Gema Sholawat Firhaz, lewat Lagu Antar Seorang Jadi Mualaf

Gema Sholawat Firhaz (Firqoh Hadrah Az Zainiyah) Pondok Pesantren Nurul Jadid, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, semula hanya beranggota tiga orang. Kini, terus berkembang. Bahkan, telah mampu membuat seseorang bersahadat.

————-

Ramadan menjadi bulan yang penuh arti bagi Gema Sholawat Firhaz (Firqoh Hadrah Az Zainiyah) Pondok Pesantren Nurul Jadid, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Sebab, jamiyah ini terlahir pada 27 Ramadan dua puluh tahun silam.

Berdirinya Firhaz digawangi tiga orang. Yakni, Abdurrahman, Bahauddin, dan Muhlis Busrowi. Mereka merupakan santri Pesantren Nurul Jadid. Kala itu, Abdurrahman dibimbing langsung oleh Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Almarhum K.H. Abdul Haq Zaini.

Nama Firqoh pada Firhaz juga merupakan pemberian dari Almarhum K.H. Abdul Haq Zaini. Waktu itu, di pondok belum ada hadrah. “Berkumpulnya tiga orang senior itu dengan membawa satu hadrah dan salawatan. Saat itulah terdengar oleh Almarhum K.H. Abdul Haq Zaini,” ujar Kepala Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOSS) Pesantren Nurul Jadid K.H. Makki Maimun.

Mendengar itu, Almarhum K.H. Abdul Haq meminta seni itu dilanjutkan secara diam-diam. Kenapa? Karena waktu itu memang belum ada hadrah. “Dari situ kemudian bertahan hingga saat ini,” ujarnya.

Firhaz kali pertama berdakwah diajak langsung oleh Almarhum K.H. Abdul Hak Zaini. Setiap ada pengajian di luar pesantren, Almarhum selalu mengajak Firhaz. “Mengisi acara di luar dan anak-anak diajak untuk ikut dakwah di sana. Saat itulah Firhaz bermula berdakwah, ” ujar kiai yang akrab disapa Ra Maimun tersebut.

Masalah dakwan, Firhaz tidak membeda-bedakan. Semuanya dirangkul. Menurut Ra Maimun, yang membedakan antara yang tua dan yang muda hanyalah hati. Yaitu, hati yang teduh ketika dilantunkan salam kepada Rasulullah.

Selain itu, saat ditanya perihal perbedaan antara dakwa dengan metode ceramah dengan dakwah yang dikolaborasikan dengan kesenian tentu berbeda. Salah satunya mengenai tema. Jika ceramah, temanya hanya saat acara. “Kalau kami dengan kesenian dan arahnya tetap satu bermunajat dan menghayati perjalanan beliau sampai bisa mencium aroma rahmatan lil’alamin kepada mahkluk yang diagungkan Allah SWT,” ujarnya.

Efek dakwa di masyarakat sendiri, menurut Ra Maimun, tidak banyak yang dirasakan. Itu, lantaran Firhaz hanya sebatas murni banjari campuran. Berbeda dengan hadrah yang mempunyai jamaah. Itu, karena unsurnya bermunajat dengan salawat.

“Salah satu efek yang pernah terjadi, masuknya orang Kristen ke Islam, itu anggota TNI. Itu, karena perihal mendengarkan lagu dari kami yang sudah jadi album. Lantaran Salawat, Allah memberikan beliau hidayah,” ujar Ra Maimun. (sid/rud)