Saiful Rizal Nurkholis, PKL Penjual Angsle yang Kumpulkan Koleksi Buku Demi Perpustakaan

Semangat literasi Saiful Rizal Nurkholis yang begitu tinggi. Dia mendirikan Omah Baca di rumahnya. Bahkan, dengan penghasilannya sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) tak menyurutkan niatnya untuk mengumpulkan koleksi buku. Hingga kemudian mendirikan Omah Baca.

—————

Kedua tangan pemuda itu tampak sibuk mencampurkan ketan, roti, santan dan sebagainya untuk adonan angsle. Sore itu jarum jam masih masih pukul 16.30. Namun antrean pembeli mulai banyak. Saat Ramadan banyak masyarakat berburu takjil untuk berbuka puasa. Hal ini menjadi berkah juga bagi Saiful Rizal Nurkholis yang berdagang angsle di Jalan raya Pandaan.

DIPENUHI ANAK-ANAK: Suasana di Omah Baca milik Saiful Rizal di Gerbo, Purwodadi. (Dok. Pribadi)

Sekilas, Rizal memang seperti pemuda kebanyakan. Tubuhnya tinggi tegap, dan tak malu memulai usaha mandirinya dengan berjualan Angsle. Yang berbeda, pemuda 26 tahun merintis Omah Baca atau perpustakaan mandiri di desa asalnya yaitu di Gerbo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

Desa Gerbo sendiri memang cukup jauh dari Jalan raya Purwodadi. Setidaknya butuh 9-10 kilometer menuju tempat tinggalnya. “Sehingga akses untuk baca buku memang kurang terutama di blok rumah saya. Paling dekat kalau baca buku biasanya ya ke Perpustakaan Pandaan ataupun ke Malang sekalian,” terang Rizal.

Bagi Rizal, buku memang menjadi hobi sejak kecil. Sudah menjadi impiannya untuk mendirikan rumah baca di tempatnya. Apalagi melihat anak-anak di kampungnya memang kurang terhadap akses literasi.

Hidupnya sendiri memang sempat down. Setelah ditinggal orang tuanya lantaran kecelakaan mobil saat dirinya duduk di kelas 11 Aliyah, Rizal dan kakak laki-lakinya terpaksa disupport keluarga besar sampai lulus SMA. “Setelah lulus, kami harus mandiri. Saya memilih terus lanjut kuliah di Surabaya Jurusan Akuntansi dengan biaya sendiri dengan kerja di usaha kuliner. Tapi semester 3 akhirnya berhenti karena masalah biaya,” terangnya.

Setelah pulang balik ke kampungnya di Desa Gerbo, saat itu tahun 2017 melihat rumah mendiang ortunya yang tidak terpakai. Rizal lalu berinisiatif mulai membuka perpustakaan mandiri dengan nama “Omah Baca”.

Awalnya buku hanya sekitar 50 eksemplar yang merupakan buku-buku milik Rizal sebelumnya. “Tahun 2017 tersebut saya sambil jualan pentol, namun sekarang ganti jualan angsle dan berjualan di Jalan raya Pandaan,” terangnya.

Dikatakan dari hasil jualannya menjadi PKL, sebagian keuntungan ditabung untuk menambah koleksi buku. Tak sendiri, selama 3 tahun, Omah Baca juga makin berkembang. Setidaknya juga ada 10 pemuda lain di sekitarnya yang juga ikut menjaga bahkan menambah koleksi.

Saat ini koleksi buku sudah mencapai 3 ribuan eksemplar baik dari teman-teman relawan sampai mengumpulkan buku donasi. Semuanya ikhlas lantaran sama-sama memiliki semangat literasi begitu tinggi.

Rizal mengatakan, Omah Baca diinginkan mencari tempat bagi anak-anak atau masyarakat sebagai tempat kumpul dan membaca. Termasuk kegiatan literasi. Biasanya anak-anak pulang sekolah atau mengaji, datang ke Omah Baca. Hanya untuk sekedar membaca atau mengerjakan PR.

“Kalau Ramadan begini, anak-anak grudukan datang ke Omah Baca usi tarawih,” ujarnya.

Ukuran perpustakaannya memang hanya 5 kali 6 meter. Namun kegiatan Omah Baca di tempatnya, tak hanya sebagai perpustakaan untuk baca. Ada juga belajar bahasa inggris bersama.

“Termasuk supaya gak bosan, terkadang kami menggelar jelajah alam. Seperti sama-sama jalan-jalan ke sawah, namun bawa buku dan membaca disana sebagai refreshing,” terangnya.

Kendati sudah 3 tahun berdiri, Rizal mengatakan, Omah Baca memang masih butuh banyak pembenahan. Tak hanya membutuhkan lebih banyak koleksi. Inginnya kedepan Omah Baca ingin trus berinovasi sehingga menjadi magnet bagi masyarakat sekitar.

Meskipun pekerjaannya sendiri sebagai PKL, Rizal mengaku tak minder. Menurutnya asalnya pekerjaan halal dan bisa tetap berkontribusi kepada sekitar, Rizal mengaku tetap bangga pada pekerjaannya.

“Untuk mendirikan Omah Baca sendiri memang ada suka dukanya, namun ketika ide kita bisa diterima dengan baik dan diapresiasi, itu sudah menjadi kepuasaan tersendiri. Apalagi kalau melihat adik-adik didikan juga ikut suka membaca dan ngomong Bahasa Inggris, menjadi kesenangan tersendiri,” tutupnya. (eka/fun)