Dipergoki Selingkuh, Istri Tunjukkan Akta Cerai, PIL Diteriaki Maling

MAYANGAN – Cinta segitiga antara MKh, 24; Ci, 24; dan Gra, 32, berakhir di polsek. Minggu (26/5) malam, MKh diamankan ke Polsek Mayangan setelah Gra memergoki lelaki itu menemui istrinya, Ci.

Cinta segitiga itu sendiri cukup rumit. Ci mengaku sudah bercerai dengan Gra. Bahkan, Ci mempunyai bukti akta cerai. Karena itulah, MKh mengaku berani kencan dengan Ci.

BUKTI: Inilah akta cerai yang ditunjukkan Ci. Lantaran sudah mengantongi akta cerai itu, Ci jadi berani kencan dengan lelaki lain MKh. (Rizky Putra Dinasti/Radar Bromo)

Namun, Gra memberikan penjelasan berbeda. Menurutnya, dia tidak bernah bercerai dengan istrinya. Memang, mereka pernah dalam proses perceraian. Namun, kemudian ditarik lagi.

Gra sendiri memergoki MKh menemui Ci, istrinya pada Minggu (26/5) malam, pukul 00.30. Saat itu, Gra yang bekerja di kafe Cak Mo, pulang lebih awal. Dia pun menjemput istrinya di rumah mertuanya, Jalan dr Soetomo Gang IV, RT 4/RW 5, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran. Tepatnya di utara Toko Elektronik Juni.

“Tadi itu saya pulang lebih awal, yakni sekitar pukul 12 malam. Biasanya saya pulang pukul 01.00 atau 02.00. Saya memang curiga dari awal. Ternyata benar. Saat saya tiba di rumah mertua, ada lelaki itu. Saya teriaki maling dan dia kabur,” katanya.

MKh kabur dengan motornya. Gra pun mengejar lelaki itu sampai rumahnya di Kademangan. Tepatnya di Blok Sepeni, RT 2/RW 5. Gra lantas membawa MKh ke rumah mertuanya.

Saat hendak sampai ke rumah mertuanya, MKh kabur lagi. Gra pun kembali berteriak maling. Mendengar teriakan maling yang ke dua, warga sekitar pun mengejar MKh.

Lelaki itu berhasil ditangkap warga di utara perempatan Flora. Tepatnya di depan Apotek Kimia Farma, Jalan Ikan Kerapu. Warga bahkan sempat menghajarnya, begitu tertangkap.

Saat itu juga, MKh dibawa warga ke Mapolsek Mayangan. Diikuti Ketua RT setempat Bambang, Gra, Ci, beserta kedua orang tuanya dan beberapa warga.

Saat di Mapolsek Mayangan itulah, keruwetan terjadi. Di depan petugas Polsek Mayangan, Ci menunjukkan akta cerai dengan suaminya yang ditetapkan Pengadilan Agama (PA) Probolinggo awal Desember 2018. Akta cerai ditandatangani Panitera H. Abdul Karim, S.H. Ci pun mengaku telah nikah siri dengan MKh.

Namun, Gra mengaku sebaliknya. Pada petugas, Gra menyebut bahwa perempuan yang memberinya satu anak itu adalah istri sahnya. Gra menyebut, mereka tidak pernah bercerai.

“Pernah dulu kami mengajukan cerai. Tapi, ditarik lagi. Kok bisa keluar surat cerai seperti ini. Padahal, saya tidak pernah dipanggil ke PA dan tidak pernah ada sidang perceraian. Saya juga tidak pernah tanda tangan,” jelasnya.

Sementara itu, MKh tak bisa berkomentar banyak. Ia pasrah dan tidak kabur saat dibonceng petugas menuju mapolsek. Kepada petugas, ia mengaku ke rumah Ci mengendarai motor jenis Vixion bernopol N 3848 SS.

Petugas pun mengamankan motor bercat putih tersebut lantaran MKh tidak bisa menunjukkan SIM dan STNK. Bahkan, MKh hanya membawa fotokopi KTP. Petugas menjelaskan, sepeda motor bisa diambil asal MKh bisa menunjukkan surat lengkap.

MKh sendiri mengaku, berani ke rumah Ci malam-malam, sebab Ci mengaku telah bercerai dengan suaminya.

Ia kabur saat Gra datang. Sebab, Gra membawa gunting dan meneriaki maling. Khawatir dibunuh dan dimassa, MKh pun kabur

“Saya takut karena dia (Gra) memegang gunting. Dia juga meneriaki saya maling. Dan, warga banyak di luar,” akunya di Mapolsek Mayangan.

Sementara itu, Ketua RT 04/RW 05 Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kenigaran Bambang mengaku, tidak tahu Ci telah bercerai. Sebab, yang bersangkutan tidak pernah melapor.

“Saya kaget karena saya memang tidak tahu kalau dia sudah cerai sama suaminya. Saya tidak pernah ditunjukkan akta cerainya,” tandasnya.

Karena mengira Ci masih bersuami Gra, dia pun pernah mengingatkan MKh agar jangan sering ke rumah Ci dan pulang larut malam. Mengingat, Ci masih bersuami. Namun, teguran tersebut tidak pernah diperhatikan.

“Sudah sering kami ingatkan. Tapi, yang bersangkutan tetap saja ke rumah istri Gra,” pungkasnya.

Sayangnya, Kepala Pengadilan Agama Probolinggo M Edy Afan belum bisa dikonfirmasi terkait kasus itu. Sementara Sekretaris PA Hilyatul enggan berkomentar banyak. Sebab, secara struktural yang bisa menjawab yakni bagian humas PA.

“Mohon maaf. Saya tidak bisa menjawab. karena ada bagian humas yang berkompeten untuk menjawab. Jenengan bisa ke kantor nanti saya akan mengantar untuk menghadap beliaunya,” tegasnya. (rpd/hn)