Beginilah saat Masyarakat Berburu Pecahan Uang Baru Jelang Lebaran

Tak lengkap rasanya saat Lebaran tiba bila tak membagikan rezeki. Tak terkecuali memberi uang kepada sanak maupun kerabat. Beginilah antusisme masyarakat yang rela antre dan berpanas ria, untuk mendapatkan lembaran rupiah kinyis-kinyis.

———————-

Terik matahari di Kota Probolinggo, Selasa (28/5) pagi menjelang siang, sangat terasa. Cukup membuat kerongkongan menjadi semakin kering, terutama bagi yang berpuasa. Tapi suasana itu tak menyurutkan warga untuk beraktivitas. Apalagi di penghujung Ramadan seperti sekarang.

NOMINAL SETARA: Meski antre, warga lebih senang penukaran uang baru di tempat resmi ketimbang di jasa penukaran di jalan. (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Menjelang berakhirnya bulan suci, pusat perbelanjaan di Kota Probolinggo kian dipadati pengunjung. Begitu juga dengan tempat keramaian, seperti di alun-alun. Di ruang terbuka hijau yang berlokasi di jantung kota tersebut, dijubeli banyak orang. Kebetulan, disana sedang ada penukaran uang baru yang digelar salah satu perbankan.

Sejak pagi, penukaran uang baru yang memakai kendaraan roda empat itu, dikerubuti banyak orang. Mereka rela berbaris dan antre, untuk bisa menukarkan uang lusuhnya, dengan lembaran rupiahyang baru.

Salah satunya adalah Novianti. Ibu dua anak tersebut mengaku, dia memang sudah mendengar di alun-alun bakalan ada penukaran uang baru. “Saya dapat informasi di whatsapp grup. Kebetulan THR baru cair dan saya memang butuh uang baru, untuk dibagikan ke keponakan-keponakan,” terang Novianti seraya memasuhkan peluh di keningnya.

Novianti tidak sendirian. Dia yang berada di barisan paling belakang, harus rela berbaris. Sedikitnya ada puluhan orang yang saat itu, juga sama-sama semangat mengantre demi bisa menukarkan uang miliknya.

Bagi Novi-panggilan akrab Novianti, dia lebih rela menunggu dan antre di penukaran resmi, seperti yang digelar perbankan di alun-alun. Selain nilai nominal uangnya sama, Novi mengaku, bakal sedikit lega dengan yang namanya riba.

“Kalau menukarkan di pinggir-pinggir jalan itu kan ada pro-kontranya ya. Trus, duit kita dipotong atau jumlahnya tak sama dengan yang ditukarkan. Kalau bagi saya, selisih berapapun, ya mending mencari yang resmi tanpa potongan. Hehehe,” kata Novi sembari menyiapkan tas berisi uang miliknya.

Hal serupa juga dilakukan Luluk, 27 Warga Jerebeng lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Luluk sengaja datang ke alun-alun Probolinggo. Perempuan dua anak itu sudah membawa uang Rp 2,5 juta, pecahan seratus ribuan. Uang itulah yang hendak dia tukarkan ke dalam bentuk pecahan yang lebih kecil.

Luluk mengaku, demi mendapatkan rupiah, dia rela antre cukup lama. “Lumayan mengantre sekitar 30 menit tadi. Prosesnya cepat kok mas. Cukup membawa KTP saja,” beber Luluk.

Hal senada juga diungkapkan Yuliastutik, 29, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo. Perempuan dua anak itu sengaja menukarkan uangnya ke pecahan yang lebih kecil untuk lebaran. Pasalnya, tradisi yang ada, dalam tiap Lebaran moment, bagi-bagi uang untuk anak-anak tak bisa ditinggalkan.

“Jadi kebiasaan bagi bagi uang untuk anak anak ini sudah ad sejak nenek buyut saya. Jadi tradisi di keluarga saya. Apalagi ini moment bagi anak-anak untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Jadi wajar saja jika banyak anak-anak besemangat untuk sonjo,” imbuhnya.

Kendati demikian menurutnya, untuk penukaran uang dibatasi maksimal 3,75 juta atau satu bendel pecehan untuk satu orang. “Jadi satu orang maksimal satu pecahan satu bendel. Satu bendel berisi 100 lembar. Misal jika ditukar pecahan Rp 2.000. Maka saya hanya bisa mendapatkan satu bendel itu saja,” pungkasnya.

Meski banyak yang menuju penukaran resmi dari perbankan, ada juga yang tetap memanfaatkan jasa penukaran di tepi jalan. Alasannya beragam. Selain belum memiliki uang cash, penukaran di tepi jalan umumnya melayani pecahan kecil, alias tak memakai ketentuan syarat satu bendel.

Itulah yang menjadi ladang rezeki bagi orang yang berjualan uang baru di tepi jalan. Mereka panen rezeki, meski banyak yang menyebut, ada unsur riba di dalamnya. Tapi bagi orang yang memang butuh, mereka tidak mempedalukan hal tersebut.

Seperti yang diungkapkan Toni, asal Kelurahan Jati. Kebetulan saat itu dia baru saja menukarkan dua lembar seratus ribuan miliknya, dengan pecahan Rp 5 ribu dan Rp 10 ribu. Dia pun harus menyetorkan uang Rp 220 ribu.

“Tapi saya memang butuh sedikit. Dan kalau membeli itu kan tidak perlu antre. Hitung-hitung bagi rezeki dengan para penjual. Hehe,” pungkas Toni. (rpd/fun)