Nelayan Gili Ketapang yang Tenggelam di Sampang Tak Bisa Klaim Asuransi

DRINGU – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo memastikan, 25 nelayan Gili Ketapang yang tenggelam, tidak dapat asuransi. Mereka memang ter-cover asuransi nelayan gratis dari pemerintah pusat. Namun, asuransi yang diikuti adalah asuransi kematian.

Kepala Diskan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi saat dikonfirmasi mengaku, sudah mengetahui kejadian yang menimpa nelayan asal Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Pihaknya pun telah melaporkan kejadian itu ke Pemprov Jatim dan pusat.

Namun, bukan untuk pengajuan klaim asuransi nelayan. Tetapi, hanya sebatas laporan. Menurutnya, mereka tidak bisa mengajukan klaim asuransi dalam kecelakaan itu.

”Mereka tidak dapat diajukan klaim asuransi karena asuransi nelayan itu asuransi kematian,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, Selasa (28/5).

Dijelaskan Dedy, hingga saat ini belum ada kuota tambahan untuk nelayan dalam program asuransi gratis. Data terkini, tetap 840 nelayan, sesuai yang aktif sejak akhir tahun kemarin.

”Sampai sekarang kami masih menunggu kuota terbaru program asuransi gratis bagi nelayan. Tapi, asuransi ini hanya untuk kematian,” katanya.

Asuransi bagi nelayan itu, dikatakan Dedy, sangat dibutuhkan. Sebab, risiko kematian nelayan di laut sangat besar. Mereka yang meninggal saat melaut, mendapat asuransi Rp 200 juta. Sedangkan, yang kecelakaan dan membutuhkan rawat medis, akan dibiayai oleh asuransi.

”Jika nelayan itu meninggal alami atau bukan karena kecelakaan saat melaut, dapat klaim asuransi Rp 160 juta. Seperti tahun 2017, ada 25 nelayan meninggal dan masing-masing ahli waris dapat Rp 160 juta,” terangnya. (mas/hn)