Nih Dia, Tim Al Banjari dari Lapas Pasuruan

Banyak cara bisa dilakukan untuk meperdalam pengetahuan agama dan mendekat kepada Allah SWT. Salah satunya melalui mencintai dan bersalawat kepada Rasulullah SAW. Seperti dilakukan Lapas Klas IIB Pasuruan. Mereka mengenalkan salawat pada Rasulullah SAW melalui seni Al Banjari.

————-

Sejumlah pria tampak memadati ruang aula Lapas Klas IIB Pasuruan. Ada yang memegang penabuh dan ada pula yang memegang mik. Tak lama kemudian, lantunan salawat terdengar dari mereka. Syair itu dibawakan dengan penuh penghayatan.

Begitulah pemandangan yang rutin terlihat setiap Rabu di aula Lapas Klas IIB Pasuruan. Maklum, Lapas Pasuruan rutin mengadakan kegiatan seni Al Banjari, setiap pekan. Kegiatan ini rutin dilaksanakan bersama warga binaan.

Kasi Pembinaan Napi, Anak Didik, dan Kegiatan Kerja Lapas Klas IIB Pasuruan Anggre Anandayu mengatakan, seni Al Banjari dilaksanakan sepekan sekali pada Rabu. Kegiatan ini bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pasuruan.

Anggre menjelaskan, Al Banjari ini memiliki manfaat sebagai media dakwah untuk meningkatkan kecintaan pada Rasulullah SAW melalui salawat. Kebetulan, banyak warga binaan masih asing dengan salawat.

“Jangankan salawat yang merupakan ibadah sunah bagi umat Islam. Yang wajib saja seperti salat kerap ditinggalkan. Inilah yang hendak kami hapus sedikit demi sedikit di kalangan warga binaan Lapas Pasuruan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seni Al Banjari ini dilaksanakan secara bergantian oleh warga binaan di setiap blok. Karena ada empat blok di Lapas Pasuruan, maka setiap warga binaan memiliki kesempatan minimal sebulan sekali untuk mendalami salawat.

Agar salawat menjadi kebiasaan rutin bagi setiap warga binaan, Lapas sering menyelipkan pengertian salawat dan manfaatnya setiap pengajian rutin pada Senin, Selasa, dan Kamis. Ternyata hal ini sangat berdampak positif.

Mereka menjadi tidak asing dengan salawat. Warga binaan kerap mempraktikan langsung di sela-sela saat mereka menunggu materi Al Banjari dari ustad. Alhasil, mereka juga menjadi senang untuk bersalawat.

Menurutnya, tim inti Al Banjari terdiri atas 10 sampai 15 orang. Tujuh orang sebagai penabuh, satu orang sebagai vokal, dan sisanya bertindak sebagai backing vocal. Mereka juga sering diterjunkan setiap ada acara seremonial di Lapas Pasuruan.

“Setiap kali ada momen keagamaan maupun kegiatan di Lapas Pasuruan, tim Al Banjari ikut kami tampilkan. Mereka juga sangat senang melakukannya, karena bisa tampil. Ini bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari agar rutin dipraktikkan,” ujar Anggre.

Salah satu warga binaan Lapas setempat yang menjadi anggota Al Banjari, Yasin mengatakan, sangat senang bisa tergabung dalam tim Al Banjari Lapas Pasuruan. Ia mengaku, sebelumnya sama sekali tidak mengetahui apa itu salawat.

“Di kampung, saya tidak pernah mengikuti yang namanya salawat. Makanya, saya buta sama sekali tentang salawat. Alhamdulillah, saya dikenalkan di sini. Saya sangat senang dan akan mempraktikkannya di masyarakat usai keluar dari Lapas,” janjinya. (riz/rud)