepenuhnya untuk kemajuan Kota Probolinggo,” bebernya.

Pasca menemui peserta aksi, Wali Kota kembali ke kantornya. Sementara massa masih melakukan aksinya sebelum diakhiri, yakni berdoa bersama dengan membentuk lingkaran di depan kantor pemkot.

Sementara itu, Hadi Zainal Abidin sempat emosi melihat salah satu tulisan dalam spanduk yang mereka bawa. Di antaranya “99 hari ngapain aja?” . “Siapa yang menulis ini. Saya ingin tahu, ayo maju,” terangnya.

Sayangnya sejumlah mahasiswa tersebut belum ada yang berani maju. Barulah selang beberapa menit kemudian ada dua orang maju. Setelah itu, Wali Kota menanyakan alamat dua orang yang menulis tersebut. Setelah mengetahui jika bukan warga Kota Probolinggo, maka serentak Wali Kota langsung menyuruhnya mundur kembali dan meminta maju bagi yang warga Kota Probolinggo.

“Program saya ini khusus untuk warga Kota Probolinggo. Jika tidak ada warga yang e-KTP kota, bagaimana saya bisa jelaskan?” bebernya. Mengingat mayoritas massa yang melakukan aksi tersebut dari Kabupaten Probolinggo.

Menurutnya, saat ini masa kerjanya masih 80 hari. Sehingga, tulisan 99 hari ngapain aja? Itu tidak benar. Oleh sebabnya, ia meminta agar tulisan tersebut segera diklarifikasi. Jika tidak, maka yang menulis tersebut akan diperkarakan.

Menyikapi hal itu, koordinator aliansi Abu Hanifa mengatakan, terkait dengan tulisan tersebut dari keterangan Wali Kota memang masih 80 hari. Sehingga, ia mengakui jika salah. “Kita hitung 99 hari dari kalender, namun arti keterangan Wali Kota masih 80 hari masa kerja,” bebernya. (rpd/rf)