Nih Dia, Anak Wawali Probolinggo yang Jualan di Bazar Ramadan

Menjadi putri orang nomor 2 di Kota Probolinggo, tidak menjadikan Sayyidah Rafi Dianya Shabri hanya menikmati fasilitas orang tua saja. Putri Wakil Wali Kota Probolinggo Mochamad Soufis Subri ini, terbiasa mengelola keuangan dengan mandiri. Bahkan, kini ia merintis usaha minuman Summer Brie dari tabungannya.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

Sabtu sore, suasana di Bazar Ramadan Alun-alun Kota Pobolinggo ramai dengan aktivitas pedagang dan pengunjung bazar. Ada yang datang bersama teman-temannya, ada yang datang bersama pasangan dan anak-anaknya. Tapi, tak sedikit pengunjung yang datang sendiri untuk menjajal kuliner yang dijual untuk takjil.

Ada sekitar seratus lebih pedagang yang berjualan di Bazar Ramadan. Mereka menjual makanan rumahan, snack, bahkan ada juga yang menjual hidangan penutup dengan penampilan yang menarik.

Salah satu di antara ratusan pedagang yang berjualan adalah Sayyidah Rafi Dianya Shabri, 19. Ia membuka stan berupa hidangan penutup. Tak sekadar memajang display produk kulinernya, Say –sapaan akrab Sayyidah- juga rajin memasarkan dagangannya.

Sayyidah menjual hidangan penutup yang terdiri atas gabungan brownies serta es krim dengan 3 varian rasa. Serta, ada teh susu atau lebih dikenal dengan Thai Tea yang dikemas dalam botol.

Kepada harian ini, ia menuturkan bahwa usaha tersebut sudah dijalaninya beberapa bulan terakhir. “Idenya adalah makanan kekinian artis yang berkembang sekarang ini dan makanan dengan lapisan layer-layer itu,” ujarnya.

Mahasiswi Universitas Brawijaya ini kemudian mencoba membuat resep makanan dari brownies, kemudian dilapisi dengan bahan-bahan lain seperti es krim, coklat, dan keju. “Supaya tahu respons untuk makanan ini, saya coba berikan tester kepada orang-orang yang tidak dikenal. Ternyata responsnya bagus,” ujarnya.

Mendapat respons yang bagus dari pengunjung, Sayyidah kemudian mencoba memberikan tester kepada orang-orang terdekatnya. “Saya coba ke Abah sama Umi. Kata Abah enak kuenya,” ujarnya. Respons positif ini kemudian membuat Sayyidah semakin mantap untuk membuka usaha kuliner bernama Summer Brie.

“Summer itu identik dengan Kota Probolinggo yang panas. Kalau Brie itu bisa dari nama keluarga Shabri atau Abah. Tapi, bisa juga kalau orang kedinginan itu menggigil sampai keluar suara Brrr,” ujarnya saat menceritakan asal nama produk yang dipasarkan.

Sayyidah membentuk tim dalam mengembangkan usahanya. Mulai dari tim produksi, pemasaran, sampai desain. “Kalau ditanya modal dari mana, jujur dari Abah tidak ada. Dari keluarga juga tidak ada. Saya ambil dari tabungan pribadi,” ujarnya ramah. Namun, Sayyidah enggan menyebutkan nominalnya. “Modal itu untuk meng-cover peralatan,” tambahnya.

Sebagai anak muda yang lekat dengan gadget, Sayyidah memanfaatkan betul media sosial untuk memasarkan produknya. Melalui akun Instagram salah satu media pemasaran yang digunakan. “Kadang di Malang saya juga buka sistem PO yang mau pesan Summer Brie. Produksi di Kota Probolinggo, dibawa ke Malang. Alhamdulillah habis,” ujarnya.

Meskipun usahanya masih tergolong baru, Sayyidah tidak takut untuk mencoba berbagai marketing pemasaran. Salah satunya menjadi sponsorship dalam kegiatan di SMA Taruna Zulaeha. Tempatnya menimba ilmu dulu. “Ternyata responsnya bagus di sana. Penjualan produk juga bagus, awal-awal sekali produksi 50 cup, sekarang sudah 2 kali lipat dan habis,” ujarnya.

Mahasiswi jurusan arsitektur UB ini mengaku sudah terbiasa dengan kegiatan pedagangan. Sejak anak-anak pun secara tidak disadarinya telah mempraktikkan kegiatan perdagangan. “Dulu jualan stiker ke teman-teman. Waktu SD punya koleksi pensil juga dijual-jualkan,” ujarnya.

“Abah dan Umi dukung waktu saya memulai bisnis ini. Mereka men-support dan memberikan motivasi agar jangan takut rugi. Jangan takut dengan tantangan dalam usaha,” tambahnya.

Namun, cerita keterlibatan Sayyidah dalam bisnis ternyata jauh lebih panjang. Hal ini diungkapkan oleh sang ayah, Soufis Subri. “Sejak kecil, Rafi (sapaan Sayyidah di keluarga, Red) ‘gemi’ mengatur uangnya. Uang angpao yang diterima dari saya, ibu, bude-nya disimpan. Sampai jumlahnya cukup besar dititipkan pada ibunya,” ujar Subri saat ditemui di kantor Pemkot Probolinggo.

“Saya coba tawarkan biar saya simpan, dia gak mau. Katanya takut dibelikan semen,” tambahnya sambil tertawa. Pria yang juga seorang kontraktor ini memberikan kepercayaan kepada Sayyidah untuk mengelola keuangannya. Termasuk dalam biaya pendidikan, Sayyidah menghitung sendiri kebutuhannya.

“Tapi kalau biaya pendidikannya kurang, saya tegaskan kepadanya kalau Abah tidak tambahi. Akhirnya ya dihitung dengan ada tambahan-tambahan karena takut kurang juga,” ujarnya.

Subri mengaku tidak melarang putrinya untuk menjalankan usaha. Meskipun bidang usaha ini jauh dari latar belakang pendidikan Sayyidah. “Saya mendukung dalam bisnis ini. Meskipun tidak liniar dengan pendidikan, tapi berdagang ini juga bagian dari pengalaman juga,” ujarnya. (rf)