Sinematografi Bayt Al Hikmah, Berdakwah lewat Film Pendek

BERBAGI ILMU: Kepala Pesantren Bayt Al Hikmah M. Nailur Rohman memberikan pengajian. Cuplikan video ini sudah diunggah ke Instagram. (Ponpes Bayt Al Hikmah For Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Ada banyak cara untuk mensyiarkan agama Islam. Salah satunya melalui media sosial (medsos). Seperti dilakukan Ponpes Bayt Al Hikmah Kota Pasuruan. Sejumlah santri menggunakan Instagram dan YouTube untuk mengajak masyarakat pada jalan Allah SWT.

————-

Sejumlah pria tampak berada di sebuah ruang aula Ponpes Bayt Al Hikmah. Mereka duduk secara melingkar. Di depannya ada sebuah laptop dan kamera. Mereka tampak sibuk. Ada yang memasukkan file ke laptop dan ada pula yang mengedit gambar dan video.

Pemandangan ini sering terlihat saban hari di ruang aula Ponpes Bayt Al Hikmah. Maklum, sejumlah santri yang tergabung dalam Kelompok Sinematografi ini rutin membuat film pendek dan potongan pengajian untuk di unggah ke medsos.

Sutradara Sinematografi Ponpes Bayt Al Hikmah Nurul Hidayatullah mengatakan, timnya memiliki dua cara untuk menyampaikan ajaran Islam. Pertama, membuat cuplikan video pengajian rutin harian, mingguan, dan bulanan yang biasa diadakan di Ponpes Bayt Al Hikmah.

Tema pengajian sendiri disesuaikan fenomena di masyarakat. Mulai Hari Santri sampai Ramadan. Penceramahnya juga gantian. Ada Habib Taufiq Assegaf Pasuruan, K.H. Marzuki Mustammar Malang, sampai Syekh Ahmad Kaftaro dari Syiria.

Video pengajian berdurasi dua jam ini dipilih intisarinya selama satu menit. Cuplikan video ini lantas di unggah ke Instagram. Agar lebih menarik, pihaknya juga memberikan backsound berupa aransemen musik.

“Musik untuk back sound-nya kami ciptakan sendiri. Kami rutin unggah video setiap hari, jika tidak ada pengajian, kami biasanya mengisi halaman Instagram dengan poster berisi nasihat. Seperti keutamaan Ramadan dan lainnya,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Ujang ini menjelaskan, ide membuat cuplikan video pengajian ini tidak terlepas dari banyaknya alumni yang tidak bisa menghadiri secara langsung. Sehingga, mereka tetap bisa mengikuti pengajian secara online.

“Masyarakat juga jarang yang bisa menghadiri pengajian secara langsung. Makanya ada inisiatif untuk membuat cuplikan video pengajian. Agar tidak membosankan dan pesannya tersampaikan, kami buat durasi video satu menit saja,” jelasnya.

Pria asli Cirebon, Jawa Barat, ini menyebut timnya juga rutin membuat film pendek. Sejauh ini, ada delapan film pendek yang sudah dibuat dan diunggah di chanel YouTube. Kisahnya berasal dari pengalaman para santri.

Durasi film pendek paling lama delapan menit. Meski cukup pendek, proses pembuatannya bisa memakan waktu sebulan mulai pembuatan naskah sampai proses editing. Pengambilan gambarnya dilakukan di dalam dan luar pesantren. Dalam film pendek ini, pihaknya selalu menyelipkan pesan moral baik sosial maupun ekonomi.

Menurutnya, kini kru Sinematografi Bayt Al Hikmah berjumlah 40 orang dan dibentuk sejak 2018. Agar tidak mengganggu kegiatan rutin sebagai santri, pembuatan video dan film pendek dilakukan saat jam istirahat.

“Kami terinspirasi dari pondok besar lainnya di Indonesia. Kami pun ingin ada timbal balik pada Ponpes yang sudah mencerdaskan kami. Dengan membuat film pendek, kami bisa berdakwah secara menghibur juga dapat membesarkan nama Bayt Al Hikmah,” ujarnya. (riz/rud)